Penulis:
Adila Fakhriana Rifqi Muis
NARASIRAKYAT ---- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sidenreng Rappang terus menunjukkan eksistensinya sebagai motor penggerak intelektual dan sosial yang progresif. Sebagai wadah kaderisasi mahasiswa Islam berkemajuan, IMM Sidrap tidak hanya hadir sebagai organisasi formal, tetapi juga berkontribusi nyata dalam kehidupan sosial masyarakat Bumi Nenek Mallomo. Namun, di tengah dinamika zaman dan perubahan karakter generasi kader, IMM Sidrap dituntut untuk tidak hanya memperkuat sistem, tetapi juga memperbarui paradigma kepemimpinan.
Salah satu tantangan klasik yang kerap dihadapi organisasi mahasiswa adalah menurunnya motivasi kader di tengah perjalanan organisasi. Fenomena kader yang militan di awal periode, lalu perlahan menjauh sebelum masa kepengurusan berakhir, masih menjadi realitas yang harus diakui secara jujur. Kondisi ini tidak semata disebabkan oleh lemahnya komitmen individu, tetapi sering kali lahir dari iklim organisasi yang terlalu kaku, birokratis, dan minim sentuhan kemanusiaan.
Ketika organisasi hanya dipahami sebagai deretan jabatan struktural dan tumpukan program kerja, kader berpotensi mengalami kelelahan mental. Relasi yang dibangun sebatas instruksi atasan kepada bawahan, bukan dialog yang setara dan penuh empati. Dalam kondisi seperti ini, organisasi kehilangan ruhnya sebagai ruang bertumbuh, dan perlahan berubah menjadi lingkungan yang dingin serta tidak ramah bagi kader.
Dalam perspektif psikologi organisasi, konsep affective commitment menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan kader. Meyer dan Allen menjelaskan bahwa komitmen paling kuat lahir bukan dari tekanan aturan atau kewajiban struktural, melainkan dari keterikatan emosional dan rasa memiliki terhadap organisasi. Tanpa ikatan emosional tersebut, loyalitas kader akan rapuh dan mudah tergerus.
Memasuki era Generasi Z, pendekatan kepemimpinan otoriter dan berjarak semakin kehilangan relevansinya. Kader masa kini membutuhkan ruang yang suportif, inklusif, dan autentik—tempat di mana mereka merasa diterima, dihargai, dan didengarkan. Di sinilah urgensi gagasan Home Culture Leadership atau kepemimpinan berbasis budaya rumah menemukan relevansinya bagi masa depan IMM Sidrap.
Kepemimpinan Home Culture memandang organisasi bukan sekadar “kantor” tempat bekerja, melainkan “rumah” tempat kader pulang, bertumbuh, dan berproses bersama. Dalam model ini, pimpinan struktural tidak hanya berperan sebagai pengambil keputusan, tetapi sebagai penjaga rumah yang memastikan seluruh penghuninya merasa aman, nyaman, dan memiliki ruang berkembang.
Pimpinan yang menghidupkan budaya rumah akan membangun sinergi antarbidang, komisariat, hingga alumni melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Interaksi tidak berhenti pada rapat formal dan laporan program, tetapi diperluas melalui relasi personal yang menguatkan ikatan emosional kader. Dengan demikian, amanah kepemimpinan tidak dijalankan dengan tekanan, melainkan dengan keteladanan dan kepedulian.
Kepemimpinan yang mampu menghadirkan suasana layaknya sebuah rumah akan menjaga kader tetap tegak berdiri hingga akhir periode. Sebab pada akhirnya, IMM bukan sekadar organisasi, bukan pula sekadar jabatan atau struktur formal. IMM adalah wadah perjuangan dan rumah kedua bagi siapa pun yang ingin belajar, bertumbuh, dan mengabdi.
Dengan kepemimpinan yang merawat “rumah” ini secara amanah dan penuh kasih, IMM Sidrap akan selalu memiliki golden era di setiap masanya. Ia akan terus melahirkan kader-kader yang berdaya, berintegritas, dan berkomitmen menjadi pelopor perubahan. Bukan hanya untuk organisasi, tetapi juga bagi kemajuan daerah, umat, dan Persyarikatan Muhammadiyah secara berkelanjutan.








