![]() |
| Aksi di Hari Sumpah Pemuda! Komunitas BDM Sidrap Hadiahi Guru Mengaji Kampung, Kisah Pak Nurdin Bikin Haru |
SIDRAP, NarasiRakyat.id – Di usianya yang menginjak 69 tahun, Muh. Nurdin masih setia meluangkan waktunya setiap siang hingga sore untuk mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an. Tanpa memungut bayaran, tanpa mengharapkan imbalan, ia terus menjalani pengabdian sederhana yang telah berlangsung selama delapan tahun.
Di sebuah lorong di Jalan Andi Pangeran Pettarani, Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), rumah sederhana menjadi tempat anak-anak belajar mengenal huruf demi huruf Al-Qur’an.
Warga sekitar mengenalnya sebagai Pak Nurdin atau Pak Undin. Dari tangan dan kesabarannya, sebanyak 14 anak saat ini belajar mengaji setiap hari.
Namun, di balik pengabdian yang berjalan sederhana itu, ada kisah yang menyentuh hati. Selama delapan tahun mengajar mengaji, Pak Nurdin mengaku baru kali ini menerima hadiah secara khusus sebagai bentuk perhatian atas pengabdiannya.
Momen istimewa itu hadir menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, melalui kunjungan komunitas Bangkit dari Masjid (BDM) yang datang bersilaturahmi sekaligus mengantarkan hadiah titipan para donatur.
Delapan Tahun Mengajar, Tak Pernah Membebani Santri
Setiap hari sekitar pukul 14.00 WITA hingga sore, Pak Nurdin meluangkan waktunya untuk kegiatan mappangaji atau mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an.
Awalnya, anak-anak yang datang mengaji hanya berasal dari lingkungan sekitar rumahnya. Seiring waktu, pengabdian tersebut memberikan hasil yang membanggakan.
"Awalnya anak-anak di sekitar sini. Tapi Alhamdulillah, sampai sekarang sudah banyakmi juga yang tamat dari didikan saya," tutur Pak Nurdin.
Baginya, mengajarkan Al-Qur’an bukanlah pekerjaan untuk mencari penghasilan. Ia justru merasa bahagia ketika melihat anak-anak mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan menyelesaikan proses belajar mereka.
Ia juga mengaku tidak pernah membebani para santrinya dengan kewajiban membayar biaya mengaji.
"Saya tidak pernah bebani anak-anak untuk membayar selama mengaji di saya. Kebetulan rata-rata dari keluarga dan tetangga. Paling setelah mengaji mereka membersihkan dan merapikan tempat mengaji, kemudian salat Ashar bersama," ungkapnya.
Kesederhanaan itu menjadi gambaran ketulusan seorang guru mengaji kampung yang terus menjaga tradisi pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Hadiah dari Orang Baik, Amanah yang Diantarkan BDM
Kunjungan komunitas Bangkit dari Masjid (BDM) menjadi kejutan sekaligus kebahagiaan tersendiri bagi Pak Nurdin.
Kedatangan komunitas tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga membawa hadiah dari para donatur yang menitipkan amanah melalui BDM untuk diberikan kepada guru mengaji kampung.
Bendahara BDM, Amran, menyampaikan bahwa hadiah tersebut merupakan bentuk kepedulian para dermawan terhadap sosok yang selama ini mendedikasikan dirinya untuk pendidikan Al-Qur’an.
"Ini kami dari komunitas BDM datang mengantarkan hadiah untuk Bapak. Ini hadiah dari para orang baik yang menitipkan amanahnya lewat BDM," tutur Amran.
Bagi Pak Nurdin, perhatian tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Dengan penuh rasa syukur, ia mengaku bahagia karena selama mengajar mengaji kurang lebih delapan tahun, baru kali ini mendapatkan hadiah dan kunjungan khusus sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya.
Ia pun menyampaikan doa bagi seluruh pihak yang terlibat, terutama para donatur dan komunitas BDM yang telah memberikan perhatian kepada guru mengaji kampung.
Doa tulus itu menjadi ungkapan terima kasih dari seorang guru yang selama ini lebih banyak memberi daripada menerima.
Bagi BDM, Sumpah Pemuda Harus Diwujudkan dengan Kepedulian
Bagi komunitas Bangkit dari Masjid, kegiatan tersebut memiliki makna lebih dalam daripada sekadar agenda berbagi.
Amran Amkar, yang juga merupakan pengurus Pemuda Pancasila Kabupaten Sidrap, mengatakan bahwa apa yang dilakukan BDM merupakan bentuk tanggung jawab dalam menjaga amanah para donatur sekaligus cara memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda.
"Apa yang kami hadirkan hari ini merupakan tanggung jawab kami atas amanah dari orang baik. Beginilah kami juga memaknai Hari Sumpah Pemuda," tutur Amran.
Menurutnya, semangat kepemudaan tidak cukup diwujudkan melalui janji dan seremonial. Kepedulian terhadap orang-orang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat juga merupakan bagian penting dari pengamalan nilai-nilai Sumpah Pemuda.
"Bagi saya dan kami di BDM, bukan cuma sekadar berjanji. Akan tetapi, kepedulian terhadap orang-orang yang mendedikasikan dirinya, utamanya mappangaji, adalah sebuah harga diri," ungkapnya.
Ia menilai, para guru mengaji kampung memiliki peran besar dalam membentuk generasi yang mengenal Al-Qur’an sejak usia dini.
"Mereka telah mengajar adik-adik kita mengenal bacaan Al-Qur’an dan sepantasnya kita peduli kepada mereka," tambahnya.
Amran berharap perhatian sederhana tersebut menjadi jalan keberkahan bagi semua pihak, baik guru mengaji, para donatur, maupun komunitas yang menjadi penghubung kebaikan.
"Semoga dari membahagiakan mereka ada barakka untuk kita, para donatur. Dan tentu menjadi perisai dari doa mereka, kita dijauhkan dari bencana dan Allah semakin mencukupkan rezeki kita dengan keberkahan," tuturnya.
Empat Tahun Menjadi Kurir Kebaikan
Di balik kegiatan tersebut, ada perjalanan panjang komunitas BDM dalam membangun gerakan kepedulian sosial berbasis masjid.
Abuya Asong mengenang bahwa empat tahun lalu kegiatan mereka bermula dari sebuah kegiatan zikir akbar.
Dari kegiatan tersebut, muncul kesadaran untuk tidak berhenti pada aktivitas mendengarkan ceramah dan mengikuti kegiatan keagamaan semata. Mereka ingin menghadirkan gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi sesama.
"Dari situlah kami mulai mencoba untuk bukan cuma sekadar mendengarkan ceramah tablig akbar, akan tetapi mulai menata hidup bekal akhirat," kenang Abuya Asong.
Perjalanan itu kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang secara konsisten mengantarkan hadiah kepada guru-guru mengaji kampung.
Selama kurang lebih empat tahun, BDM berupaya menjadi penghubung antara para dermawan dan para guru mengaji yang selama ini menjalankan pengabdian dengan segala keterbatasan.
Asong menyebut mereka sebagai "kurir" kebaikan, yakni pihak yang menerima amanah dari orang-orang baik untuk kemudian menyampaikannya kepada para hamba Allah yang dinilai istimewa, khususnya guru mengaji kampung.
"Doakan kami selalu diberi umur dan kesehatan merawat amanah ini untuk menjadi penghubung dari orang baik ke hamba Allah istimewa, para guru mengaji kampung," ujarnya.
Lima Fakta Menarik di Balik Kisah Pak Nurdin dan BDM
- Usia 69 Tahun: Muh. Nurdin tetap aktif mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak.
- Delapan Tahun Pengabdian: Konsisten mengajar mengaji di lingkungan Jalan Andi Pangeran Pettarani, Lorong 1, Pangkajene.
- Empat Belas Santri: Saat ini terdapat 14 anak yang belajar mengaji bersamanya.
- Tanpa Biaya Mengaji: Pak Nurdin tidak membebani santri dengan kewajiban membayar. Anak-anak membantu merapikan tempat mengaji dan melaksanakan salat Ashar bersama.
- Empat Tahun Gerakan BDM: Komunitas Bangkit dari Masjid telah menjalankan peran sebagai penghubung amanah para donatur kepada guru mengaji kampung.
Sumpah Pemuda yang Hidup dalam Aksi Nyata
Kisah Pak Nurdin dan komunitas Bangkit dari Masjid memberikan pelajaran bahwa semangat kepemudaan tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar.
Terkadang, sebuah kunjungan sederhana, hadiah yang diberikan dengan tulus, dan perhatian kepada orang-orang yang selama ini bekerja dalam kesunyian justru memiliki makna yang jauh lebih mendalam.
Pak Nurdin mungkin tidak berdiri di panggung besar. Namanya mungkin tidak dikenal luas. Namun, setiap hari ia telah mengambil bagian dalam menyiapkan generasi yang mampu membaca Al-Qur’an.
Sementara itu, BDM berusaha memastikan bahwa pengabdian seperti itu tidak luput dari perhatian masyarakat.
Di momentum Hari Sumpah Pemuda, gerakan ini mengingatkan bahwa pemuda bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga penjaga nilai-nilai kebaikan hari ini.
Sebab, Sumpah Pemuda tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu dihidupkan melalui tindakan, kepedulian, dan keberanian untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Dari masjid, BDM merawat kepedulian. Dari tangan guru mengaji, generasi Qur’ani terus dilahirkan. Dan dari kebaikan para donatur, kebahagiaan sederhana menjadi pengingat bahwa pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar sendiri.



