![]() |
| SDN 11 Rappang Hidupkan Literasi Lewat Cerita dalam Dua Bahasa |
RAPPANG, NARASIRAKYAT.ID — Membaca tidak selalu harus dimulai dari halaman buku yang sunyi. Bagi murid UPT SD Negeri 11 Rappang, membaca dapat hadir melalui cerita yang didengar, pesan moral yang direnungkan, dan pengalaman berbahasa yang membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan.
Semangat itulah yang dihadirkan UPT SD Negeri 11 Rappang melalui kegiatan literasi dengan menghadirkan Isumarni, S.Pd., M.Pd., dosen Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah (UMS) Rappang sekaligus penggiat literasi, untuk membacakan cerita di hadapan para murid.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu praktik baik pembelajaran mendalam yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, tetapi juga mendorong murid memahami makna cerita, menangkap pesan moral, mendengarkan dengan saksama, sekaligus mengenal penggunaan bahasa Inggris dalam suasana belajar yang menyenangkan.
Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Pendekatan dwibahasa ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya bagi murid. Mereka tidak hanya menikmati alur cerita, tetapi juga diperkenalkan pada kosakata dan ungkapan bahasa Inggris melalui konteks yang mudah dipahami.
Ketika Cerita Menjadi Ruang Belajar
Di tengah tantangan meningkatkan budaya membaca di kalangan anak-anak, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa literasi dapat dibangun melalui pengalaman yang sederhana tetapi bermakna.
Murid diajak menjadi pendengar aktif. Mereka mengikuti alur cerita, mengenali karakter, memahami peristiwa, kemudian menangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Di sinilah pembelajaran mendalam menemukan ruangnya.
Literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca kata demi kata. Lebih jauh, murid diarahkan untuk memahami, menghubungkan, merefleksikan, dan mengambil makna dari apa yang mereka dengarkan.
Kehadiran praktisi sekaligus akademisi seperti Isumarni juga memberikan pengalaman berbeda bagi murid. Pembelajaran tidak hanya berlangsung antara guru dan buku teks, tetapi membuka kesempatan bagi murid untuk berinteraksi dengan figur dari lingkungan akademik dan komunitas literasi.
Pengalaman tersebut dapat menjadi pemantik tumbuhnya rasa ingin tahu sekaligus minat membaca.
Apresiasi Sekolah untuk Gerakan Literasi
Kepala UPT SD Negeri 11 Rappang, Kartika Evalisa, mengapresiasi dan mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya sekolah menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi murid.
Dukungan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi. Sebab, budaya membaca tidak lahir hanya dari satu kegiatan, tetapi tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten di sekolah.
Kegiatan membaca cerita dengan pendekatan yang interaktif juga dapat menjadi alternatif untuk memperkenalkan buku kepada anak-anak dengan cara yang lebih menyenangkan.
Ketika cerita mampu membuat murid tertarik untuk mendengar, bertanya, memahami, bahkan kemudian ingin membaca sendiri, maka kegiatan literasi telah bergerak dari sekadar aktivitas menjadi sebuah pengalaman belajar.
Dari Rappang Menuju Pengalaman Global
Praktik baik UPT SD Negeri 11 Rappang dalam penguatan literasi juga melengkapi pengalaman sekolah dalam membawa murid berinteraksi dengan tema yang lebih luas.
Sebelumnya, SDN 11 Rappang juga telah tampil di level internasional melalui lomba lintas budaya dan toleransi.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dasar dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal keberagaman, membangun kepercayaan diri, serta memahami bahwa dunia mereka tidak berhenti pada lingkungan sekolah dan daerah tempat tinggal.
Literasi, penguasaan bahasa, pemahaman budaya, dan kemampuan berinteraksi dengan keberagaman pada akhirnya menjadi bagian yang saling berkaitan dalam mempersiapkan murid menghadapi dunia yang semakin terbuka.
Bagian dari Semangat Pendidikan Unggul Sidrap
Apa yang dilakukan SDN 11 Rappang sejalan dengan semangat membangun pendidikan unggul di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Pendidikan unggul bukan semata-mata tentang capaian akademik. Ia juga berkaitan dengan bagaimana sekolah membangun karakter, rasa ingin tahu, kemampuan berkomunikasi, budaya membaca, penghargaan terhadap keberagaman, serta keberanian murid untuk belajar dari berbagai sumber.
Praktik storytelling dwibahasa menjadi contoh bahwa inovasi pembelajaran dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana: menghadirkan cerita, menghadirkan orang yang memiliki pengalaman, dan memberi ruang kepada murid untuk menikmati proses belajar.
Lima Fakta Menarik dari Praktik Literasi SDN 11 Rappang
1. Literasi dikemas melalui storytelling
Murid belajar melalui cerita sehingga kegiatan membaca dan menyimak terasa lebih dekat dengan dunia anak.
2. Menggunakan dua bahasa
Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sehingga literasi sekaligus menjadi ruang pengenalan bahasa asing.
3. Ada pesan moral
Murid tidak hanya mengikuti cerita, tetapi diajak menangkap nilai dan pesan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Melibatkan akademisi dan penggiat literasi
Kehadiran Isumarni, S.Pd., M.Pd. memperluas pengalaman belajar murid melalui interaksi dengan dosen Bahasa Inggris sekaligus penggiat literasi.
5. Memiliki pengalaman di panggung internasional
Sebelumnya, SDN 11 Rappang telah tampil dalam kegiatan lomba lintas budaya dan toleransi di level internasional, memperkuat pengalaman murid dalam mengenal keberagaman dan dunia global.
Literasi yang Dimulai dari Sebuah Cerita
Pada akhirnya, meningkatkan minat baca anak tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit.
Terkadang, semuanya dapat dimulai dari sebuah cerita.
Dari cerita, anak belajar mendengarkan. Dari mendengarkan, mereka belajar memahami. Dari memahami, tumbuh pertanyaan. Dari pertanyaan, lahir rasa ingin tahu. Dan dari rasa ingin tahu, muncul keinginan untuk membaca lebih banyak.
Itulah mengapa praktik baik seperti yang dilakukan UPT SD Negeri 11 Rappang layak menjadi bagian dari gerakan bersama membangun budaya literasi.
Sebab pendidikan yang unggul bukan hanya tentang seberapa banyak anak mampu menghafal, tetapi tentang seberapa jauh mereka mampu memahami, merasakan, bertanya, dan terus memiliki keinginan untuk belajar.
Dari sebuah cerita di ruang sekolah Rappang, sebuah kebiasaan besar sedang ditumbuhkan: anak-anak yang gemar membaca, terbuka terhadap bahasa dan budaya, serta berani melihat dunia lebih luas.















