-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     

    Iklan

    Akademisi IAI DDI Sidrap Tampil di Forum Internasional Malaysia, Angkat Pendidikan Islam dan Inovasi AI

    Satry Polang
    Kamis, 29 Oktober 2026, Oktober 29, 2026 WIB Last Updated 2026-10-29T14:48:06Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Akademisi IAI DDI Sidrap Tampil di Forum Internasional Malaysia, Angkat Pendidikan Islam dan Inovasi AI


    TERENGGANU, NarasiRakyat.id – Akademisi dan presenter dari Institut Agama Islam Darud Da’wah wal Irsyad (IAI DDI) Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, mengambil bagian dalam forum akademik internasional *The International Student Symposium on Frontiers of Southeast Asia Studies (ISOFSEAS) 2026 x IC FlexS* di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Terengganu, Malaysia, Kamis (29/10/2026).


    Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi perguruan tinggi Islam di Sulawesi Selatan dalam diskusi akademik lintas negara. Dalam forum yang berlangsung di Resital Hall, UniSZA, para presenter membahas beragam isu pendidikan kontemporer, mulai dari penguatan pendidikan Islam dalam keluarga hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI) dalam proses pembelajaran.


    Dari IAI DDI Sidrap, dua presenter tampil membawakan gagasan ilmiah yang berkaitan langsung dengan tantangan pendidikan masa kini, yakni Sabil Maksum dan M.N. Jamalia.


    Partisipasi ini tidak sekadar menjadi kesempatan untuk mempresentasikan hasil pemikiran akademik, tetapi juga membuka ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring ilmiah, dan penguatan peran perguruan tinggi dalam merespons perubahan pendidikan di era digital.


    Rektor IAI DDI Sidrap Beri Dukungan dan Apresiasi


    Rektor IAI DDI Sidrap, Dr. H. Mansur, menyampaikan dukungan dan apresiasi terhadap keikutsertaan delegasi dalam kegiatan akademik internasional tersebut melalui keterangan kepada media NarasiRakyat.id.


    Dukungan pimpinan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam mendorong dosen dan mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas akademik, memperluas pengalaman ilmiah, serta berani membawa gagasan dari daerah ke forum internasional.


    Kehadiran akademisi IAI DDI Sidrap dalam simposium di Malaysia juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perspektif pendidikan Islam yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam menghadapi tantangan pembelajaran modern.


    Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga etika, dan beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat.


    Keikutsertaan dalam forum internasional seperti ISOFSEAS 2026 memberikan ruang bagi sivitas akademika untuk memperkaya perspektif tersebut melalui diskusi dengan akademisi dan peserta dari lingkungan pendidikan yang lebih luas.


    Dua Presenter IAI DDI Sidrap Angkat Isu Strategis Pendidikan


    Dalam sesi paralel tatap muka atau Parallel Session 3, dua presenter dari IAI DDI Sidrap mengangkat tema yang berbeda, tetapi saling berkaitan dengan kebutuhan pengembangan pendidikan.


    1. Sabil Maksum: Penguatan Pendidikan Islam dalam Keluarga


    Sabil Maksum mempresentasikan karya berjudul “Problems and Strategies for Strengthening Islamic Education in the Family Environment" atau Problematika dan Strategi Penguatan Pendidikan Islam di Lingkungan Keluarga.


    Tema ini menempatkan keluarga sebagai lingkungan penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai keislaman, dan membentuk kebiasaan positif sejak dini.


    Pendidikan Islam dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan penyampaian pengetahuan agama, tetapi juga menyangkut keteladanan, pembiasaan perilaku baik, komunikasi orang tua dan anak, serta konsistensi penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.


    Melalui kajian tersebut, isu pendidikan keluarga diangkat sebagai bagian dari diskusi akademik yang relevan bagi masyarakat modern. Tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi membuat peran keluarga tetap penting dalam mendampingi tumbuh kembang generasi muda.


    2. M.N. Jamalia: Pemanfaatan AI untuk Kreativitas Guru dan Keterlibatan Siswa


    Sementara itu, M.N. Jamalia membawakan materi “Utilization of AI to Support Teacher Creativity and Student Engagement in Learning” atau Pemanfaatan AI untuk Mendukung Kreativitas Guru dan Keterlibatan Siswa dalam Pembelajaran.


    Topik ini menyoroti peluang penggunaan kecerdasan buatan untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih kreatif dan melibatkan siswa secara aktif.


    Teknologi AI dapat menjadi salah satu sarana untuk membantu guru mengembangkan bahan ajar, merancang aktivitas pembelajaran, dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan peserta didik. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan pertimbangan pedagogis, pengawasan, serta perhatian terhadap etika dan keakuratan informasi.


    Teknologi pada akhirnya merupakan alat pendukung. Peran guru dalam membangun hubungan dengan siswa, menanamkan karakter, serta membimbing proses berpikir tetap menjadi bagian utama dalam pendidikan.


    Kedua tema yang diangkat presenter IAI DDI Sidrap tersebut memperlihatkan dua sisi penting pendidikan: penguatan fondasi karakter melalui keluarga dan pemanfaatan inovasi teknologi untuk mendukung pembelajaran.


    Akademisi IAIN Parepare Bahas Etika AI dan Evaluasi Pembelajaran


    Selain presenter dari IAI DDI Sidrap, tiga akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare juga berpartisipasi dalam sesi paralel yang sama.


    Dr. Mujahidah membawakan materi *“Islamic Ethics and AI Consciousness in ELT”*, yang membahas etika Islam dan kesadaran terkait AI dalam pengajaran bahasa Inggris.


    Nurul Afifah mempresentasikan “Ethics and Security System on AI Implementation in English Language Teaching”, dengan fokus pada etika dan sistem keamanan dalam penerapan AI pada pembelajaran bahasa Inggris.


    Adapun Hasbawati, S.Pd., mengangkat tema “Using Wayground App for English Teaching Evaluation”, mengenai penggunaan aplikasi Wayground untuk evaluasi pengajaran bahasa Inggris.


    Rangkaian presentasi tersebut menunjukkan beragam perhatian akademik terhadap transformasi pendidikan. Penggunaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab etis, perlindungan data, evaluasi pembelajaran yang tepat, dan penguatan kompetensi pendidik.


    Bagi institusi pendidikan tinggi, pembahasan semacam ini menjadi kesempatan untuk bertukar pandangan tentang cara memanfaatkan inovasi secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan tujuan utama pendidikan.


    Prof. Ismail Suardi Wekke Bawakan Gagasan Pendidikan Fleksibel Berkarakter


    Simposium ISOFSEAS 2026 x IC FlexS juga menghadirkan Prof. Dr. Ismail Suardi Wekke sebagai pembicara utama atau keynote speaker. 

    Dalam materi berjudul “Flexible Education with Soul: Blending Freedom and Character” atau Pendidikan Fleksibel yang Berjiwa: Memadukan Kebebasan dan Karakter, ia mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan antara fleksibilitas pendidikan dan pembentukan karakter.


    Gagasan tersebut relevan di tengah perkembangan model pembelajaran yang semakin beragam, termasuk pemanfaatan teknologi digital dan pendekatan pendidikan fleksibel.


    Fleksibilitas memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengakses pengetahuan dan mengembangkan potensinya. Namun, kebebasan belajar tetap membutuhkan nilai, tanggung jawab, dan pendampingan agar proses pendidikan tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya.


    Pesan tersebut memiliki keterkaitan dengan tema yang dibawa para presenter dari Sulawesi Selatan. Baik pendidikan Islam dalam keluarga maupun penggunaan AI dalam pembelajaran sama-sama membutuhkan keseimbangan antara pengetahuan, teknologi, etika, dan karakter.


    LoI Buka Peluang Penjajakan Kerja Sama Perguruan Tinggi


    Agenda ISOFSEAS 2026 x IC FlexS turut mencakup penyerahan Letter of Intent (LoI) kepada pihak UniSZA sebagai langkah awal penjajakan kerja sama dengan perguruan tinggi di Indonesia.


    LoI merupakan dokumen yang menyatakan maksud atau ketertarikan awal untuk menjajaki kerja sama. Penyerahannya menjadi peluang untuk membangun komunikasi kelembagaan dan membuka pembicaraan mengenai kolaborasi akademik lintas negara.


    Meski demikian, penyerahan LoI tidak serta-merta berarti seluruh bentuk kerja sama telah resmi berjalan. Implementasinya tetap bergantung pada kesepakatan lanjutan, ruang lingkup kolaborasi, dan tindak lanjut dari masing-masing institusi.


    Bagi perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, forum internasional seperti ini dapat menjadi pintu untuk memperluas peluang pertukaran akademik, diskusi ilmiah, pengembangan penelitian, dan publikasi bersama.


    Potensi tersebut akan semakin berarti apabila partisipasi dalam forum internasional diikuti dengan tindak lanjut yang konkret di lingkungan kampus.


    Dari Sidrap untuk Percakapan Akademik Asia Tenggara


    Keterlibatan IAI DDI Sidrap dalam ISOFSEAS 2026 memperlihatkan bahwa gagasan akademik dari daerah memiliki ruang untuk berkontribusi dalam percakapan pendidikan yang lebih luas.


    Tema yang dibawa Sabil Maksum dan M.N. Jamalia menyentuh dua kebutuhan penting masyarakat: menjaga kualitas pendidikan karakter melalui keluarga dan memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran.


    Keduanya menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi atau luasnya akses informasi. Pendidikan juga membutuhkan fondasi nilai, tanggung jawab, kreativitas, dan kemampuan memahami kebutuhan manusia.


    Dukungan Rektor IAI DDI Sidrap, Dr. H. Mansur, terhadap partisipasi delegasi diharapkan menjadi dorongan bagi sivitas akademika untuk terus mengembangkan kapasitas dan memperluas jejaring ilmiah.


    Ke depan, pengalaman mengikuti forum internasional diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan wawasan akademik, peningkatan kualitas pembelajaran, dan penguatan kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat.


    Dari Sidrap, gagasan tentang pendidikan Islam, kreativitas guru, dan teknologi pembelajaran kini menjadi bagian dari diskusi akademik lintas negara. Sebuah langkah yang mengingatkan bahwa jarak geografis bukan penghalang untuk berbagi ilmu, membangun kolaborasi, dan menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna.


    Sebab, pendidikan yang maju bukan hanya pendidikan yang mengikuti perkembangan zaman, melainkan pendidikan yang mampu memadukan ilmu pengetahuan, inovasi, dan karakter demi masa depan generasi yang lebih baik.



    LIMA FAKTA MENARIK ISOFSEAS 2026


    1. Digelar di Malaysia: Simposium berlangsung di Resital Hall, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Terengganu, pada 29 Oktober 2026.

    2. Dua presenter IAI DDI Sidrap: Sabil Maksum mengangkat pendidikan Islam dalam keluarga, sedangkan M.N. Jamalia membahas pemanfaatan AI dalam pembelajaran.

    3. Tiga presenter IAIN Parepare: Dr. Mujahidah, Nurul Afifah, dan Hasbawati membahas etika AI serta evaluasi pengajaran bahasa Inggris.

    4. Pendidikan fleksibel dan karakter: Prof. Dr. Ismail Suardi Wekke menjadi pembicara utama dengan materi tentang keseimbangan kebebasan dan karakter dalam pendidikan.

    5. Ada penjajakan kerja sama internasional: Penyerahan LoI kepada UniSZA menjadi bagian dari agenda untuk membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi Indonesia.

    Komentar

    Tampilkan