![]() |
| Dari Monumen Ganggawa, Pemuda Sidrap Ikrarkan Komitmen Persatuan dan Masa Depan Daerah |
SIDRAP, NarasiRakyat.id — Di tengah ingatan tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Monumen Ganggawa di Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), kembali menjadi ruang untuk meneguhkan semangat kebangsaan. Kali ini, generasi muda hadir membawa pesan tentang persatuan, kolaborasi, kemandirian, dan tanggung jawab membangun masa depan daerah.
Momentum tersebut ditandai dengan pembacaan Deklarasi Monumen Ganggawa Pemuda Sidenreng Rappang Tahun 2026 oleh Bung Anwar, Wakil Ketua Karang Taruna Kabupaten Sidrap, dalam kegiatan Tudang Sipulung Kebangsaan: Forum Dialog Terbuka Pemuda Sidrap 2026, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026.
Di hadapan unsur pemerintah daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, kepala instansi vertikal, organisasi perangkat daerah (OPD), organisasi kemasyarakatan (ormas), organisasi kepemudaan (OKP), organisasi kemahasiswaan (ormawa), pelajar, dan komunitas pemuda, deklarasi tersebut menjadi pernyataan komitmen untuk memperkuat peran pemuda dalam pembangunan Kabupaten Sidrap.
Lebih dari sekadar rangkaian peringatan, deklarasi ini membawa pesan penting: semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada ikrar dan seremoni.
Monumen Ganggawa, tempat sejarah bertemu masa depan
Pemilihan Monumen Ganggawa sebagai lokasi pembacaan deklarasi menghadirkan makna historis sekaligus refleksi bagi generasi muda.
Monumen yang berada di kawasan Pangkajene tersebut mengingatkan masyarakat pada perjuangan rakyat Sidenreng Rappang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Nama Ganggawa berkaitan dengan Badan Perjuangan Ganggawa yang dibentuk di Rappang pada 20 November 1945 dan dipimpin A. Cammi, yang dikenal pula sebagai Hamidong.
Jejak sejarah itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian, pengorbanan, dan persatuan. Nilai-nilai tersebut tetap relevan, meskipun tantangan yang dihadapi generasi sekarang berbeda dengan perjuangan para pendahulu.
Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, pemuda masa kini memiliki tanggung jawab untuk mengisinya dengan pendidikan, karya, inovasi, kepedulian sosial, dan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Di ruang publik yang menyimpan ingatan perjuangan tersebut, deklarasi pemuda menjadi simbol kesinambungan antara sejarah dan masa depan. Warisan perjuangan tidak cukup dirawat melalui monumen, tetapi juga melalui perilaku dan pengabdian generasi penerus.
Tujuh butir deklarasi, satu komitmen untuk Sidrap
Deklarasi Monumen Ganggawa Pemuda Sidenreng Rappang Tahun 2026 memuat tujuh butir yang menggambarkan arah komitmen pemuda dalam kehidupan bermasyarakat dan pembangunan daerah.
Deklarasi tersebut berlandaskan semangat Sumpah Pemuda serta nilai-nilai kearifan lokal Bugis, yakni sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.
Ketiganya mengajarkan pentingnya saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Nilai-nilai ini menjadi fondasi untuk membangun hubungan sosial yang sehat, menjaga persaudaraan, dan merawat kebersamaan di tengah perbedaan.
Tujuh butir deklarasi itu mencakup:
- Sinergi dan kolaborasi. Pemuda berkomitmen bekerja bersama pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk mendukung terwujudnya Sidrap Maju dan Sejahtera.
- Menjaga persatuan. Memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan persaudaraan dalam keberagaman.
- Membangun kemandirian ekonomi. Mendorong kreativitas, inovasi, produktivitas, dan daya saing generasi muda.
- Membangun desa dan menjaga lingkungan. Menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan desa, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
- Mewujudkan generasi sehat dan berkarakter. Menumbuhkan kecerdasan, kepedulian, integritas, serta komitmen menjauhi narkoba.
- Mengawal aspirasi pemuda. Mengubah suara dan gagasan menjadi solusi, rekomendasi kebijakan, serta gerakan nyata.
- Menjadi pelopor perubahan. Menggerakkan persatuan dan berkontribusi dalam pembangunan daerah menuju Sidrap yang maju dan sejahtera.
Ketujuh butir tersebut menegaskan bahwa pemuda bukan sekadar kelompok masyarakat yang akan menerima hasil pembangunan. Mereka juga memiliki peran sebagai mitra, penggerak, pengawas sosial, dan pencipta solusi bagi berbagai persoalan daerah.
Persatuan menjadi fondasi, kemandirian ekonomi menjadi salah satu tujuan, sedangkan kolaborasi dan pengawalan aspirasi menjadi jalan untuk mewujudkan perubahan.
Dari forum dialog menuju kebijakan nyata
Semangat deklarasi tersebut sejalan dengan tema Tudang Sipulung Kebangsaan 2026, yakni “Mimbar Suara Pemuda: Dari Gagasan Menjadi Gerakan, Dari Aspirasi Menjadi Kebijakan, untuk Sidrap Maju dan Sejahtera.”
Tema ini menempatkan dialog sebagai bagian penting dari pembangunan yang partisipatif. Pemuda membutuhkan ruang untuk menyampaikan pandangan, mengidentifikasi persoalan, mengajukan gagasan, dan membangun komunikasi dengan pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya.
Namun, ruang dialog akan memberikan manfaat lebih besar apabila menghasilkan tindak lanjut yang jelas.
Aspirasi yang dihimpun perlu dikonsolidasikan menjadi rekomendasi konstruktif bagi Pemerintah Kabupaten Sidrap dan DPRD, disertai pembahasan mengenai prioritas, pihak yang bertanggung jawab, dan langkah pelaksanaan sesuai kewenangan masing-masing.
Dengan demikian, suara pemuda tidak berhenti sebagai percakapan dalam forum, tetapi dapat menjadi bagian dari proses perumusan kebijakan dan penyelesaian masalah masyarakat.
Di sisi lain, organisasi kepemudaan perlu memperkuat kapasitas anggotanya agar mampu menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, mengembangkan gagasan berbasis kebutuhan masyarakat, dan membangun kolaborasi lintas organisasi.
Budaya dialog yang sehat bukan berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola melalui komunikasi terbuka, sikap saling menghormati, dan kesediaan mencari solusi bersama.
Pemuda dan tantangan pembangunan Sidrap
Komitmen yang disampaikan melalui deklarasi juga berkaitan dengan tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari kesempatan kerja, kemandirian ekonomi, persoalan lingkungan, pencegahan narkoba, hingga penguatan karakter.
Pemuda perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, membangun usaha, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan terlibat dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masa depan mereka.
Pembangunan kepemudaan juga tidak cukup hanya berpusat di kawasan perkotaan. Semangat deklarasi perlu menjangkau desa dan kelurahan agar pemuda di berbagai wilayah memiliki kesempatan yang setara untuk berkontribusi.
Di bidang ekonomi, kreativitas dan inovasi dapat dikembangkan melalui kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, serta kolaborasi dengan pelaku usaha dan lembaga pendidikan. Di bidang sosial, pemuda dapat mengambil peran melalui gerakan lingkungan, edukasi masyarakat, kegiatan kemanusiaan, dan kampanye hidup sehat.
Sementara itu, penguatan organisasi kepemudaan perlu diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat terukur. Keberhasilan tidak hanya dilihat dari jumlah kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga dari persoalan yang berhasil ditangani, masyarakat yang menerima manfaat, dan keberlanjutan program.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan sektor usaha, pemuda dapat menjadi kekuatan produktif yang ikut memperluas peluang sekaligus memperkuat solidaritas sosial di Sidrap.
Lima fakta menarik di balik Deklarasi Monumen Ganggawa
1. Berangkat dari sejarah perjuangan lokal.
Monumen Ganggawa mengingatkan masyarakat pada Badan Perjuangan Ganggawa yang dibentuk di Rappang pada 20 November 1945.
2. Dibacakan oleh perwakilan pemuda.
Deklarasi disampaikan Bung Anwar, Wakil Ketua Karang Taruna Kabupaten Sidrap, sebagai bagian dari refleksi Hari Sumpah Pemuda ke-98.
3. Memuat tujuh komitmen utama.
Persatuan, kolaborasi, kemandirian ekonomi, pembangunan desa, pelestarian lingkungan, pembentukan karakter, dan pengawalan aspirasi menjadi bagian dari arah deklarasi.
4. Mengangkat kearifan lokal Bugis.
Nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge menjadi landasan etis dalam membangun hubungan sosial yang saling menghormati dan menguatkan.
5. Mendorong aspirasi menjadi kebijakan.
Melalui Tudang Sipulung Kebangsaan 2026, deklarasi dihubungkan dengan upaya membuka ruang dialog agar gagasan pemuda dapat dikembangkan menjadi rekomendasi dan gerakan nyata.
Lima hal tersebut memperlihatkan bahwa deklarasi tidak hanya berbicara tentang semangat kebangsaan, tetapi juga tentang bagaimana sejarah, nilai budaya, partisipasi publik, dan agenda pembangunan dapat dipertemukan dalam gerakan kepemudaan.
Menjaga api perjuangan, menyalakan masa depan
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 menjadi kesempatan untuk kembali meneguhkan arti persatuan di tengah perubahan zaman. Deklarasi di Monumen Ganggawa mengingatkan bahwa semangat kebangsaan perlu hadir dalam tindakan sehari-hari, mulai dari menghargai perbedaan hingga mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Pemuda Sidrap diharapkan tidak hanya lantang menyampaikan gagasan, tetapi juga bersedia bekerja; tidak hanya berani mengkritik, tetapi juga menawarkan alternatif; dan tidak hanya menginginkan perubahan, tetapi ikut menjalankannya.
Pada saat yang sama, komitmen pemuda perlu diimbangi dengan ruang partisipasi, dukungan, dan kesempatan yang nyata. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, serta seluruh pemangku kepentingan memiliki peran dalam memastikan potensi generasi muda dapat berkembang secara produktif.
Sebab, masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh keputusan yang dibuat hari ini, tetapi juga oleh sejauh mana generasi mudanya dipersiapkan, didengar, dan dilibatkan.
Dari Monumen Ganggawa, pesan itu kembali ditegaskan: merawat warisan perjuangan berarti melanjutkan nilai-nilainya melalui karya, integritas, persatuan, dan pengabdian.
Pemuda Bersatu, Sidrap Maju. Pemuda Bergerak, Sidrap Sejahtera. Pemuda Berdampak, Sidrap untuk Indonesia.
SAROMASE Sidenreng Rappang.















