-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Dari Mekah, Pesan Inspiratif Rektor IAI DDI Sidrap Dr. Mansur di Hari Pendidikan Nasional

    Satry Polang
    Jumat, 01 Mei 2026, Mei 01, 2026 WIB Last Updated 2026-05-02T04:01:13Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Dari Mekah, Pesan Inspiratif Rektor IAI DDI Sidrap Dr. Mansur di Hari Pendidikan Nasional



    NARASIRAKYAT.ID — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali dimaknai secara mendalam oleh Rektor Institut Agama Islam (IAI) DDI Sidrap, Dr. Mansur. Dalam refleksi yang disampaikannya, ia menegaskan bahwa Hardiknas sejatinya lahir dari semangat kritik terhadap ketimpangan sistem pendidikan, bukan sekadar seremoni tahunan tanpa makna.


    Mengacu pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, Dr. Mansur mengingatkan bahwa sejarah pendidikan Indonesia berangkat dari perjuangan melawan diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda, di mana akses pendidikan hanya diberikan kepada kalangan tertentu.


    “Hari Pendidikan Nasional tidak boleh berhenti pada upacara seremonial. Ia harus menjadi ruang refleksi dan aksi nyata bagi seluruh elemen—pemerintah, pendidik, peserta didik, dan masyarakat,” tegasnya.

     

    Warisan Kritik Ki Hajar yang Tak Boleh Padam

    Menurut Dr. Mansur, semangat kritis yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara harus terus dihidupkan dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini. Jika dahulu kritik diarahkan pada sistem feodalisme pendidikan yang diskriminatif, kini persoalan yang dihadapi jauh lebih kompleks.


    Mulai dari kualitas tenaga pendidik, kesiapan peserta didik, sistem pembelajaran, hingga pengelolaan anggaran dan kualitas output pendidikan menjadi aspek yang perlu terus dievaluasi secara kritis.


    Ia menilai bahwa tanpa keberanian untuk mengkritisi, sistem pendidikan berpotensi mengalami stagnasi bahkan ketimpangan yang semakin melebar.


    Pendidikan di Era Kompleksitas: Butuh Keberanian Berpikir Kritis

    Dr. Mansur menyoroti bahwa dinamika pendidikan saat ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan biasa. Dibutuhkan keberanian berpikir kritis untuk memastikan sistem pendidikan berjalan adil, inklusif, dan berorientasi pada masa depan.


    Khususnya di Kabupaten Sidenreng Rappang, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan Hardiknas sebagai titik tolak perubahan nyata, bukan sekadar rutinitas tahunan.


    Refleksi ini bahkan disampaikan Dr. Mansur di tengah kesibukannya menunaikan ibadah haji di Mekkah, yang menunjukkan komitmennya terhadap kemajuan pendidikan tetap menjadi prioritas di mana pun berada.


    Dari Refleksi Menuju Aksi Nyata

    Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan secara kuantitas, tetapi juga harus mampu menciptakan kualitas yang relevan dengan kebutuhan zaman.


    Melalui semangat kritis, diharapkan lahir kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih adaptif, merata, serta mampu menjawab tantangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal dan karakter bangsa.


    5 Fakta Menarik Pernyataan Rektor IAI DDI Sidrap

    1. Hardiknas ditegaskan sebagai hasil kritik sosial, bukan sekadar perayaan simbolik.

    2. Mengangkat kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai dasar refleksi pendidikan modern.

    3. Menyoroti kompleksitas masalah pendidikan saat ini, mulai dari guru hingga output lulusan.

    4. Mengajak semua elemen terlibat aktif, tidak hanya pemerintah dan institusi pendidikan.

    5. Pesan disampaikan dari Tanah Suci Mekkah, menunjukkan komitmen tanpa batas terhadap pendidikan.


    Pesan Dr. Mansur menjadi pengingat penting bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai alat perubahan sosial. Dari sejarah perjuangan hingga tantangan modern, satu hal yang tetap relevan adalah keberanian untuk berpikir kritis.


    Hardiknas bukan hanya milik masa lalu—ia adalah panggilan untuk masa depan. Jika dulu Ki Hajar Dewantara berani melawan ketidakadilan, maka hari ini adalah giliran kita memastikan pendidikan Indonesia berjalan lebih adil, inklusif, dan bermartabat.

    Komentar

    Tampilkan