![]() |
Nurfajar Ekasari Mahasiswi UMS Rappang Bedah Bahasa Diskriminasi dalam Film Joko Anwar, Temukan 32 Ujaran Bermasalah |
NARASIRAKYAT – Dunia pendidikan tinggi tidak hanya menjadi ruang untuk menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi juga wadah untuk mengkaji berbagai fenomena sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Nurfajar Ekasari, saat menjalani ujian skripsi pada Rabu (17/6/2026).
Bertempat di Lantai 2 Ruang Ujian FKIP UMS Rappang, Nurfajar mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Representasi Penggunaan Bahasa Diskriminasi dalam Film Pengepungan di Bukit Duri Karya Joko Anwar.”
Kajian tersebut menarik perhatian karena mengangkat isu yang sangat relevan dengan kehidupan sosial modern, yakni bagaimana bahasa dalam media film dapat membentuk stigma, mereproduksi diskriminasi, dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap kelompok tertentu.
Mengupas Bahasa yang Kerap Luput dari Perhatian
Dalam pemaparannya, Nurfajar menjelaskan bahwa penelitian tersebut berfokus pada berbagai bentuk bahasa diskriminatif yang muncul dalam dialog para tokoh di film Pengepungan di Bukit Duri karya sutradara ternama Indonesia, Joko Anwar.
Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen yang membangun persepsi sosial, memperkuat stereotipe, bahkan melanggengkan ketimpangan dalam masyarakat.
"Penelitian ini melihat bagaimana bahasa dalam film dapat membentuk stigma, relasi kuasa, serta menggambarkan praktik diskriminasi terhadap kelompok tertentu, khususnya etnis Tionghoa di Indonesia," jelas Nurfajar di hadapan tim penguji.
Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan berulang terhadap dialog film serta pencatatan bagian-bagian yang mengandung unsur diskriminasi.
Menemukan 32 Data Ujaran Diskriminatif
Hasil penelitian menunjukkan adanya 32 data ujaran yang mengandung unsur diskriminasi dalam film tersebut.
Data tersebut kemudian diklasifikasikan ke dalam empat bentuk utama, yaitu:
Ujaran kebencian (hate speech)
Stereotipe terhadap kelompok tertentu
Ancaman dan intimidasi
Pelabelan negatif serta dehumanisasi
Temuan ini menunjukkan bahwa media film dapat menjadi ruang representasi berbagai realitas sosial, termasuk konflik identitas, prasangka, dan hubungan kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat.
Selain mengidentifikasi bentuk diskriminasi, penelitian juga mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi munculnya ujaran tersebut.
Beberapa faktor yang ditemukan antara lain prasangka sosial, generalisasi terhadap kelompok tertentu, konflik sosial, hingga dominasi kekuasaan yang membentuk hubungan antar kelompok dalam kehidupan bermasyarakat.
Kajian Linguistik yang Relevan dengan Realitas Sosial
Penelitian Nurfajar mendapat apresiasi dari tim penguji karena dianggap mengangkat tema yang aktual dan memiliki kontribusi akademik yang kuat.
Tim penguji terdiri atas:
Saifullah, S.Pd., M.Pd. (Ketua Penguji)
Dr. M. Hanafi, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Penguji)
Dr. Hj. Nuraini K., M.Pd. (Pembimbing)
Kamal, S.Pd., M.Pd. (Pembimbing)
Dr. Jumiati L., S.Pd., M.Pd. (Penguji)
Ketua Penguji, Saifullah, S.Pd., M.Pd., menilai penelitian tersebut memiliki relevansi tinggi dengan perkembangan kajian bahasa, sastra, media, dan komunikasi saat ini.
"Penelitian seperti ini penting karena bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga dapat merepresentasikan nilai, konflik, dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, kajian terhadap bahasa dalam media massa dan film menjadi semakin penting di era digital ketika berbagai bentuk komunikasi dapat memengaruhi opini publik secara luas.
Kontribusi Akademik untuk Dunia Pendidikan
Penelitian yang dilakukan Nurfajar tidak hanya menjadi syarat akademik menuju kelulusan, tetapi juga berpotensi menjadi referensi bagi mahasiswa dan peneliti lain yang tertarik pada bidang linguistik, sosiolinguistik, analisis wacana, maupun kajian media.
Melalui penelitian tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa penggunaan bahasa memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar penyampaian pesan.
Bahasa dapat membentuk cara berpikir, menciptakan identitas sosial, bahkan memengaruhi hubungan antar kelompok dalam kehidupan sehari-hari.
5 Fakta Menarik Penelitian Nurfajar Ekasari
1. Mengangkat Film Karya Joko Anwar
Penelitian berfokus pada film Pengepungan di Bukit Duri, salah satu karya yang mengangkat isu sosial dalam masyarakat Indonesia.
2. Menemukan 32 Ujaran Diskriminatif
Hasil penelitian menunjukkan adanya puluhan dialog yang mengandung unsur diskriminasi.
3. Fokus pada Isu Etnis dan Relasi Kuasa
Penelitian mengkaji bagaimana bahasa merepresentasikan diskriminasi terhadap kelompok tertentu, khususnya etnis Tionghoa.
4. Menggunakan Metode Kualitatif Deskriptif
Data dikumpulkan melalui pengamatan berulang terhadap dialog film untuk memastikan ketepatan analisis.
5. Mendapat Apresiasi Tim Penguji
Penelitian dinilai relevan dengan perkembangan kajian linguistik, media, dan fenomena sosial kontemporer.
Dari Ruang Ujian Menuju Kontribusi bagi Masyarakat
Skripsi bukan sekadar lembaran akademik yang disusun untuk memperoleh gelar sarjana. Di balik setiap penelitian terdapat upaya memahami persoalan nyata yang hidup di tengah masyarakat.
Apa yang dilakukan Nurfajar Ekasari menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kuliah, tetapi juga mampu menghadirkan perspektif kritis terhadap berbagai fenomena sosial yang berkembang.
Dengan selesainya ujian skripsi tersebut, Nurfajar menjadi salah satu mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMS Rappang yang berhasil menuntaskan tahapan akademik menuju kelulusan.
Lebih dari itu, penelitian yang ia lakukan menjadi pengingat bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membangun pemahaman, menciptakan empati, dan mendorong masyarakat yang lebih inklusif di masa depan.














