Oleh: IMMawan Ahmad Safuan Bin Irwan
Calon Formatur Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Sidenreng Rappang
Kemajuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sidenreng Rappang bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Ia merupakan hasil dari proses panjang kaderisasi, refleksi berkelanjutan, serta keberanian organisasi untuk terus berbenah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Dalam konteks dinamika gerakan mahasiswa yang semakin kompleks, IMM Sidrap perlu menegaskan kembali orientasi perjuangannya agar tetap relevan dan berdampak.
Fondasi utama kemajuan IMM Sidrap terletak pada penguatan Tri Kompetensi Dasar IMM, yakni religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Religiusitas menumbuhkan kesadaran ilahiah sebagai landasan moral gerakan. Intelektualitas mendorong kader untuk berpikir kritis, analitis, dan berorientasi pada pengembangan keilmuan. Sementara itu, humanitas menghadirkan kepekaan sosial dan keberpihakan nyata terhadap umat serta masyarakat luas. Ketiga kompetensi ini harus berjalan secara seimbang agar melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga berkarakter dan berdaya guna.
Dalam proses tersebut, Musyawarah Cabang (Musycab) menempati posisi yang sangat strategis. Musycab tidak boleh dipahami sebatas agenda rutin atau sekadar forum pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, Musycab merupakan ruang evaluasi kolektif atas perjalanan organisasi, arena dialektika gagasan, serta momentum untuk merumuskan arah gerakan IMM Sidrap ke depan. Di forum inilah nilai-nilai perjuangan diuji, komitmen kader diperkuat, dan visi bersama dirajut.
Musycab juga menjadi titik lahirnya wajah kepemimpinan baru IMM Sidrap. Kepemimpinan ke depan dituntut untuk lebih adaptif terhadap perubahan zaman, kolaboratif dalam membangun gerakan, serta progresif dalam merespons persoalan kader, kampus, dan masyarakat. Pola-pola lama yang stagnan perlu ditinggalkan, digantikan dengan pendekatan yang inklusif, solutif, dan berorientasi pada dampak nyata.
Dengan kepemimpinan yang demikian, kemajuan IMM Sidrap tidak berhenti sebagai jargon atau slogan periodik. Ia harus menjelma sebagai gerak nyata—terlihat dalam kualitas kader, kuatnya tradisi intelektual, serta kebermanfaatan organisasi bagi masyarakat. IMM Sidrap yang unggul, berkemajuan, dan berkeadaban hanya dapat terwujud melalui kesadaran kolektif untuk terus belajar, bertransformasi, dan setia pada nilai-nilai dasar perjuangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.








