-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Empat Tahun Berbagi, BDM Sidrap Sambangi Guru Mengaji Kampung dan Antarkan Amanah Donatur

    Satry Polang
    Minggu, 25 Oktober 2026, Oktober 25, 2026 WIB Last Updated 2026-10-25T07:50:15Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Empat Tahun Berbagi, BDM Sidrap Sambangi Guru Mengaji Kampung dan Antarkan Amanah Donatur


    NARASIRAKYAT.ID, SIDRAP — Di tengah kesederhanaan kehidupan masyarakat desa, ada pengabdian yang terus menyala tanpa banyak sorotan. Para guru mengaji kampung tetap mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, menjaga tradisi *mappangaji*, dan menanamkan nilai-nilai keislaman dari generasi ke generasi.


    Pengabdian itu sering berlangsung dalam sunyi. Tanpa panggung penghargaan, tanpa sorotan kamera, dan tanpa tuntutan untuk dikenal. Namun, dari tempat-tempat sederhana itulah anak-anak belajar mengenal huruf demi huruf Al-Qur’an.


    Salah satu kisah yang menggambarkan ketulusan tersebut datang dari Azizah (53), guru mengaji di Desa Lasiwala, Dusun II, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Selama kurang lebih 37 tahun, ia mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungannya.


    Bahkan, dalam kesehariannya, anak-anak terkadang mencarinya hingga ke sawah agar tetap bisa belajar mengaji.


    Kisah Azizah menjadi salah satu potret pengabdian guru mengaji kampung yang disambangi Komunitas Bangkit Dari Masjid (BDM) Sidrap, bagian dari Remaja Masjid Raya Islamic Centre Kabupaten Sidrap, dalam kegiatan rutin bulanan mereka.


    Melalui kegiatan tersebut, BDM Sidrap mengantarkan hadiah titipan para donatur sekaligus menjalin silaturahmi, mendengarkan kisah perjuangan para guru mengaji, dan memohon doa serta barakka dari mereka yang selama ini mengabdikan diri untuk pendidikan Al-Qur’an.


    Hadiah Sederhana, Makna yang Mendalam


    Bagi Komunitas BDM Sidrap, kunjungan kepada guru mengaji kampung bukan sekadar kegiatan berbagi. Ada amanah yang harus ditunaikan, silaturahmi yang perlu dijaga, dan pengabdian yang patut mendapat perhatian.


    Dalam kunjungan kali ini, empat guru mengaji kampung menjadi bagian dari kisah yang dibagikan, yakni Sumiati (57), Azizah (53), Yuliani (30), dan Hajrah (52).


    Masing-masing memiliki perjalanan berbeda. Ada yang telah mengajar selama puluhan tahun, ada pula yang meneruskan amanah orang tua yang telah meninggal dunia. Namun, mereka dipersatukan oleh kecintaan terhadap Al-Qur’an dan keinginan menjaga tradisi mengaji di tengah masyarakat.


    Bagi Sumiati, guru mengaji yang tinggal di Desa Lasiwala, Makkorong, perhatian tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri.


    Selama kurang lebih 24 tahun, Sumiati telah mengajarkan mappangaji. Saat ini, ia membimbing 10 santri di lingkungan tempat tinggalnya.


    Kunjungan Komunitas BDM Sidrap bukanlah pengalaman pertama baginya. Namun, perhatian yang kembali diterima tetap membuatnya terharu.


    “Terima kasih, Pak, hadiahnya,” tutur Sumiati dengan penuh haru.


    Kalimat sederhana itu menggambarkan bahwa kepedulian yang diberikan secara berulang dapat memiliki arti besar bagi seseorang yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri untuk masyarakat.


    Hadiah yang diterima mungkin tidak sebanding dengan panjangnya perjalanan pengabdian. Namun, kehadiran dan perhatian menjadi pengingat bahwa pekerjaan mereka tidak sepenuhnya luput dari pandangan orang lain.


    Azizah, 37 Tahun Mengajar dan Anak-Anak yang Tak Berhenti Mencari


    Kisah Azizah menyimpan pengalaman yang tidak mudah dilupakan.


    Selama sekitar 37 tahun, ia mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di Desa Lasiwala, Dusun II. Saat ini, enam santri belajar mengaji kepadanya.


    Tradisi tersebut bukan sesuatu yang datang begitu saja. Azizah meneruskan warisan pendidikan Al-Qur’an dari neneknya, lalu menjaganya selama puluhan tahun.


    Di tengah perjalanan panjang itu, ada pengalaman yang memperlihatkan betapa dekat hubungan antara guru dan murid. Anak-anak terkadang mencarinya hingga ke sawah demi mendapatkan kesempatan belajar mengaji.


    Kisah ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an di kampung tidak selalu berlangsung dalam fasilitas yang lengkap atau suasana formal. Ia tumbuh melalui kedekatan, ketekunan, dan hubungan sosial yang terbangun di tengah kehidupan masyarakat.


    Bagi Azizah, pengabdian itu telah menjadi bagian panjang dari kehidupannya. Namun, selama puluhan tahun mengajar, ia baru kali ini merasakan kunjungan dan menerima hadiah melalui kegiatan seperti yang dilakukan Komunitas BDM Sidrap.


    Perhatian tersebut menjadi momen istimewa bagi seorang guru yang telah menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk mengajarkan Al-Qur’an.


    Kisah Azizah sekaligus mengingatkan bahwa di balik keberlangsungan tradisi keagamaan di masyarakat, terdapat orang-orang yang bekerja dalam kesederhanaan dan layak memperoleh penghargaan.


    Meneruskan Amanah Orang Tua


    Perjalanan pengabdian serupa terlihat pada Yuliani (30), guru mengaji yang tinggal di Dusun I, Tellumae, Bendoro.


    Selama kurang lebih empat tahun, Yuliani melanjutkan kegiatan mengaji yang sebelumnya dijalankan oleh orang tuanya yang telah meninggal dunia. Kini, delapan anak belajar Al-Qur’an kepadanya.


    Apa yang dilakukan Yuliani bukan hanya menjaga kegiatan belajar mengaji agar tetap berlangsung. Ia juga meneruskan tradisi keluarga yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.


    Dalam konteks pendidikan keagamaan di lingkungan kampung, keberlanjutan semacam ini memiliki arti penting. Ketika orang tua yang sebelumnya mengajar telah tiada, kehadiran generasi berikutnya membantu menjaga agar anak-anak tetap memiliki tempat untuk belajar Al-Qur’an.


    Sementara itu, Hajrah (52), guru mengaji di Desa Talumae, Bendoro, telah menjalankan pengabdian selama kurang lebih 30 tahun.


    Ia mulai mengajar sejak masih gadis dan meneruskan pengabdian orang tuanya. Saat ini, sembilan santri belajar mengaji kepadanya.


    Kisah Yuliani dan Hajrah memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an di masyarakat tidak hanya bertumpu pada kemampuan membaca, tetapi juga pada kesinambungan nilai, keteladanan, dan kepedulian antargenerasi.


    Dari satu keluarga ke keluarga berikutnya, tradisi *mappangaji* terus dijaga melalui orang-orang yang bersedia meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak mengenal Al-Qur’an.


    BDM Sidrap Merawat Amanah Donatur Selama Empat Tahun


    Di balik kunjungan tersebut, ada kepedulian para donatur yang disalurkan melalui Komunitas BDM Sidrap.


    Fahimah, salah seorang anggota komunitas, menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab untuk menyampaikan amanah dari para donatur yang memiliki kepedulian terhadap guru mengaji kampung.


    “Apa yang kami lakukan semata-mata untuk mengantarkan amanah para donatur yang cinta dengan para guru mengaji kampung. Di samping itu, kami juga berharap mendapat barakka dari para guru mengaji,” ungkap Fahimah.


    Bagi Fahimah dan anggota komunitas lainnya, kegiatan tersebut bukan hanya tentang memberikan hadiah. Kunjungan menjadi kesempatan untuk membangun hubungan batin, mempererat silaturahmi, dan belajar menghargai ketulusan para guru mengaji.


    Melalui perjumpaan langsung, anggota komunitas juga dapat menyaksikan kehidupan para guru mengaji serta memahami bagaimana pendidikan Al-Qur’an tetap berlangsung di tengah kesederhanaan masyarakat.


    Penanggung Jawab Komunitas BDM Sidrap, Munaing, mengungkapkan rasa syukur karena kegiatan bulanan tersebut masih dapat dipertahankan hingga memasuki tahun keempat.


    “Alhamdulillah, sampai pada tahun keempat ini, Allah masih mengizinkan kami konsisten setiap bulan merawat amanah dari para orang baik untuk mengantarkan hadiah. Semoga Allah senantiasa mengganti setiap harta yang dititipkan kepada kami dengan yang lebih banyak dan berkah, serta senantiasa menjadikan harta para orang baik bermanfaat bagi guru mengaji kampung,” tutur Munaing.


    Konsistensi selama empat tahun menjadi bagian penting dari perjalanan komunitas ini. Bagi mereka, amanah donatur tidak berhenti ketika hadiah diserahkan, tetapi juga mencakup tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.


    Setiap kunjungan menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial dapat terus tumbuh ketika dirawat melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.


    Doa Guru Mengaji, Makna yang Tak Terukur dengan Materi


    Ada satu suasana yang membekas dalam setiap kunjungan Komunitas BDM Sidrap: doa yang disampaikan para guru mengaji di penghujung pertemuan.


    Dengan penuh haru, mereka mendoakan para donatur dan orang-orang yang telah memberikan perhatian kepada mereka.


    Bagi komunitas, momen tersebut menjadi bagian berharga dari perjalanan kegiatan bulanan. Hadiah yang dibawa mungkin sederhana, tetapi kebahagiaan, rasa dihargai, dan doa yang terucap memberikan makna yang jauh melampaui nilai materi.


    Dalam tradisi masyarakat Bugis, harapan akan barakka atau keberkahan menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur dan penghormatan. Dalam konteks kunjungan ini, silaturahmi bukan hanya mempertemukan pemberi dan penerima, tetapi juga membangun hubungan yang dilandasi ketulusan dan saling menghargai.


    Perhatian terhadap guru mengaji kampung juga mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan agama tidak hanya berlangsung di lembaga formal. Di rumah-rumah dan lingkungan permukiman, para guru mengaji ikut membentuk kebiasaan, menanamkan akhlak, dan mengenalkan nilai keimanan kepada generasi muda.


    Karena itu, menjaga keberadaan mereka merupakan bagian dari kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.


    Menjaga Guru Mengaji agar Tak Dilupakan


    Kisah Sumiati, Azizah, Yuliani, dan Hajrah merupakan gambaran kecil dari pengabdian para guru mengaji kampung yang tersebar di berbagai wilayah Sidrap.


    Ada yang telah mengajar selama puluhan tahun, ada yang meneruskan warisan keluarga, dan ada pula yang menjaga agar anak-anak di lingkungannya tetap memiliki kesempatan belajar Al-Qur’an.


    Di tengah berbagai perubahan zaman, pengabdian mereka menjadi pengingat bahwa pendidikan generasi muda tidak hanya membutuhkan sarana dan program, tetapi juga orang-orang yang bersedia hadir secara konsisten.


    Melalui kegiatan rutin bulanan yang telah berjalan selama empat tahun, Komunitas BDM Sidrap berupaya menjaga agar para guru mengaji kampung tetap mendapat perhatian. Komunitas ini juga berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi, bersilaturahmi, dan mendukung keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan masing-masing.


    Kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa hadir melalui kunjungan, hadiah sederhana, waktu yang diluangkan, atau doa yang dipanjatkan dengan tulus.


    Sebab, di balik setiap anak yang belajar membaca Al-Qur’an, ada sosok yang dengan sabar membimbingnya. Dan di balik pengabdian panjang para guru mengaji kampung, ada nilai kebaikan yang layak dijaga bersama.


    Dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya, BDM Sidrap merawat pesan sederhana: guru mengaji kampung tidak boleh dilupakan, pengabdian mereka layak dihargai, dan setiap kebaikan yang dititipkan dengan tulus semoga menjadi jalan hadirnya keberkahan bagi semua.


    Lima fakta menarik


    1. Empat tahun menjaga amanah

    Komunitas BDM Sidrap konsisten mengadakan kunjungan bulanan untuk mengantarkan hadiah dari donatur kepada guru mengaji kampung.


    2. Azizah telah mengajar sekitar 37 tahun

    Ia membimbing enam santri dan meneruskan tradisi mengaji yang diwarisi dari neneknya.


    3. Murid mencari guru hingga ke sawah

    Anak-anak terkadang mencari Azizah ke sawah agar tetap dapat belajar mengaji.


    4. Empat guru mengaji dikunjungi

    Sumiati, Azizah, Yuliani, dan Hajrah memiliki masa pengabdian berbeda, mulai dari empat tahun hingga sekitar 37 tahun.


    5. Bukan sekadar bantuan materi

    Kegiatan ini juga mempererat silaturahmi, menyampaikan amanah donatur, dan menjadi ruang untuk saling mendoakan.



    Komentar

    Tampilkan