![]() |
| Yayasan Sehati Group Anugerahi Bupati dan Wakil Bupati Sidrap Gelar Bapak dan Ibu Saromase Sidenreng Rappang |
SIDRAP, NARASIRAKYAT.ID — Nilai kebaikan, ketulusan, dan kepedulian terhadap sesama kembali mendapat ruang dalam kegiatan Bakti Sosial Peduli Sesama yang digelar Yayasan Sehati Group bersama Pesantren Sehati dan Ikatan 94 Alumni SMA Negeri 06 Makassar.
Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Sehati, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), 29–30 Agustus 2026, tersebut tidak hanya menghadirkan pelayanan sosial bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memberikan penghargaan kepada pemimpin daerah.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Yayasan Sehati Group memberikan penghargaan kepada Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Sidrap Nur Kanaah sebagai Bapak dan Ibu Saromase Sidenreng Rappang.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Pimpinan Pesantren Sehati, Dr. Wahidin Ar Rafany, didampingi Pembina Yayasan Sehati Group, H. Kurdi.
Pemberian gelar tersebut menjadi simbol apresiasi terhadap semangat pengabdian dan kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinan Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Bekerja untuk Masyarakat Tanpa Mengharap Penghargaan
Wakil Bupati Sidrap, Nur Kanaah, menyampaikan bahwa dirinya bersama Bupati H. Syaharuddin Alrif menjalankan amanah pemerintahan dengan ketulusan dan keikhlasan.
Menurutnya, setiap bentuk pengabdian kepada masyarakat pada dasarnya merupakan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan demi mengejar penghargaan.
Ia pun menyambut baik penghargaan yang diberikan Yayasan Sehati Group sebagai bentuk perhatian sekaligus apresiasi dari masyarakat.
Bagi Nur Kanaah, penghargaan tersebut bukan semata-mata tentang gelar, tetapi menjadi pengingat bahwa kerja-kerja pelayanan publik harus terus berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Saromase, Ketika Kebaikan Menjadi Identitas
Pemilihan istilah “Saromase” dalam penghargaan tersebut memiliki makna yang kuat dalam konteks sosial dan budaya masyarakat Bugis, khususnya di Kabupaten Sidrap.
Saromase merepresentasikan nilai kebaikan, ketulusan, kepedulian, suka menolong, dan berbagi tanpa pamrih.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan Yayasan Sehati Group. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dipertemukan dalam suasana kebersamaan dan silaturahmi.
Dalam kearifan lokal Bugis, semangat kebaikan seperti ini kerap dipandang sebagai bekal budi pekerti atau bokong temmawari—sebuah warisan moral yang nilainya tidak lekang oleh waktu.
Karena itu, gelar Bapak dan Ibu Saromase Sidenreng Rappang dapat dipandang sebagai simbol penghargaan terhadap semangat pengabdian, kepedulian sosial, serta upaya membangun daerah melalui nilai-nilai kebersamaan.
Bakti Sosial Hadirkan Pelayanan Langsung untuk Masyarakat
Rangkaian Bakti Sosial Peduli Sesama menghadirkan sejumlah kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Di antaranya pemeriksaan kesehatan gratis, sunat gratis, berbagi bersama panti asuhan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serta kegiatan kebersamaan dan silaturahmi.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian sosial tidak harus selalu hadir dalam bentuk besar. Pelayanan kesehatan sederhana, perhatian kepada anak-anak, berbagi dengan panti asuhan, hingga menyediakan ruang untuk bersilaturahmi merupakan bentuk nyata kepedulian yang memiliki dampak sosial.
Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan. Sejumlah unsur Forkopimda serta Forkopimcam Baranti turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran unsur pemerintahan dan masyarakat memperlihatkan kuatnya semangat kolaborasi dalam mendukung kegiatan sosial di tingkat lokal.
Temu Kangen Alumni Bertransformasi Menjadi Gerakan Sosial
Menariknya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari Temu Kangen Sahabat 94 pertemuan alumni yang pada awalnya menjadi momentum mengenang kembali persahabatan masa sekolah kemudian dikemas dengan semangat berbagi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kolaborasi Pesantren Sehati dan Ikatan 94 Alumni SMA Negeri 06 Makassar, Tim Kesehatan Polres Sidrap menunjukkan bahwa ikatan alumni tidak harus berhenti pada nostalgia.
Persahabatan yang dibangun puluhan tahun lalu justru dapat menjadi energi untuk menghadirkan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di sinilah nilai saromase menemukan bentuk konkretnya: bersama-sama melakukan kebaikan tanpa menjadikan balasan sebagai tujuan utama.
Lima Fakta Menarik di Balik Bakti Sosial Sehati
1. Bupati dan Wakil Bupati Sidrap mendapat gelar Saromase
Yayasan Sehati Group memberikan apresiasi khusus kepada H. Syaharuddin Alrif dan Nur Kanaah sebagai Bapak dan Ibu Saromase Sidenreng Rappang.
2. Bakti sosial menghadirkan layanan kesehatan gratis
Masyarakat mendapatkan akses pemeriksaan kesehatan tanpa biaya sebagai bagian dari pelayanan sosial.
3. Sunat gratis menjadi salah satu kegiatan utama
Kegiatan ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya keluarga yang membutuhkan pelayanan sunat bagi anak-anak.
4. Alumni 94 mengubah temu kangen menjadi gerakan berbagi
Momentum silaturahmi alumni SMA Negeri 06 Makassar tidak sekadar menjadi ajang reuni, tetapi dikembangkan menjadi kegiatan sosial dan kepedulian terhadap sesama.
5. Nilai lokal Saromase dihidupkan melalui aksi nyata
Saromase bukan hanya istilah budaya, tetapi diterjemahkan melalui kegiatan berbagi, pelayanan, kepedulian, dan kebersamaan.
Lebih dari Sekadar Acara
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, kegiatan sosial seperti ini mengingatkan bahwa pembangunan daerah bukan hanya berbicara tentang infrastruktur, ekonomi, maupun angka-angka statistik.
Ada dimensi kemanusiaan yang tidak kalah penting: kepedulian terhadap sesama.
Ketika masyarakat sehat, anak-anak mendapatkan perhatian, panti asuhan tidak dilupakan, dan hubungan antarsesama terus dirawat, sesungguhnya sedang dibangun fondasi sosial yang kuat.
Semangat itulah yang tercermin dalam tagline kegiatan:
“Bersama Kita Berbagi, Menebar Manfaat, Merajut Persaudaraan.”
Sebuah pesan sederhana, tetapi memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa besar yang diberikan, melainkan dari seberapa tulus seseorang hadir untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Dan di Bumi Nene Mallomo, nilai saromase kembali menemukan ruang untuk tumbuh—bukan sekadar sebagai slogan, tetapi melalui tindakan nyata yang dirasakan masyarakat.
Bersama berbagi, bersama peduli, bersama menjaga persaudaraan.
Itulah wajah saromase yang sesungguhnya.















