-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Isma Sry Rahayu Mahasiswi UMS Rappang Buktikan Komunikasi Intens di Rumah Mampu Tingkatkan Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini

    Satry Polang
    Senin, 08 Juni 2026, Juni 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-09T02:24:40Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Isma Sry Rahayu Mahasiswi UMS Rappang Buktikan Komunikasi Intens di Rumah Mampu Tingkatkan Kemampuan Bahasa Anak Usia Dini



    NARASIRAKYAT  – Kemampuan berbicara dan berkomunikasi merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan anak. Namun, tidak semua orang tua menyadari bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses pemerolehan bahasa pada usia dini.


    Fakta tersebut terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh mahasiswi Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Isma Sry Rahayu, yang mempresentasikan hasil skripsinya dalam ujian akademik yang berlangsung di Ruang Ujian FKIP UMS Rappang, Senin (8/6/2026).


    Melalui penelitian berjudul "Peran Orang Tua terhadap Pemerolehan Bahasa Anak Usia 3 Tahun", Isma berhasil mengungkap bagaimana komunikasi yang dibangun orang tua di rumah dapat memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan kemampuan berbahasa anak sejak usia dini.


    Usia 3 Tahun, Fase Emas Perkembangan Bahasa Anak

    Dalam pemaparannya, Isma menjelaskan bahwa usia tiga tahun merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan bahasa dan kemampuan kognitif anak.


    Pada usia tersebut, anak mulai aktif menyerap berbagai informasi linguistik dari lingkungan sekitarnya. Karena itu, kualitas interaksi yang diberikan orang tua menjadi faktor yang sangat menentukan.


    Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk keterlibatan orang tua dalam proses pemerolehan bahasa anak serta dampak yang ditimbulkan terhadap perkembangan kemampuan komunikasi mereka.


    Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian melibatkan dua keluarga yang memiliki anak berusia tiga tahun sebagai subjek penelitian.


    Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang mengkaji berbagai aspek penting, mulai dari pola komunikasi keluarga, pemberian stimulus bahasa, respons terhadap ujaran anak, keteladanan penggunaan bahasa, hingga lingkungan emosional yang dibangun dalam keluarga.


    Komunikasi Intensif Menjadi Faktor Penentu

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua tidak hanya terbatas pada mengajarkan kata-kata baru kepada anak.


    Lebih dari itu, pemerolehan bahasa berkembang secara optimal ketika orang tua secara aktif membangun komunikasi dua arah yang intens, memberikan stimulus bahasa yang konsisten, serta menciptakan suasana interaksi yang hangat dan suportif.


    "Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua diwujudkan melalui komunikasi yang intens dan dua arah, pemberian stimulus bahasa yang konsisten dan kontekstual, respons yang positif terhadap ujaran anak, serta keteladanan dalam penggunaan bahasa yang baik," jelas Isma dalam presentasi hasil penelitiannya.


    Menurutnya, anak yang tumbuh dalam lingkungan komunikasi yang sehat cenderung memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik dibandingkan anak yang minim mendapatkan interaksi verbal dari orang tuanya.


    Anak Menjadi Lebih Percaya Diri dan Mampu Berkomunikasi Lebih Baik

    Penelitian tersebut menemukan bahwa keterlibatan aktif orang tua memberikan dampak nyata terhadap kemampuan berbahasa anak.


    Dampak tersebut terlihat dari bertambahnya kosakata yang dimiliki anak, kemampuan menyusun kalimat sederhana dengan struktur yang lebih jelas, serta meningkatnya kemampuan memahami instruksi yang lebih kompleks.


    Tidak hanya itu, anak juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.


    Lingkungan emosional yang positif turut memperkuat proses tersebut. Ketika anak merasa dihargai dan didengarkan, mereka lebih berani untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui bahasa.


    Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan kedua orang tua memberikan variasi input linguistik yang lebih kaya sehingga mempercepat perkembangan kemampuan bahasa anak.


    Hasil Penelitian Tembus Jurnal Ilmiah Nasional

    Sebagai bentuk kontribusi akademik yang lebih luas, hasil penelitian Isma tidak hanya berhenti pada ujian skripsi.


    Penelitian tersebut telah berhasil dipublikasikan pada Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, salah satu jurnal ilmiah nasional yang menjadi wadah publikasi hasil penelitian di bidang pendidikan.


    Publikasi ini menunjukkan kualitas penelitian mahasiswa UMS Rappang yang tidak hanya memenuhi standar akademik kampus, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan di masyarakat.


    Dosen Apresiasi Penelitian yang Dekat dengan Kehidupan Masyarakat

    Ketua Penguji, Kamal, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dilakukan Isma karena mengangkat isu yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.


    Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak sehingga peran orang tua dalam perkembangan bahasa tidak dapat digantikan oleh institusi mana pun.


    "Penelitian ini memberikan gambaran bahwa keluarga, terutama orang tua, memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan bahasa anak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para orang tua untuk lebih aktif membangun komunikasi yang berkualitas dengan anak sejak usia dini," ujarnya.


    Ia juga berharap mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UMS Rappang terus menghasilkan penelitian yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.


    Lima Fakta Menarik dari Penelitian Mahasiswi UMS Rappang

    1. Meneliti Fase Emas Anak Usia 3 Tahun

    Penelitian fokus pada usia tiga tahun yang dikenal sebagai periode penting dalam perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir anak.

    2. Komunikasi Dua Arah Jadi Kunci

    Anak berkembang lebih baik ketika orang tua aktif mengajak berbicara, mendengarkan, dan merespons secara positif.

    3. Kepercayaan Diri Anak Ikut Meningkat

    Selain kemampuan berbicara, anak menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

    4. Keterlibatan Ayah dan Ibu Sama Pentingnya

    Variasi bahasa yang diberikan kedua orang tua memperkaya pengalaman linguistik anak sejak dini.

    5. Hasil Penelitian Sudah Dipublikasikan Nasional

    Penelitian ini telah terbit di Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar sebagai bentuk luaran akademik mahasiswa UMS Rappang.


    Komitmen UMS Rappang Membangun Budaya Riset Berkualitas

    Keberhasilan penelitian Isma Sry Rahayu menjadi bukti nyata komitmen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMS Rappang dalam membangun budaya riset dan publikasi ilmiah di kalangan mahasiswa.


    Lebih dari sekadar memenuhi syarat akademik, penelitian ini menghadirkan pesan penting bagi masyarakat bahwa perkembangan anak tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, tetapi dimulai dari lingkungan keluarga yang penuh perhatian, komunikasi, dan kasih sayang.


    Di tengah era digital yang sering mengurangi intensitas komunikasi dalam keluarga, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa percakapan sederhana antara orang tua dan anak ternyata memiliki dampak luar biasa terhadap masa depan mereka.


    Sebab pada akhirnya, kemampuan berbahasa yang baik bukan hanya tentang mampu berbicara dengan lancar, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri, memperkuat hubungan sosial, dan membuka pintu bagi kesuksesan anak di masa depan.

    Komentar

    Tampilkan