-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Kemarau Melanda, Ponpes Al-Iman Sidrap Gelar Salat Istisqa, Mohon Hujan dan Rahmat Allah SWT

    Satry Polang
    Jumat, 07 Agustus 2026, Agustus 07, 2026 WIB Last Updated 2026-08-07T20:58:40Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Kemarau Melanda, Ponpes Al-Iman Sidrap Gelar Salat Istisqa, Mohon Hujan dan Rahmat Allah SWT


    SIDRAP — Kemarau yang masih dirasakan masyarakat menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.


    Di tengah kondisi tersebut, Pondok Pesantren Al-Iman DPD Wahdah Islamiyah Sidrap menggelar Salat Istisqa, sebuah ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus memohon ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah SWT.


    Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk menghadapi kondisi kemarau tidak hanya dengan ikhtiar lahiriah, tetapi juga dengan memperkuat doa dan introspeksi diri.

    Salat Istisqa menjadi simbol kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta.


    Ketika hujan belum kunjung turun dan kondisi kemarau mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, manusia diingatkan bahwa ada banyak hal yang berada di luar kendalinya.

    Di situlah doa menjadi bagian dari ikhtiar.


    Kembali kepada Allah di Tengah Kemarau

    Kemarau bukan hanya persoalan cuaca.

    Bagi masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, peternakan, dan berbagai aktivitas lainnya, musim kering dapat menjadi tantangan yang cukup berat.


    Karena itu, penyelenggaraan Salat Istisqa di Ponpes Al-Iman Sidrap menjadi momentum untuk mengajak umat bersama-sama bermunajat.

    Pesan yang dibangun sederhana: ketika menghadapi kesulitan, manusia perlu kembali mengingat Allah SWT, memohon ampunan, sekaligus terus berikhtiar.


    Salat Istisqa juga menjadi ruang refleksi agar manusia semakin menyadari keterbatasan dirinya dan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT serta lingkungan kehidupan.


    Ustadz H. Muhammad Said Saad, Lc. Bertindak sebagai Khatib

    Dalam pelaksanaan Salat Istisqa tersebut, Ustadz H. Muhammad Said Saad, Lc., selaku Penasihat Pondok Pesantren Al-Iman Sidrap, dipercaya menjadi khatib.

    Peran khatib menjadi penting dalam memberikan penguatan spiritual kepada jamaah.


    Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk mengajak umat melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar, memperkuat doa, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.


    Dalam konteks kemarau, pesan spiritual seperti ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya memikirkan persoalan kekeringan dari sisi fisik, tetapi juga melihatnya sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.


    Ustadz Alfajrin Jufri, S.Pd. Pimpin Salat

    Sementara itu, Ustadz Alfajrin Jufri, S.Pd., yang merupakan Muhafidzh dan Pembina Ponpes Al-Iman, bertindak sebagai imam.


    Keterlibatan unsur pembina dan pendidik pesantren memperlihatkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan keagamaan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Iman Sidrap.


    Salat Istisqa bukan sekadar kegiatan seremonial.

    Ia mengandung pesan tentang kerendahan hati, pengharapan, doa, dan kesadaran bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah SWT.


    Salat Istisqa, Ikhtiar Spiritual Menghadapi Kemarau

    Dalam tradisi Islam, Salat Istisqa dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan.

    Namun, makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih luas.


    Ia mengajarkan manusia untuk menyadari bahwa kehidupan sangat bergantung pada rahmat Allah.

    Air menjadi salah satu kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan.


    Tanpa air, aktivitas manusia, pertanian, hewan, dan berbagai ekosistem akan menghadapi tekanan.

    Karena itu, doa memohon hujan juga dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran tentang pentingnya menjaga air dan lingkungan.


    Doa berjalan bersama ikhtiar.

    Masyarakat tetap perlu melakukan berbagai langkah nyata dalam menghadapi kemarau, sementara secara spiritual umat memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT.


    Lima Fakta Menarik Salat Istisqa Ponpes Al-Iman Sidrap

    1. Digelar di tengah kondisi kemarau
    Salat Istisqa menjadi momentum spiritual ketika masyarakat Sidrap sedang merasakan kondisi musim kemarau.

    2. Diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Iman
    Kegiatan digelar oleh Pondok Pesantren Al-Iman DPD Wahdah Islamiyah Sidrap.

    3. Khatibnya merupakan penasihat pesantren
    Ustadz H. Muhammad Said Saad, Lc., selaku Penasihat Pondok Pesantren Al-Iman Sidrap, dipercaya menyampaikan khutbah.

    4. Imam berasal dari unsur pembina pesantren
    Salat dipimpin Ustadz Alfajrin Jufri, S.Pd., Muhafidzh dan Pembina Ponpes Al-Iman.

    5. Menggabungkan doa dan introspeksi
    Momentum Salat Istisqa menjadi ajakan untuk memohon hujan sekaligus memperbanyak istighfar, introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


    Kemarau Mengajarkan Manusia Arti Ketergantungan

    Ada saatnya manusia merasa mampu mengendalikan banyak hal.

    Namun ketika air mulai sulit diperoleh dan hujan belum turun, manusia kembali diingatkan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar.


    Kemarau mengajarkan tentang kesabaran.

    Kekeringan mengajarkan tentang kepedulian.

    Dan Salat Istisqa mengajarkan tentang kerendahan hati.


    Di tengah kondisi tersebut, umat diajak untuk tidak berhenti berusaha.

    Berdoa bukan berarti meninggalkan ikhtiar.


    Sebaliknya, doa menjadi penguat hati agar manusia tetap sabar menjalani ujian dan terus melakukan langkah nyata menghadapi kondisi yang ada.


    Saat Langit Belum Menurunkan Hujan

    Ketika langit masih terlihat kering, manusia hanya bisa menengadah dengan penuh harap.

    Memohon agar hujan diturunkan.

    Memohon agar tanah kembali basah.


    Memohon agar sumber-sumber air kembali terisi.

    Dan memohon agar masyarakat diberikan kekuatan menghadapi musim kemarau.


    Salat Istisqa di Pondok Pesantren Al-Iman Sidrap menjadi salah satu bentuk ikhtiar tersebut.

    Bukan sekadar tentang meminta hujan, tetapi juga tentang kembali mengingat siapa tempat manusia menggantungkan harapan.


    Semoga doa yang dipanjatkan menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT, membawa keberkahan bagi masyarakat Sidrap, menyuburkan kembali tanah-tanah yang kering, serta memberikan kecukupan air bagi seluruh makhluk.


    Karena ketika manusia menengadah dengan hati yang rendah, selalu ada harapan bahwa langit akan kembali membawa rahmat.

    Komentar

    Tampilkan