![]() |
Temuan Menarik dari Penelitian Mahasiswa Pascasarjana UMS Rappang Asnih, Kebiasaan Membaca di Rumah Ternyata Jadi Penentu Utama Literasi Siswa SD |
NARASIRAKYAT – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas literasi nasional, sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru sekaligus mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) mengungkap fakta menarik. Kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga sangat ditentukan oleh kebiasaan membaca yang dibangun di lingkungan keluarga serta ketersediaan buku bacaan di rumah.
Temuan tersebut dipaparkan oleh Asnih dalam Ujian Seminar Hasil Tesis yang digelar di Ruang Ujian Lantai 2 Gedung Rektorat UMS Rappang, Rabu (3/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia mempresentasikan hasil penelitian berjudul “Pengaruh Kebiasaan Membaca di Rumah dan Ketersediaan Buku Bacaan terhadap Kemampuan Literasi Membaca Siswa Kelas IV UPT SD Negeri 1 Kulo.”
Seminar hasil tesis tersebut dipimpin oleh tim penguji yang terdiri atas Dr. Muhammad Hanafi, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Penguji, Dr. Yusmah, S.S., M.Hum. sebagai Sekretaris Penguji, serta Prof. Dr. Jamaluddin Ahmad, S.Sos., M.Si., Dr. Nuraini Kasman, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Aswadi, S.Pd., M.Pd. sebagai Penguji I, II, dan III.
Sebagai seorang guru yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan peserta didik, Asnih melihat bahwa kemampuan membaca memiliki peran yang sangat strategis dalam keberhasilan belajar siswa. Menurutnya, literasi membaca bukan sekadar kemampuan mengenali huruf atau melafalkan kata-kata, tetapi mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis isi bacaan, hingga mengevaluasi pesan yang terkandung di dalamnya.
“Literasi membaca menjadi fondasi utama dalam pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan siswa pada berbagai mata pelajaran. Oleh karena itu, penguatan budaya membaca harus menjadi perhatian bersama,” jelas Asnih saat memaparkan hasil penelitiannya.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh data Asesmen Nasional Tahun 2023 yang menunjukkan bahwa sebanyak 34 persen siswa sekolah dasar kelas atas di Indonesia masih berada di bawah kompetensi minimum literasi membaca. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa masih terdapat tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas literasi generasi muda.
Berangkat dari persoalan tersebut, Asnih melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana kebiasaan membaca di rumah dan ketersediaan buku bacaan memengaruhi kemampuan literasi membaca siswa sekolah dasar.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan temuan yang cukup kuat. Kebiasaan membaca di rumah terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan literasi membaca siswa dengan nilai t hitung sebesar 3,12 dan tingkat signifikansi 0,005.
Tidak hanya itu, ketersediaan buku bacaan juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan dengan nilai t hitung sebesar 2,45 dan tingkat signifikansi 0,021.
Lebih menarik lagi, ketika kedua variabel tersebut dianalisis secara bersamaan, hasilnya menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kemampuan literasi membaca siswa. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 18,76 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Penelitian ini juga menemukan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,652. Artinya, sebesar 65,2 persen kemampuan literasi membaca siswa dipengaruhi oleh kebiasaan membaca di rumah dan ketersediaan buku bacaan. Sementara 34,8 persen sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa pendidikan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki kontribusi yang sangat besar dalam membentuk kebiasaan membaca anak sejak usia dini.
Menurut Asnih, membangun budaya membaca di rumah tidak selalu membutuhkan biaya besar. Langkah sederhana seperti menyediakan buku bacaan yang sesuai usia anak, meluangkan waktu membaca bersama, serta memberikan teladan membaca dari orang tua dapat menjadi investasi penting bagi perkembangan literasi anak.
Ketua Penguji, Dr. Muhammad Hanafi, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dilakukan Asnih karena mengangkat isu yang sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
“Penelitian ini memberikan gambaran bahwa lingkungan keluarga memiliki kontribusi besar dalam membentuk kemampuan literasi anak. Temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah maupun orang tua untuk lebih aktif membangun budaya membaca di rumah,” ujarnya.
Ia menilai hasil penelitian tersebut memiliki nilai praktis yang tinggi karena dapat dijadikan referensi dalam merancang program penguatan literasi yang melibatkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Lebih lanjut, Dr. Muhammad Hanafi berharap hasil penelitian ini tidak berhenti sebagai syarat akademik penyelesaian studi semata, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di bidang literasi membaca.
“Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kualitas literasi membaca siswa di Kabupaten Sidenreng Rappang maupun daerah lainnya,” harapnya.
Melalui penelitian ini, UMS Rappang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah tantangan rendahnya tingkat literasi nasional, penelitian seperti yang dilakukan Asnih menjadi bukti bahwa solusi pendidikan dapat lahir dari ruang-ruang akademik yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Lima Fakta Menarik dari Penelitian Asnih
Penelitian dilakukan pada siswa kelas IV UPT SD Negeri 1 Kulo untuk mengukur faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan literasi membaca.
Kebiasaan membaca di rumah terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan literasi siswa.
Ketersediaan buku bacaan di rumah juga menjadi faktor penting yang mendukung peningkatan kemampuan membaca anak.
Sebanyak 65,2 persen kemampuan literasi siswa dipengaruhi oleh kombinasi kebiasaan membaca di rumah dan ketersediaan buku bacaan.
Penelitian menegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis sebagai mitra sekolah dalam membangun budaya literasi sejak dini.
Literasi Hebat Dimulai dari Rumah
Di balik keberhasilan seorang anak dalam memahami bacaan, terdapat peran besar keluarga yang sering kali tidak terlihat. Setiap buku yang tersedia di rumah, setiap cerita yang dibacakan orang tua, dan setiap kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak kecil merupakan investasi berharga bagi masa depan anak. Penelitian Asnih mengingatkan bahwa membangun generasi yang cerdas dan literat bukan hanya tugas sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Dari rumah yang gemar membaca, lahirlah generasi yang siap belajar, berpikir kritis, dan menghadapi masa depan dengan lebih percaya diri.















