![]() |
| Tanam 1.000 Mangrove di HUT RI, HPMT UINAM Jadikan Usia 34 Tahun sebagai Gerakan Menjaga Pesisir Desa Pao |
JENEPONTO, NARASIRAKYAT.ID — Kemerdekaan tidak selalu harus dirayakan dengan panggung, perlombaan, atau seremoni. Di pesisir Desa Pao, sebuah bentuk perayaan yang berbeda hadir melalui lumpur, air laut, dan ribuan harapan yang ditanam bersama.
Memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Milad ke-34 Himpunan Pelajar Mahasiswa Turatea (HPMT) Komisariat UIN Alauddin Makassar (UINAM), para mahasiswa memilih merayakan momentum bersejarah tersebut dengan aksi nyata: menanam 1.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Pao.
Gerakan tersebut menjadi lebih dari sekadar kegiatan lingkungan. Ia hadir sebagai refleksi tentang arti kemerdekaan sekaligus bentuk kepedulian generasi muda terhadap kawasan pesisir yang menghadapi ancaman abrasi dan tekanan terhadap ekosistem laut.
Bagi HPMT UINAM, menanam mangrove berarti menanam sesuatu yang manfaatnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan dirasakan oleh generasi yang datang bertahun-tahun kemudian.
Ketika Kemerdekaan Turun ke Lumpur Pesisir
Setiap Agustus, kata kemerdekaan kembali memenuhi ruang publik.
Bendera Merah Putih berkibar. Upacara digelar. Berbagai perlombaan meramaikan kampung dan sekolah. Namun, bagi sebagian anak muda, perayaan kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk bertanya: apa arti kemerdekaan ketika ruang hidup masyarakat terus menghadapi kerusakan lingkungan?
Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam gerakan yang dilakukan HPMT UINAM.
Alih-alih berhenti pada seremoni, mahasiswa turun langsung ke pesisir Desa Pao. Mereka menyusuri kawasan berlumpur, membawa bibit, menancapkannya ke tanah dan memastikan tanaman mangrove mendapat ruang untuk tumbuh.
Gerakan sederhana itu menyampaikan pesan kuat: kemerdekaan juga berarti memiliki lingkungan yang layak untuk dihuni dan diwariskan.
1.000 Bibit, 1.000 Harapan
Angka 1.000 bibit mangrove bukan sekadar jumlah yang tercatat dalam sebuah laporan kegiatan.
Setiap bibit adalah simbol harapan.
Mangrove dikenal sebagai salah satu ekosistem penting kawasan pesisir. Keberadaannya berperan dalam menjaga kawasan pantai, menjadi habitat berbagai organisme serta membantu menopang keseimbangan ekosistem pesisir.
Karena itu, penanaman mangrove menjadi bentuk intervensi langsung yang sederhana tetapi memiliki nilai ekologis jangka panjang.
Di tangan mahasiswa, kegiatan tersebut berubah menjadi pesan sosial: kerusakan lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan. Harus ada tindakan.
Satu bibit mungkin terlihat kecil ketika baru ditanam. Tetapi jika dirawat dan tumbuh bersama ribuan tanaman lainnya, ia dapat menjadi bagian dari benteng alami pesisir.
Milad ke-34: Usia Organisasi yang Menjadi Momentum Refleksi
Ada alasan lain mengapa kegiatan tersebut terasa istimewa.
Penanaman mangrove dilakukan bertepatan dengan Milad ke-34 HPMT UINAM.
Tiga puluh empat tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah organisasi mahasiswa. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang, pergantian generasi, dinamika organisasi dan berbagai pengalaman pengabdian.
Momentum milad kemudian tidak hanya menjadi ruang untuk merayakan keberadaan organisasi, tetapi juga kesempatan untuk bertanya tentang warisan apa yang ingin ditinggalkan.
Jika generasi sebelumnya meninggalkan gagasan, gerakan dan pengalaman organisasi, generasi hari ini dapat meninggalkan sesuatu yang lebih konkret: pesisir yang lebih terlindungi.
Dengan demikian, milad dan peringatan kemerdekaan bertemu dalam satu pesan: organisasi yang matang bukan hanya organisasi yang mampu bertahan, tetapi juga organisasi yang mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Ketika Mahasiswa Memilih Bergerak
Isu lingkungan sering kali terdengar besar.
Abrasi, perubahan garis pantai, kerusakan ekosistem dan tekanan terhadap sumber daya laut merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Namun, persoalan besar tidak selalu harus dijawab dengan tindakan yang rumit.
HPMT UINAM memilih memulai dari sesuatu yang dapat dilakukan: menanam.
Gerakan tersebut menunjukkan pengalaman lapangan yang penting bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya berbicara mengenai lingkungan dari ruang diskusi, tetapi berhadapan langsung dengan kondisi pesisir.
Di sanalah pendidikan menemukan bentuk lain.
Mahasiswa belajar bahwa lingkungan bukan sekadar materi dalam diskusi atau tema kegiatan. Lingkungan adalah ruang hidup masyarakat yang harus dijaga bersama.
Lebih dari Seremoni
Kegiatan penanaman 1.000 mangrove juga membawa kritik reflektif terhadap pola perayaan lingkungan yang berhenti pada seremoni.
Menanam mangrove bukanlah akhir dari pekerjaan.
Bibit yang telah ditanam membutuhkan pemantauan dan perawatan agar mampu tumbuh. Karena itu, keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari berapa banyak bibit yang masuk ke tanah pada hari pelaksanaan, tetapi juga dari keberlanjutan setelah kegiatan selesai.
Di titik inilah gerakan mahasiswa memiliki tantangan sekaligus peluang.
Jika penanaman diikuti dengan pemeliharaan, edukasi masyarakat, pemantauan pertumbuhan dan kegiatan lanjutan, maka 1.000 bibit tersebut dapat berkembang menjadi gerakan konservasi yang lebih berkelanjutan.
Lima Fakta Menarik Gerakan Mangrove HPMT UINAM
1. Sebanyak 1.000 bibit mangrove ditanam
HPMT UINAM menjadikan penanaman 1.000 bibit mangrove sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap kawasan pesisir.
2. Lokasinya di pesisir Desa Pao
Aksi lingkungan tersebut menyasar kawasan pesisir Desa Pao yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus bagian penting dari ekosistem pantai.
3. Bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan RI
Gerakan penanaman mangrove menjadi bentuk alternatif perayaan kemerdekaan yang menekankan aksi nyata dan kepedulian terhadap lingkungan.
4. Sekaligus memperingati Milad ke-34 HPMT UINAM
Dua momentum penting—kemerdekaan Indonesia dan perjalanan 34 tahun organisasi—dipertemukan melalui satu kegiatan pengabdian lingkungan.
5. Membawa pesan antargenerasi
Bibit mangrove yang ditanam hari ini tidak hanya ditujukan untuk manfaat jangka pendek, tetapi menjadi investasi ekologis agar generasi mendatang tetap memiliki pesisir yang sehat dan lestari.
Menanam Mangrove, Menanam Masa Depan
Di tengah perayaan kemerdekaan yang penuh warna, HPMT UINAM memilih sebuah cara yang mungkin sederhana tetapi memiliki makna panjang.
Mereka menanam.
Mungkin tidak ada tepuk tangan sebesar panggung perayaan. Tidak ada sorotan lampu. Tidak ada podium kemenangan.
Yang ada hanyalah tanah berlumpur, bibit kecil dan tangan-tangan yang bekerja.
Namun, justru dari sanalah pesan kemerdekaan menemukan bentuknya.
Sebab bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung dan jalan, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga tanah, laut dan lingkungan yang menjadi warisan bersama.
Memasuki usia ke-34, HPMT UINAM menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang lahirnya gagasan sekaligus tindakan.
1.000 bibit mangrove mungkin belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan pesisir. Tetapi 1.000 bibit itu telah menanam satu hal yang jauh lebih penting: kesadaran.
Kesadaran bahwa pesisir harus dijaga.
Kesadaran bahwa kerusakan lingkungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan orang lain.
Dan kesadaran bahwa kemerdekaan akan menjadi lebih bermakna ketika dirayakan dengan tindakan yang memberi kehidupan.
Karena setiap mangrove yang ditanam hari ini adalah pesan untuk masa depan: bahwa kita pernah peduli, pernah bergerak, dan pernah berusaha menjaga bumi untuk generasi berikutnya.















