![]() |
Rezky Aprilulianto Mahasiswa Arsitektur Rancang Balai Latihan Kerja Berbasis Universal Design di Sidrap |
NARASIRAKYAT – Di tengah kebutuhan akan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang semakin kompetitif, keberadaan fasilitas pelatihan yang inklusif menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Program Studi Arsitektur, Rezky Aprilulianto, menghadirkan sebuah gagasan visioner melalui tugas akhir sarjananya berupa perancangan Balai Latihan Kerja (BLK) berbasis Universal Design di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Rancangan tersebut dipresentasikan dalam ujian akhir sarjana dan mendapat perhatian dari tim penguji karena dinilai mampu menjawab kebutuhan fasilitas pelatihan modern yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi masyarakat, tetapi juga mengedepankan prinsip kesetaraan akses bagi seluruh pengguna.
Melalui konsep yang matang, Rezky menuangkan ide perancangannya dalam bentuk konsep desain, gambar kerja teknis, hingga maket arsitektur yang menggambarkan secara detail bagaimana sebuah pusat pelatihan keterampilan dapat menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan dapat diakses oleh semua kalangan.
Menjawab Kebutuhan SDM dan Kesetaraan Akses
Balai Latihan Kerja selama ini menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan keterampilan masyarakat dan menyiapkan tenaga kerja yang siap bersaing di dunia industri maupun kewirausahaan.
Namun, tidak semua fasilitas pelatihan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan seluruh kelompok masyarakat, terutama penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, maupun pengguna dengan keterbatasan mobilitas.
Berangkat dari realitas tersebut, Rezky menghadirkan pendekatan Universal Design, sebuah konsep perancangan yang memastikan lingkungan binaan dapat digunakan oleh semua orang tanpa memerlukan adaptasi khusus atau perlakuan berbeda.
Melalui pendekatan ini, Balai Latihan Kerja yang dirancang tidak hanya menjadi tempat belajar keterampilan, tetapi juga menjadi simbol kesetaraan, inklusivitas, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara untuk memperoleh akses pendidikan dan pelatihan yang layak.
Merancang Kawasan Pelatihan yang Terintegrasi
Dalam rancangan yang disusun, kawasan Balai Latihan Kerja dikembangkan sebagai pusat pengembangan keterampilan yang terintegrasi.
Berbagai fasilitas utama ditempatkan secara terstruktur, mulai dari ruang administrasi, ruang teori, ruang praktik, area pelatihan khusus, ruang pendukung, hingga ruang terbuka yang dapat digunakan sebagai sarana interaksi sosial dan pengembangan kreativitas peserta pelatihan.
Penataan massa bangunan dirancang saling terhubung melalui sistem sirkulasi yang jelas dan mudah dipahami. Konsep tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang efektif sekaligus memudahkan mobilitas seluruh pengguna.
Tidak hanya memperhatikan fungsi, tata letak bangunan juga dirancang agar mampu menciptakan suasana yang nyaman, efisien, dan mendukung produktivitas selama proses pelatihan berlangsung.
Universal Design Menjadi Jantung Perancangan
Keunggulan utama rancangan ini terletak pada penerapan prinsip Universal Design secara menyeluruh.
Berbagai elemen aksesibilitas disiapkan untuk memastikan seluruh pengguna dapat mengakses fasilitas tanpa hambatan.
Mulai dari jalur pedestrian ramah difabel, ramp dengan standar kemiringan yang aman, koridor yang cukup luas untuk pengguna kursi roda, toilet difabel, area parkir khusus, hingga sistem wayfinding yang membantu pengguna memahami orientasi kawasan dengan mudah.
Seluruh elemen tersebut dirancang sebagai bagian integral dari bangunan, bukan sekadar fasilitas tambahan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa aksesibilitas bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagian penting dari kualitas sebuah desain arsitektur yang berorientasi pada manusia.
Memadukan Fungsi, Estetika, dan Keberlanjutan
Selain fokus pada aksesibilitas, rancangan Balai Latihan Kerja ini juga memperhatikan aspek kenyamanan lingkungan.
Pemanfaatan pencahayaan alami dan ventilasi silang diterapkan untuk menciptakan kualitas ruang yang sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi buatan.
Keberadaan ruang terbuka hijau menjadi bagian penting dalam rancangan kawasan. Selain berfungsi sebagai elemen ekologis, area tersebut juga menjadi ruang interaksi sosial yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih humanis.
Penataan bangunan yang memperhatikan hubungan antar fungsi ruang juga menunjukkan kemampuan perancang dalam mengintegrasikan kebutuhan operasional dengan nilai estetika dan keberlanjutan lingkungan.
Bukti Kompetensi Mahasiswa Arsitektur dalam Menjawab Tantangan Nyata
Melalui konsep desain, gambar kerja, dan maket yang dipresentasikan, Rezky menunjukkan kemampuan dalam menerjemahkan kebutuhan masyarakat ke dalam sebuah solusi arsitektur yang aplikatif.
Maket yang disusun memberikan gambaran menyeluruh mengenai pola sirkulasi, zonasi kawasan, hubungan antarbangunan, serta implementasi prinsip Universal Design pada setiap elemen perancangan.
Kemampuan mengintegrasikan aspek teknis, sosial, dan estetika menjadi nilai tambah yang membuat rancangan ini memperoleh apresiasi dari tim penguji.
Tidak hanya memenuhi standar akademik, rancangan tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk menjadi referensi dalam pengembangan fasilitas pelatihan kerja yang lebih inklusif di Kabupaten Sidenreng Rappang maupun daerah lainnya.
Lima Fakta Menarik dari Rancangan BLK Berbasis Universal Design
1. Mengutamakan Semua Pengguna
Rancangan ini dapat diakses oleh penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, ibu hamil, hingga masyarakat umum tanpa perlakuan khusus.
2. Menggunakan Konsep Universal Design
Seluruh kawasan dirancang berdasarkan prinsip desain yang mengedepankan kesetaraan akses dan kemudahan penggunaan bagi semua orang.
3. Mengintegrasikan Berbagai Fasilitas Pelatihan
BLK dirancang sebagai pusat pengembangan keterampilan yang lengkap dengan ruang teori, praktik, administrasi, dan fasilitas pendukung.
4. Ramah Lingkungan dan Hemat Energi
Pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan ruang terbuka hijau menjadi bagian penting dalam desain kawasan.
5. Berpotensi Menjadi Referensi Pembangunan Daerah
Konsep yang dihasilkan dinilai relevan untuk mendukung pembangunan fasilitas publik yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Dari Tugas Akhir Menjadi Gagasan untuk Masa Depan
Karya akademik terbaik selalu lahir dari kemampuan melihat kebutuhan nyata masyarakat dan menerjemahkannya menjadi solusi yang dapat dirasakan manfaatnya.
Melalui rancangan Balai Latihan Kerja berbasis Universal Design ini, Rezky Aprilulianto tidak hanya menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa arsitektur, tetapi juga menghadirkan sebuah gagasan yang mencerminkan masa depan pembangunan yang lebih inklusif.
Di tengah upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, fasilitas pelatihan yang dapat diakses oleh semua kalangan menjadi investasi penting bagi kemajuan daerah.
Karena sejatinya, pembangunan yang berhasil bukan hanya tentang menghadirkan bangunan yang megah, tetapi tentang menciptakan ruang yang memberi kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik. Dari ruang studio arsitektur hingga kebutuhan masyarakat, gagasan ini menjadi bukti bahwa desain yang baik mampu menghadirkan perubahan yang bermakna.















