![]() |
| Drainase Kota Tak Bisa Asal Bangun! Ar. Izharul Haq Ungkap Pentingnya Pemetaan Spasial di UNISAN Sidrap |
SIDENRENG RAPPANG, NarasiRakyat.id — Genangan air di jalan, saluran drainase yang tidak berfungsi optimal, hingga persoalan sanitasi permukiman merupakan tantangan perkotaan yang tidak cukup diselesaikan dengan pembangunan fisik semata. Dibutuhkan perencanaan berbasis data agar setiap solusi benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam Sesi I Temu Ilmiah dan Workshop Nasional yang berlangsung di Aula Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap), Jumat (16/10/2026).
Dalam forum akademik tersebut, Ketua Program Studi Arsitektur UNISAN Sidrap, Ar. Izharul Haq, S.Ars., M.Ars., memaparkan materi bertajuk “Inovasi Lingkungan Sehat: Pemetaan Spasial Sanitasi dan Mitigasi Drainase Kawasan Perkotaan”.
Sesi ilmiah ini dipandu oleh Ar. Sriany Ersina, S.T., M.T., IAI, sebagai moderator. Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, pakar, dan mahasiswa untuk membahas tantangan lingkungan perkotaan melalui pendekatan keilmuan dan pertukaran gagasan.
Pemaparan Ar. Izharul Haq menekankan pentingnya pemanfaatan pemetaan spasial untuk mengenali kondisi sanitasi, mengidentifikasi wilayah yang rentan terhadap genangan, serta mendukung perencanaan drainase yang lebih tepat sasaran.
Pesan utamanya jelas: sebelum menentukan solusi, persoalan lingkungan perlu dipahami melalui data, kondisi wilayah, dan keterkaitan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya.
Membaca Persoalan Kota Melalui Pemetaan Spasial
Dalam perencanaan perkotaan, persoalan lingkungan sering kali saling berkaitan. Saluran drainase yang tersumbat, perubahan penggunaan lahan, berkurangnya area resapan, dan sistem pembuangan yang tidak terintegrasi dapat memengaruhi kemampuan suatu kawasan dalam mengelola air hujan.
Karena itu, pemetaan spasial menjadi salah satu pendekatan penting untuk memahami persoalan tersebut secara lebih menyeluruh.
Melalui pemanfaatan data lokasi dan informasi kondisi wilayah, perencana dapat mengidentifikasi titik rawan genangan, menelaah pola aliran air, serta memetakan kondisi infrastruktur sanitasi yang membutuhkan perhatian.
Data spasial juga dapat membantu menghubungkan informasi mengenai topografi, jaringan saluran, penggunaan lahan, dan kepadatan permukiman. Jika didukung data lapangan yang memadai, hasil pemetaan dapat menjadi dasar untuk menentukan prioritas penanganan.
Pendekatan ini membuat perencanaan tidak semata-mata bergantung pada perkiraan atau respons setelah masalah terjadi. Sebaliknya, pemerintah dan pemangku kepentingan dapat memiliki gambaran yang lebih terukur mengenai lokasi, penyebab, dan kebutuhan penanganan.
Meski demikian, peta bukanlah solusi tunggal. Keakuratan data, survei lapangan, pemeliharaan infrastruktur, serta koordinasi antarpihak tetap menentukan keberhasilan mitigasi drainase dan perbaikan sanitasi.
Drainase dan Sanitasi Bukan Sekadar Urusan Infrastruktur
Persoalan drainase kerap dipahami sebatas keberadaan selokan atau saluran pembuangan air. Padahal, sistem drainase merupakan bagian dari jaringan pengelolaan air yang harus direncanakan sesuai karakteristik wilayah dan kapasitas infrastruktur.
Saluran yang tersedia belum tentu mampu mengalirkan air secara optimal apabila dimensinya tidak sesuai, mengalami sedimentasi, tersumbat sampah, atau terhubung dengan jaringan yang kapasitasnya terbatas.
Pada saat yang sama, persoalan sanitasi memiliki dimensi yang lebih luas. Pengelolaan air limbah domestik, kondisi fasilitas sanitasi, dan perlindungan kualitas lingkungan perlu diperhatikan agar kawasan permukiman tetap sehat.
Integrasi informasi mengenai drainase dan sanitasi dapat membantu mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan penanganan lebih dahulu. Dengan begitu, intervensi dapat disusun berdasarkan tingkat kerawanan, kebutuhan masyarakat, dan ketersediaan sumber daya.
Dalam konteks perubahan iklim, pendekatan tersebut semakin relevan. Hujan berintensitas tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap sistem drainase, terutama pada kawasan dengan kapasitas saluran yang terbatas dan ruang resapan yang semakin berkurang.
Perencanaan yang tangguh membutuhkan kombinasi antara infrastruktur yang memadai, pengelolaan lingkungan, pemeliharaan rutin, dan kesiapan menghadapi risiko.
Peran Arsitektur dalam Mewujudkan Lingkungan Perkotaan yang Sehat
Pemaparan ini juga memperlihatkan bahwa peran arsitektur tidak berhenti pada desain bangunan. Arsitektur dan perencanaan kawasan memiliki keterkaitan erat dengan kualitas lingkungan tempat masyarakat beraktivitas.
Penataan kawasan permukiman, pengelolaan ruang terbuka, perlindungan area resapan, serta penempatan fasilitas pendukung sanitasi merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan binaan yang sehat dan berkelanjutan.
Bagi mahasiswa arsitektur, pemahaman terhadap pemetaan spasial dapat memperluas cara pandang dalam menyusun rancangan. Sebuah desain idealnya tidak hanya memperhatikan bentuk, fungsi, dan estetika, tetapi juga mempertimbangkan kondisi tapak, aliran air, aksesibilitas, serta dampak pembangunan terhadap lingkungan sekitar.
Pendekatan berbasis data memungkinkan keputusan perancangan menjadi lebih kontekstual. Setiap kawasan memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan analisis dan solusi yang sesuai dengan kondisi setempat.
Dalam kerangka tersebut, pemetaan spasial menjadi jembatan antara pengamatan lapangan, analisis wilayah, dan keputusan perencanaan.
Forum Ilmiah sebagai Ruang Bertukar Gagasan
Sesi I Temu Ilmiah berlangsung interaktif dengan partisipasi peserta yang mengikuti pemaparan dan diskusi. Forum tanya jawab menjadi ruang bagi mahasiswa dan akademisi untuk bertukar pandangan mengenai tantangan penerapan teknologi pemetaan dalam bidang arsitektur lingkungan.
Diskusi semacam ini penting karena persoalan lingkungan perkotaan jarang memiliki satu jawaban yang berlaku untuk semua wilayah. Pendekatan teknis perlu dipadukan dengan pemahaman terhadap kondisi sosial, kebutuhan masyarakat, serta kemampuan pengelolaan infrastruktur.
Melalui forum akademik, gagasan yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian dan pengembangan solusi di masa mendatang.
Kegiatan ini sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana pengetahuan akademik dapat digunakan dalam membaca persoalan nyata di masyarakat.
Lima Fakta Menarik tentang Pemetaan Spasial dan Mitigasi Drainase
1. Peta dapat membantu menemukan titik rawan genangan.
Informasi topografi, jaringan drainase, dan riwayat genangan dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi yang memerlukan perhatian khusus.
2. Drainase berkaitan dengan kondisi seluruh kawasan.
Kinerja saluran dipengaruhi oleh kapasitas jaringan, kondisi lahan, aliran dari kawasan sekitar, serta pemeliharaan infrastruktur.
3. Sanitasi dan drainase merupakan persoalan berbeda, tetapi saling berkaitan.
Drainase berfungsi mengelola limpasan air, sedangkan sanitasi mencakup pengelolaan air limbah dan fasilitas kebersihan. Keduanya perlu direncanakan secara terkoordinasi.
4. Data spasial membantu menentukan prioritas penanganan.
Pemetaan yang didukung verifikasi lapangan dapat membantu mengarahkan sumber daya ke wilayah yang paling membutuhkan intervensi.
5. Perencanaan berkelanjutan membutuhkan kolaborasi.
Arsitek, perencana wilayah, tenaga teknis lingkungan, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan kawasan yang sehat dan tangguh terhadap risiko lingkungan.
Dari Kajian Akademik Menuju Solusi Nyata
Temu Ilmiah dan Workshop Nasional di UNISAN Sidrap menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman akademik, dan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Materi mengenai pemetaan spasial sanitasi dan mitigasi drainase menegaskan pentingnya perencanaan yang berangkat dari pemahaman terhadap kondisi wilayah. Teknologi pemetaan dapat menjadi alat bantu yang kuat, tetapi manfaatnya akan lebih optimal apabila disertai data yang akurat, kajian teknis, dan tindak lanjut yang terencana.
Ke depan, pendekatan serupa dapat menjadi landasan untuk mengembangkan kajian lingkungan perkotaan yang lebih kontekstual, termasuk dalam perencanaan permukiman, pengelolaan air hujan, dan peningkatan kualitas sanitasi.
Pada akhirnya, kota yang sehat tidak hanya dibangun melalui jalan dan saluran yang terlihat secara fisik. Kota yang sehat lahir dari keputusan yang tepat, perencanaan yang terukur, serta kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Dari ruang ilmiah UNISAN Sidrap, pesan itu kembali menguat: pemetaan yang akurat membantu membaca masalah, perencanaan yang tepat mengarahkan solusi, dan kolaborasi menjadi kunci mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.















