![]() |
| IAI DDI Sidrap Berangkatkan Mahasiswa dan Dosen ke Tiga Negara Penguatan Akademik Internasional |
NARASIRAKYAT.ID, SIDRAP – Menembus batas negara untuk belajar, membangun jejaring, dan mengabdi kepada masyarakat menjadi langkah yang ditempuh Institut Agama Islam Darud Da’wah wal Irsyad (IAI DDI) Sidenreng Rappang dalam program Student Mobility 2026.
Perguruan tinggi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, ini memberangkatkan lima mahasiswa bersama satu dosen untuk mengikuti rangkaian kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat (PkM) di Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Program tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas pengalaman belajar di lingkungan internasional, mengenal budaya akademik negara lain, serta memahami dinamika sosial dan keagamaan di kawasan Asia Tenggara.
Rektor IAI DDI Sidrap, Dr. Mansur, memberikan dukungan penuh terhadap partisipasi sivitas akademika dalam program ini. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong internasionalisasi perguruan tinggi sekaligus memperluas pengalaman belajar mahasiswa di luar lingkungan kampus.
Bagi para peserta, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan ke luar negeri. Ada kesempatan untuk berdiskusi, mengamati kehidupan masyarakat, membangun kolaborasi, dan membawa pulang pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi karya akademik.
Tiga Negara, Satu Semangat Mengembangkan Ilmu
Rangkaian Student Mobility 2026 dirancang melintasi tiga negara dengan agenda yang memadukan kegiatan akademik, observasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Di Malaysia, peserta dijadwalkan mengunjungi tiga perguruan tinggi dan satu unit usaha. Kegiatan ini membuka peluang untuk mengenal praktik pendidikan tinggi, bertukar gagasan, serta mengamati hubungan antara pengetahuan akademik dan aktivitas masyarakat.
Di Thailand, agenda diarahkan pada kunjungan ke satu perguruan tinggi. Salah satu kegiatan akademik yang direncanakan dalam rangkaian program SEAAM 2026 adalah partisipasi dalam kegiatan ilmiah di Fatoni University.
Sementara itu, di Singapura, peserta dijadwalkan mengunjungi Perpustakaan Nasional Singapura sebagai bagian dari pengenalan sumber pengetahuan dan lingkungan literasi di tingkat internasional.
Perbedaan karakter pendidikan dan masyarakat di setiap negara memberikan kesempatan bagi peserta untuk memperluas perspektif. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan refleksi, diskusi, dan pengembangan gagasan akademik setelah kembali ke Indonesia.
Enam Peserta, Membawa Misi Akademik Kampus
Delegasi IAI DDI Sidrap terdiri atas satu dosen dan lima mahasiswa. Mereka adalah:
- Dr. M.N. Jamaliah, dosen sekaligus Ketua Program Studi.
- Auliyaa Zahra Islam, mahasiswa.
- Miftah Khaerati, mahasiswa.
- Nur Azizah SN, mahasiswa.
- Hudiyana Nuswah, mahasiswa.
- Muh. Sabil Maksum, mahasiswa.
Keterlibatan dosen dalam program ini menjadi unsur penting untuk mendampingi mahasiswa dalam kegiatan akademik, memperkuat proses pembelajaran, serta menghubungkan pengalaman lapangan dengan pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagi mahasiswa, kesempatan mengikuti kegiatan lintas negara dapat memperkaya pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. Interaksi dengan lingkungan akademik dan masyarakat yang berbeda memungkinkan mereka mengembangkan kemampuan komunikasi, adaptasi, berpikir kritis, dan memahami keberagaman perspektif.
Pengalaman tersebut juga berpotensi menjadi bekal dalam menyusun karya tulis ilmiah dan mengembangkan jejaring akademik setelah program selesai.
Dari Kunjungan Akademik Menuju Karya Buku Internasional
Salah satu target penting dalam rangkaian Student Mobility 2026 adalah penyusunan buku bersama berjudul Socio-Religious Dimension in Southeast Asia.
Buku tersebut direncanakan sebagai kelanjutan dari karya sebelumnya, Socio-Political Dimension in Southeast Asia, yang lahir dari perjalanan kolaborasi akademik di kawasan Asia Tenggara.
Tema sosial-keagamaan dipilih untuk membuka ruang pembahasan yang lebih luas mengenai hubungan masyarakat, agama, budaya, dan kehidupan sosial di kawasan regional.
Rencana penyusunan buku ini juga memiliki akar historis. Gagasan tema Socio-Religious terinspirasi dari pengalaman kunjungan ke Universiti Malaya dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) dalam rangkaian Student Mobility 2022.
Dalam perkembangan program SEAAM, luaran akademik tidak hanya dipandang sebagai dokumentasi perjalanan, tetapi juga sebagai upaya mengubah pengalaman, diskusi, dan hasil pengamatan menjadi pengetahuan yang dapat dibaca serta dimanfaatkan oleh kalangan akademisi dan masyarakat luas.
Penulisan buku lanjutan ini direncanakan terbuka bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta rekan-rekan yang pernah terlibat dalam berbagai kegiatan SEAAM. Dengan demikian, kontribusi terhadap karya bersama tidak terbatas pada peserta yang berangkat pada 2026.
Bagi IAI DDI Sidrap, peluang berkontribusi dalam karya kolaboratif semacam ini dapat menjadi sarana memperkuat budaya menulis, publikasi ilmiah, dan partisipasi dalam percakapan akademik tingkat regional.
Jejak Student Mobility dan Perkembangan Jejaring SEAAM
Program Student Mobility memiliki perjalanan yang panjang. Kegiatan pada 2016 disebut sebagai salah satu cikal bakal terbentuknya jejaring SEAAM yang berkembang hingga saat ini.
Pada periode awal tersebut, kegiatan melibatkan kolaborasi antara Program Magister Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair), IAIN Manado, dan STAIN Sorong, serta partisipasi alumni atau perwakilan dari UIN Malang.
Rangkaian perjalanan selama sekitar 10 hari melintasi Malaysia dan Thailand, termasuk Kuala Lumpur, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) di Kuala Terengganu, Hat Yai, serta diskusi akademik di Universiti Sains Malaysia (USM), Pulau Pinang.
Salah satu luaran dari kegiatan tersebut adalah buku kumpulan tulisan dosen dan mahasiswa yang diterbitkan pada 2017, dengan penyuntingan Prof. Suyatno, Prof. Baiq Wardhani, dan Ismail Suardi Wekke.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana kunjungan akademik dapat berkembang menjadi kolaborasi yang menghasilkan karya tertulis.
Seiring perkembangannya, rancangan Student Mobility 2026 mencakup empat komponen utama, yakni kunjungan dan kegiatan akademik, pengabdian kepada masyarakat internasional, observasi riset, serta publikasi ilmiah.
Agenda akademik yang direncanakan dalam rangkaian SEAAM antara lain Mini Symposium di UCYP University, Pahang, dan kegiatan ICoSEEAS di UniSZA, serta kegiatan ilmiah di Fatoni University, Thailand.
Pengembangan ini memperlihatkan arah program yang tidak hanya berfokus pada kunjungan institusi, tetapi juga pada upaya membangun pengalaman akademik yang lebih terstruktur dan menghasilkan luaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Belajar dari Masyarakat, Mengabdi Melampaui Batas Negara
Selain kegiatan akademik, pengabdian kepada masyarakat internasional menjadi bagian penting dari rancangan Student Mobility 2026.
Program PkM direncanakan berlangsung di sejumlah lokasi di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan dapat mengenali kebutuhan masyarakat, bertukar pengalaman, serta memahami penerapan pengetahuan dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda.
Pengabdian lintas negara juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk memperluas kerja sama sekaligus mengembangkan pengalaman dosen dan mahasiswa dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Namun, keberhasilan kegiatan semacam ini tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya negara yang dikunjungi. Nilai utamanya terletak pada relevansi program, kualitas interaksi, manfaat bagi masyarakat, dan tindak lanjut setelah kegiatan berakhir.
Observasi selama perjalanan juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi penelitian dan penulisan ilmiah. Dengan dokumentasi yang baik, pengalaman lapangan dapat dikembangkan menjadi bahan kajian yang lebih mendalam.
Karena itu, sinergi antara kegiatan akademik, PkM, observasi riset, dan publikasi menjadi penting agar program Student Mobility memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi peserta maupun institusi.
Internasionalisasi Kampus Dimulai dari Kesempatan Belajar
Dukungan Rektor IAI DDI Sidrap, Dr. Mansur, terhadap program ini menjadi bagian dari upaya membuka kesempatan lebih luas bagi mahasiswa untuk terlibat dalam pengalaman akademik internasional.
Internasionalisasi perguruan tinggi bukan hanya tentang menjalin hubungan dengan kampus luar negeri. Lebih dari itu, internasionalisasi membutuhkan proses pertukaran pengetahuan, kolaborasi yang nyata, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan luaran yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi lima mahasiswa yang mengikuti program ini, perjalanan ke Malaysia, Thailand, dan Singapura menjadi kesempatan untuk melihat dunia akademik dari perspektif yang lebih luas.
Bagi dosen pendamping, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dan menghubungkan pengalaman lapangan dengan pengembangan penelitian serta publikasi.
Sementara bagi institusi, program ini membuka peluang untuk memperluas jejaring dan mengembangkan budaya akademik yang tidak berhenti di ruang kelas.
Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pengalaman selama perjalanan dapat diterjemahkan menjadi karya, pengetahuan, serta program lanjutan yang memberikan dampak nyata.
Lima Fakta Menarik Student Mobility 2026 IAI DDI Sidrap
1. Enam peserta membawa misi akademik internasional. Delegasi terdiri atas lima mahasiswa dan satu dosen dari IAI DDI Sidrap.
2. Menjangkau tiga negara Asia Tenggara. Malaysia, Thailand, dan Singapura menjadi tujuan rangkaian kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.
3. Menggabungkan empat komponen kegiatan. Program dirancang mencakup kegiatan akademik, PkM internasional, observasi riset, dan publikasi ilmiah.
4. Memiliki jejak kolaborasi sejak 2016. Student Mobility berkembang dari kegiatan kunjungan dan diskusi akademik yang turut menjadi cikal bakal jejaring SEAAM.
5. Menargetkan buku kolaboratif. Socio-Religious Dimension in Southeast Asia direncanakan menjadi salah satu luaran akademik lanjutan dari program 2026.
Membawa Pulang Pengetahuan, Menumbuhkan Manfaat
Perjalanan akademik yang bermakna bukanlah perjalanan yang berhenti ketika peserta kembali ke kampus. Nilainya justru terlihat dari pengetahuan yang dibagikan, gagasan yang dikembangkan, karya yang dihasilkan, dan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Melalui Student Mobility 2026, IAI DDI Sidrap membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk belajar melampaui batas geografis, memperluas wawasan, serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Dukungan institusi, kesiapan peserta, dan keberlanjutan kolaborasi akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Dari Sidrap menuju Asia Tenggara, langkah enam peserta ini membawa harapan bahwa pengalaman internasional dapat tumbuh menjadi pengetahuan yang bermanfaat, karya yang menginspirasi, dan jejaring akademik yang terus berkembang.
Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya mempersiapkan seseorang untuk mengenal dunia, tetapi juga membekalinya agar mampu memberikan manfaat bagi dunia.















