![]() |
Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap Tebar Kepedulian untuk Guru Mengaji Kampung di Pinrang |
PINRANG, NARASIRAKYAT.ID — Kepedulian terhadap para guru mengaji kampung kembali ditunjukkan komunitas Bangkit Dari Masjid melalui aksi sosial yang menyentuh hati di Kabupaten Pinrang.
Melalui laman media sosial resminya, komunitas yang dikenal dengan singkatan BDM tersebut membagikan momen pengantaran hadiah dan bantuan kepada sejumlah guru mengaji kampung yang selama puluhan tahun mengabdi mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat.
Kegiatan sosial tersebut berlangsung penuh haru setelah tim relawan BDM mendatangi empat guru mengaji berdasarkan informasi yang dikirim masyarakat melalui media sosial.
Berangkat Karena Informasi dari Warga
Salah satu relawan BDM, Ima, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut berawal dari informasi netizen mengenai keberadaan guru-guru mengaji kampung yang masih aktif mengajar secara sederhana di sejumlah wilayah Kabupaten Pinrang.
“Hari ini kami berkunjung ke Kabupaten Pinrang karena info dari netizen terkait guru mengaji kampung. Dan Alhamdulillah teman-teman hari ini berangkat,” ujar Ima, volunteer BDM.
Empat guru mengaji yang dikunjungi memiliki kisah pengabdian panjang dalam mendidik generasi muda membaca Al-Qur’an.
Mereka adalah Hj. Dahlia (50), yang telah 30 tahun mengajar mengaji di sekitar Jalan Watang Sawitto, kemudian Ibu Kasmadan dan Ibu Haslinda yang telah mengajar selama lima hingga tujuh tahun di Kecamatan Patampanua.
Tim relawan juga mengunjungi guru mengaji sepuh, Puang H. Runtuh (70), yang telah sekitar 20 tahun mengajarkan metode makkalifu di Jalan Gunung Loppo Batang Paleteang, Kabupaten Pinrang.
Momen Haru di Rumah Guru Mengaji Sepuh
Kedatangan relawan BDM disambut penuh haru oleh para guru mengaji kampung.
Puang H. Runtuh bahkan mengaku terkejut dan terharu karena baru pertama kali mendapatkan kunjungan dan hadiah secara langsung dari komunitas sosial.
“Terimakasih nak. Seingatku baru kali ini ada yang datang ke sini bawa hadiah. Biasanya nanti pada saat ada anak-anak yang mau mappanre temme baru datang,” ujar Puang H. Runtuh dengan penuh haru.
Salah satu relawan BDM, Fajar, menjelaskan bahwa bantuan tersebut merupakan amanah dari para donatur yang peduli terhadap keberlangsungan para guru mengaji kampung, khususnya yang masih mempertahankan metode pembelajaran tradisional seperti makkalifu.
“Kami dari komunitas BDM yang berdomisili di Kabupaten Sidrap kebetulan mengantarkan amanah dari para orang baik yang peduli dengan para guru mengaji, utamanya yang mappakalifu. Ini jarang-jarang mi yang menggunakan makkalifu, puang,” tutur Fajar.
Doa untuk Relawan yang Sedang Sakit
Di akhir pertemuan, para guru mengaji kampung menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para donatur serta pengurus BDM yang telah hadir memberi perhatian.
Mereka juga menitipkan doa khusus untuk salah satu relawan BDM yang saat ini sedang menjalani perawatan di RS Nene Mallomo.
Doa tersebut menjadi simbol kedekatan emosional antara relawan sosial dan masyarakat yang mereka layani.
Atas nama pengurus, BDM juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang secara rutin menyisihkan rezekinya dan mempercayakan komunitas tersebut sebagai jembatan kebaikan bagi para guru mengaji kampung.
Lima Fakta Menarik Aksi Sosial BDM Sidrap
Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap mengunjungi empat guru mengaji kampung di Kabupaten Pinrang.
Hj. Dahlia telah mengabdi selama 30 tahun mengajar mengaji di Watang Sawitto.
Puang H. Runtuh tetap mengajar metode makkalifu di usia 70 tahun.
Aksi sosial berawal dari informasi masyarakat melalui media sosial.
Para guru mengaji mendoakan relawan BDM yang sedang sakit di RS Nene Mallomo.
Di tengah derasnya perkembangan zaman, masih ada sosok-sosok sederhana yang setia menjaga cahaya Al-Qur’an di kampung-kampung kecil.
Para guru mengaji kampung mungkin tak dikenal luas, namun pengabdian mereka menjadi fondasi lahirnya generasi yang mengenal huruf-huruf suci Al-Qur’an.
Melalui langkah kecil penuh kepedulian, Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap mengingatkan bahwa menghargai guru mengaji bukan hanya tentang bantuan materi, tetapi tentang menjaga warisan ilmu dan keberkahan yang telah mereka tanamkan selama puluhan tahun.















