-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Belajar dari Bali! Mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap Temukan Inovasi Sampah Berbasis Kearifan Lokal

    Satry Polang
    Jumat, 16 Oktober 2026, Oktober 16, 2026 WIB Last Updated 2026-10-17T01:40:44Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Belajar dari Bali! Mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap Temukan Inovasi Sampah Berbasis Kearifan Lokal


    GIANYAR, BALI, NarasiRakyat.id  — Bagaimana jika sampah organik tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi justru menjadi bagian dari solusi lingkungan? Pertanyaan inilah yang menemukan relevansinya ketika mahasiswa Arsitektur Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap) mempelajari praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Bali.


    Dalam rangkaian Studi Kerja Lapangan (SKL) Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik UNISAN Sidrap, pada 10–19 Oktober 2026, mahasiswa mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Cemanggong, Desa Adat Cemenggaon, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.


    Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sampah dapat dihubungkan dengan kehidupan masyarakat, nilai-nilai lokal, dan penataan lingkungan.


    Rombongan memperoleh pembelajaran mengenai sistem pengelolaan sampah yang diinisiasi oleh I Wayan Balik Mustiana, Ketua Badan Pengelola Sampah (BPS) Desa Adat Cemenggaon.


    Bagi mahasiswa arsitektur, pengalaman ini tidak hanya berbicara tentang sampah dan teknologi pengolahannya. Lebih jauh, kunjungan tersebut membuka perspektif mengenai bagaimana desain ruang, fasilitas, kebiasaan masyarakat, dan kearifan lokal dapat saling mendukung untuk membangun lingkungan yang lebih berkelanjutan.


    Teba Modern, Kearifan Lokal yang Menjawab Tantangan Lingkungan


    Salah satu aspek menarik yang dipelajari mahasiswa adalah konsep Teba Modern, sebuah pendekatan yang mengadaptasi kearifan lokal Bali dalam pengelolaan sampah organik secara mandiri.


    Dalam tradisi Bali, teba merujuk pada area di bagian belakang pekarangan rumah yang secara tradisional memiliki fungsi pendukung kehidupan rumah tangga, termasuk pemanfaatan sisa organik. Melalui pendekatan yang lebih terstruktur, gagasan tersebut dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pengelolaan sampah di lingkungan permukiman masa kini.


    Konsep ini memperlihatkan bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Pengetahuan lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun sistem pengelolaan sampah.


    Sampah organik, misalnya, memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang sesuai. Dengan pemilahan sejak sumbernya dan pengelolaan yang tepat, sebagian material organik dapat diarahkan menjadi produk bermanfaat, alih-alih langsung dibuang sebagai residu.


    Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada jenis bahan, metode pengolahan, ketersediaan ruang, dan konsistensi masyarakat dalam menjalankan kebiasaan tersebut.


    Bagi mahasiswa UNISAN Sidrap, pembelajaran ini memberikan gambaran bahwa pengelolaan lingkungan yang efektif membutuhkan keterpaduan antara sistem teknis, perilaku masyarakat, dan konteks budaya setempat.


    Mengapa Pengelolaan Sampah Menjadi Pelajaran Penting bagi Arsitek?


    Arsitektur sering kali dipahami sebagai seni dan ilmu merancang bangunan. Padahal, peran arsitektur juga mencakup bagaimana ruang direncanakan agar dapat mendukung aktivitas manusia sekaligus menjaga kualitas lingkungan.


    Dalam pengelolaan sampah, perencanaan ruang memiliki peran penting. Lokasi fasilitas, akses keluar-masuk, area pemilahan, tempat pengolahan, penyimpanan material, serta hubungan fasilitas dengan permukiman perlu dipertimbangkan secara cermat.


    Penataan yang baik dapat membantu memperlancar alur kerja, mempermudah akses masyarakat, dan mengurangi potensi gangguan terhadap lingkungan sekitar.


    Sebaliknya, fasilitas yang tidak direncanakan sesuai kebutuhan dapat menghadapi persoalan aksesibilitas, keterbatasan ruang, sanitasi, dan efisiensi operasional.


    Karena itu, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh mesin atau teknologi yang digunakan. Desain fasilitas dan kemudahan masyarakat untuk berpartisipasi juga menjadi bagian penting dari sistem tersebut.


    Pengalaman di TPS 3R Cemanggong memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengamati keterkaitan antara fungsi bangunan, perilaku pengguna, dan pengelolaan lingkungan secara langsung.


    Pembelajaran ini sejalan dengan prinsip *sustainable architecture* atau arsitektur berkelanjutan, yaitu pendekatan perancangan yang mempertimbangkan dampak lingkungan, penggunaan sumber daya, kebutuhan manusia, dan keberlanjutan dalam jangka panjang.


    Dari Cemenggaon untuk Inspirasi Pengelolaan Sampah di Sidrap


    Pengalaman belajar di Bali juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memikirkan penerapan prinsip serupa di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).


    Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi budaya, pola permukiman, jenis sampah, ketersediaan lahan, maupun kemampuan pengelolaan. Oleh sebab itu, penerapan model pengelolaan sampah dari daerah lain perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.


    Gagasan seperti pemilahan sampah dari rumah, pengolahan sampah organik secara terdesentralisasi, dan penyediaan fasilitas yang mudah diakses masyarakat dapat menjadi bahan kajian untuk pengembangan lingkungan permukiman yang lebih sehat.


    Mahasiswa arsitektur dapat berkontribusi melalui kajian tata ruang, rancangan fasilitas pengolahan, desain ruang terbuka, serta pengembangan lingkungan yang mendukung kebiasaan masyarakat dalam mengurangi sampah.


    Pendekatan tersebut juga dapat membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat dalam merumuskan solusi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.


    Meski demikian, keberhasilan suatu sistem tidak cukup diukur dari bentuk fasilitasnya. Keberlanjutan operasional, pembiayaan, edukasi, pengawasan, dan partisipasi masyarakat juga perlu menjadi bagian dari perencanaan.


    Dengan demikian, kunjungan ini tidak hanya memperkenalkan praktik pengelolaan sampah di Bali, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk melihat kemungkinan pengembangan solusi yang kontekstual bagi daerah asal mereka.


    Belajar Langsung, Memahami Persoalan Nyata


    Ketua rombongan sekaligus pengampu mata kuliah SKL, Ir. Hasniar Baharuddin, S.T., M.Ars., menekankan bahwa arsitektur memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional.


    Melalui kunjungan ke TPS 3R Cemanggong, mahasiswa diajak memahami bahwa rancangan bangunan dan kawasan harus mampu merespons persoalan lingkungan serta kebutuhan masyarakat.


    “Arsitektur bukan sekadar membangun ruang, melainkan merancang kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan,” demikian pesan yang ditekankan dalam pembelajaran tersebut.


    Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Arsitektur UNISAN Sidrap dalam menghadirkan pembelajaran kontekstual melalui pengamatan langsung di lapangan.


    Dengan melihat praktik pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori perkuliahan dengan persoalan nyata, sekaligus mengembangkan cara berpikir kritis dan kreatif dalam merancang lingkungan binaan.


    Lima Fakta Menarik dari Kunjungan Mahasiswa UNISAN Sidrap


    1. Mengenal TPS 3R

    TPS 3R mengedepankan prinsip Reduce, Reuse, Recycle: mengurangi sampah, menggunakan kembali material yang masih layak, dan mendaur ulang material yang dapat diolah.


    2. Mempelajari Teba Modern

    Konsep ini mengadaptasi kearifan lokal Bali dalam pengelolaan sampah organik secara mandiri dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masa kini.


    3. Sampah organik berpotensi dimanfaatkan kembali

    Dengan pemilahan dan pengolahan yang tepat, sebagian sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi produk berguna, bergantung pada metode dan kualitas hasil pengolahan.


    4. Tata ruang turut menentukan efektivitas fasilitas

    Akses, alur pemilahan, area pengolahan, dan hubungan fasilitas dengan permukiman merupakan aspek penting dalam perencanaan sistem pengelolaan sampah.


    5. Kearifan lokal dapat menjadi inspirasi desain berkelanjutan

    Praktik yang berakar pada budaya setempat dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan solusi lingkungan yang sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.


    Arsitektur yang Berpihak pada Kehidupan

    Kunjungan mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap ke TPS 3R Cemanggong menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fasilitas fisik.


    Diperlukan cara pandang yang menghubungkan pengetahuan teknis, kebiasaan masyarakat, nilai budaya, dan perencanaan ruang agar solusi yang dihasilkan dapat bertahan dalam jangka panjang.


    Dari Desa Adat Cemenggaon, mahasiswa memperoleh pelajaran bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi dalam menjawab tantangan modern. Sementara dari perspektif arsitektur, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya merancang ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan.


    Pada akhirnya, masa depan lingkungan yang lebih baik dapat dimulai dari langkah sederhana: memilah sampah, memanfaatkan kembali sumber daya yang masih berguna, dan merancang ruang yang mendukung perilaku bertanggung jawab.


    Sebab, arsitektur yang bermakna bukan hanya tentang bangunan yang berdiri, melainkan tentang kehidupan yang menjadi lebih baik di dalamnya.

    Komentar

    Tampilkan