![]() |
| Maulid di Ponpes Sehati Passeno, Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid Tekankan Keteladanan Akhlak Rasulullah |
PASSENO, SIDRAP — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Sehati Passeno, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sabtu (26/9/2026), berlangsung dalam suasana penuh khidmat dan keakraban.
Bukan sekadar menjadi momentum mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan yang digelar di Masjid Sehati sejak pukul 08.00 Wita itu juga menjadi ruang mempererat silaturahmi, ukhuwah Islamiyah, serta hubungan keilmuan antarpesantren.
Kehadiran ulama kharismatik asal Mandar, Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid, S.Pd.I., menjadi salah satu momen penting dalam peringatan tersebut.
Annangguru KH. Abdul Syahid Rasyid dikenal sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, sekaligus Pimpinan/Pengasuh Pondok Pesantren Jareqjeq Pambusuang.
Kehadiran beliau disambut hangat oleh Ketua Yayasan Sehati, H. Khudri Mahding, bersama Pimpinan Pondok Pesantren Sehati, Dr. Wahidin Ar Rafany. Orang tua santri, para guru, santri, serta masyarakat sekitar turut hadir memenuhi Masjid Sehati.
Suasana semakin terasa istimewa ketika Annangguru menyampaikan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menghidupkan Kembali Keteladanan Rasulullah
Dalam tausiyahnya, Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid mengingatkan pentingnya menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan arus modernisasi.
Menurutnya, kemajuan zaman perlu diimbangi dengan kekuatan iman, ilmu, dan akhlak.
Pesan tersebut terasa relevan bagi lingkungan pesantren yang selama ini menjadi salah satu benteng pendidikan karakter dan tradisi keilmuan Islam.
Beliau sendiri dikenal memiliki perhatian kuat terhadap penguasaan ilmu-ilmu keislaman, termasuk Nahwu, Sharaf, serta kajian kitab kuning.
Tradisi tersebut juga menjadi bagian penting dari sistem pendidikan di Pondok Pesantren Jareqjeq Pambusuang yang beliau asuh.
Salah satu hal yang menarik dari pesantren tersebut adalah penerapan metode “Nahwu Gantung” atau “Nahwu Kalappo”, sebuah metode pembelajaran tata bahasa Arab yang dikembangkan untuk membantu santri memahami Nahwu secara lebih cepat dan praktis.
Pondok Pesantren Jareqjeq Pambusuang sendiri resmi berdiri pada 31 Juli 2020 dan dalam perkembangannya dikenal menarik minat santri dari berbagai daerah untuk mengikuti pembelajaran, khususnya pada momentum Ramadan.
“Mondok Tanpa HP”, Menjaga Fokus Santri
Di tengah kehidupan generasi muda yang tidak dapat dipisahkan dari teknologi digital, perhatian terhadap pembentukan karakter santri menjadi salah satu hal yang menonjol dari pola pendidikan yang diterapkan di pesantren yang diasuh Andre Gurutta.
Konsep “Mondok Tanpa HP” menjadi salah satu upaya menjaga konsentrasi santri agar lebih fokus pada proses belajar, ibadah, interaksi sosial, dan pendalaman ilmu agama.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Maulid Nabi: bahwa pendidikan bukan hanya tentang kemampuan intelektual, tetapi juga tentang bagaimana ilmu melahirkan akhlak.
Kehadiran Ulama Memperkuat Silaturahmi Pesantren
Pimpinan Pondok Pesantren Sehati Passeno, Dr. Wahidin Ar Rafany, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Annangguru KH. Abdul Syahid Rasyid.
“Alhamdulillah, sebuah keberkahan bagi kami di Sehati Passeno bisa dihadiri langsung oleh Gurutta Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid. Nasihat dan hikmah yang beliau sampaikan menjadi penguat spiritual bagi para santri untuk tetap istiqamah menjaga tradisi kitab kuning dan akhlakul karimah,” ungkapnya.
Menurut Wahidin, kehadiran ulama tidak hanya memberikan tambahan pengetahuan kepada santri, tetapi juga menghadirkan energi spiritual dan motivasi untuk terus menjaga tradisi pendidikan Islam.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sehati, H. Khudri Mahding, memandang pertemuan tersebut sebagai momentum mempererat hubungan antarlembaga pendidikan pesantren.
“Kehadiran Gurutta bukan hanya memberikan ilmu, tetapi juga menjadi penyambung sanad keilmuan dan ukhuwah antara Pesantren Sehati dan Pesantren Jareqjeq Pambusuang,” ujarnya.
Lima Fakta Menarik di Balik Maulid Ponpes Sehati Passeno
- Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid merupakan Ketua MUI Kabupaten Polewali Mandar dan pengasuh Ponpes Jareqjeq Pambusuang.
- Istilah “Annangguru” merupakan sebutan kehormatan dalam tradisi masyarakat Mandar bagi guru atau ulama yang menjadi rujukan keilmuan.
- Ponpes Jareqjeq Pambusuang yang diasuh beliau dikenal dengan metode “Nahwu Gantung” atau “Nahwu Kalappo” dalam pembelajaran tata bahasa Arab.
- Konsep “Mondok Tanpa HP” menjadi salah satu pendekatan untuk menjaga fokus santri terhadap pendidikan agama, ibadah, dan pembentukan akhlak.
- Maulid Nabi di Ponpes Sehati Passeno tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan ukhuwah antarpesantren.
Dari Silaturahmi Menuju Keberkahan
Pertemuan tersebut kemudian diabadikan dalam sebuah potret bersama yang memperlihatkan kebersamaan Ag. KH. Abdul Syahid Rasyid dan H. Khudri Mahding.
Potret itu bukan hanya menjadi dokumentasi sebuah acara, tetapi juga simbol perjumpaan dua lingkungan pesantren yang memiliki semangat sama: menjaga ilmu, membangun karakter generasi, dan merawat ukhuwah.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Annangguru KH. Abdul Syahid Rasyid.
Doa tersebut dipanjatkan untuk keberkahan Pondok Pesantren Sehati Passeno, para santri, guru, orang tua, serta kemajuan umat Islam.
Momentum Maulid Nabi 1448 H di Sehati Passeno pun meninggalkan pesan sederhana namun mendalam: ilmu akan semakin bermakna ketika berjalan bersama akhlak, dan silaturahmi akan menjadi lebih kuat ketika dibangun di atas kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Semoga pertemuan antara para ulama, pengasuh pesantren, guru, santri, orang tua, dan masyarakat tersebut menjadi awal dari semakin eratnya hubungan antarpesantren serta terus menghadirkan keberkahan bagi generasi penerus.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.















