![]() |
| Ketua PHRI Sidrap sekaligus owner Hotel Grand Zidny Sidrap, Heriyani Yuki Rubi |
SIDRAP, NARASIRAKYAT.ID — Kepedulian terhadap sesama tidak mengenal batas wilayah. Ketika masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi dampak bencana gempa bumi, solidaritas dari berbagai daerah kembali menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan masih menjadi kekuatan besar di tengah masyarakat Indonesia.
Salah satunya datang dari keluarga besar Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan. Para anggota PHRI Sulsel mengumpulkan donasi sebesar Rp30.350.000 sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat NTT yang terdampak bencana gempa beberapa waktu lalu.
Donasi tersebut dihimpun dari sejumlah hotel dan rumah makan yang menjadi bagian dari PHRI di Sulawesi Selatan. Hotel Grand Zidny Sidrap turut mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan tersebut.
Ketua PHRI Sidrap sekaligus owner Hotel Grand Zidny Sidrap, Hj. Heriyani Yuki Rubi, menyampaikan bahwa bantuan tersebut bukan semata-mata tentang jumlah uang yang terkumpul.
Menurut Hj. Yuki sapaan akrabnya, nilai terpenting dari aksi tersebut adalah pesan kemanusiaan, solidaritas organisasi, serta kepedulian bersama terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.
“Bagi kami, bantuan ini bukan sekadar nilai materi, tetapi merupakan pesan kemanusiaan, solidaritas PHRI, serta dukungan nyata melalui kepedulian dan gotong royong ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan,” demikian pesan yang disampaikan Heriyani melalui media sosialnya.
Dari Industri Perhotelan untuk Kemanusiaan
Keterlibatan hotel dan rumah makan dalam penggalangan donasi memperlihatkan bahwa dunia usaha tidak hanya memiliki peran dalam menggerakkan perekonomian, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam aksi sosial dan kemanusiaan.
Bagi PHRI Sulsel, solidaritas tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian anggota terhadap sesama masyarakat Indonesia.
Hotel Grand Zidny Sidrap sebagai salah satu bagian dari jaringan anggota PHRI Sulsel turut memperlihatkan bahwa kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, kemudian bergerak menjadi gerakan bersama yang lebih luas.
Jumlah Rp30,35 juta mungkin tidak dapat menghapus seluruh dampak bencana. Namun, setiap rupiah yang dikumpulkan memiliki arti ketika diberikan kepada mereka yang sedang membutuhkan.
Di balik angka tersebut terdapat kontribusi banyak pihak, mulai dari pemilik usaha, pengelola hotel, rumah makan, hingga masyarakat yang ikut mendukung gerakan solidaritas tersebut.
Lima Fakta Menarik di Balik Donasi PHRI Sulsel
1. Total donasi mencapai Rp30.350.000
Dana tersebut merupakan hasil pengumpulan donasi dari sejumlah anggota PHRI Sulsel.
2. Donasi berasal dari berbagai sektor usaha
Penggalangan dana melibatkan hotel dan rumah makan yang menjadi bagian dari PHRI Sulawesi Selatan.
3. Hotel Grand Zidny Sidrap ikut berkontribusi
Keterlibatan Hotel Grand Zidny Sidrap menjadi bagian dari solidaritas PHRI Sidrap dalam membantu masyarakat terdampak bencana.
4. Bantuan membawa pesan kemanusiaan
Donasi tidak hanya dipandang sebagai bantuan materi, tetapi juga sebagai simbol kepedulian dan solidaritas antarsesama masyarakat Indonesia.
5. Gotong royong menjadi kekuatan utama
Nilai bantuan tersebut lahir dari kontribusi bersama. Semangat gotong royong menjadi pesan penting di balik gerakan kemanusiaan PHRI Sulsel.
Solidaritas yang Melampaui Batas Daerah
Bencana selalu meninggalkan cerita tentang kehilangan dan perjuangan untuk bangkit. Karena itu, dukungan dari berbagai daerah menjadi bagian penting dalam memberikan semangat kepada masyarakat terdampak.
Apa yang dilakukan PHRI Sulsel menunjukkan bahwa solidaritas tidak harus menunggu seseorang berada di lokasi bencana.
Kepedulian dapat hadir melalui donasi, dukungan moral, doa, maupun aksi nyata lainnya.
Dalam konteks tersebut, kontribusi Hotel Grand Zidny Sidrap bersama anggota PHRI Sulsel menjadi bagian dari mata rantai kepedulian yang menghubungkan masyarakat Sulawesi Selatan dengan saudara-saudara mereka di NTT.
Doa untuk NTT
Selain bantuan materi, Hj. Heriyani Yuki Rubi juga menyampaikan harapan agar bencana serupa tidak kembali terjadi.
Ia berharap masyarakat Indonesia, khususnya warga NTT yang terdampak, senantiasa mendapatkan perlindungan dan kekuatan dalam menghadapi masa pemulihan.
“We pray, semoga ke depan tidak terjadi bencana kembali. Masyarakat Indonesia, khususnya NTT, senantiasa dalam lindungan Allah.”
Pesan tersebut menjadi penutup sederhana, tetapi sarat makna.
Sebab pada akhirnya, solidaritas bukan hanya tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir ketika saudara sebangsa sedang membutuhkan.
Dari Sulawesi Selatan untuk NTT, kepedulian itu bergerak. Dari hotel dan rumah makan, terkumpul bantuan. Dan dari gotong royong, lahir harapan.















