![]() |
| Kemah Santri Pesantren Sehati dan Lapakolongi di Sidrap Merawat Tradisi, Menyiapkan Generasi Indonesia Emas |
NARASIRAKYAT.ID, SIDRAP — Semangat persaudaraan, kecintaan terhadap ilmu agama, dan pelestarian budaya lokal akan mewarnai Kemah Santri Pesantren Sehati dan Lapakolongi di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi santri untuk mengembangkan karakter, kemandirian, dan keterampilan di luar lingkungan kelas.
Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa, 19–20 Oktober 2026, tersebut dipusatkan di lingkungan MIT Lapakolongi. Perkemahan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Pondok Pesantren Sehati yang berlokasi di Panreng, Kecamatan Baranti, dengan Pondok Pesantren Lapakolongi.
Dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026, kemah ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang berkumpul dan berkompetisi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membawa pesan tentang pentingnya membentuk generasi santri yang memiliki keseimbangan antara kekuatan spiritual, kecakapan sosial, keterampilan praktis, dan kepedulian terhadap kebudayaan daerah.
Belajar Menjadi Santri yang Mandiri dan Berkarakter
Pesantren selama ini dikenal sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut mendapat ruang praktik melalui kegiatan perkemahan yang menuntut peserta untuk belajar bekerja sama, menyelesaikan tantangan, serta menghargai perbedaan.
Melalui Kemah Santri Sehati dan Lapakolongi, para peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam suasana pembelajaran yang lebih dinamis.
Kegiatan kepramukaan, misalnya, menjadi sarana melatih kepemimpinan, kekompakan, dan kedisiplinan. Sementara itu, perlombaan yang berkaitan dengan pemahaman hadis memberikan ruang bagi santri untuk memperdalam pengetahuan keislaman.
Perpaduan aktivitas tersebut menghadirkan pendekatan pendidikan yang menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman. Santri tidak hanya belajar memahami nilai-nilai kebaikan, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam interaksi sehari-hari.
Tafsir Bugis, Warisan Keilmuan yang Perlu Dijaga
Salah satu agenda yang menarik perhatian dalam rangkaian kegiatan ini adalah lomba baca tafsir Bugis.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi generasi muda, pelestarian khazanah keilmuan lokal menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya. Tradisi tafsir berbahasa Bugis memperlihatkan bagaimana pesan-pesan keagamaan disampaikan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Kehadiran lomba ini memberi ruang bagi santri untuk mengenal dan menghargai tradisi intelektual Islam yang tumbuh di tanah Bugis.
Pelestarian budaya melalui pendidikan juga menjadi cara untuk mempertemukan warisan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini. Santri diharapkan tidak hanya mengenal tradisi lokal sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga mampu memahami nilai dan relevansinya dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan pesantren dapat berperan dalam merawat identitas daerah sekaligus menyiapkan generasi yang terbuka terhadap perkembangan zaman.
Dari Dapur Perkemahan hingga Panggung Seni Islami
Selain penguatan ilmu agama dan budaya, kegiatan ini turut menghadirkan lomba masak ala santri dan seni Islami.
Lomba memasak menjadi bentuk pembelajaran keterampilan hidup atau *life skill*. Dalam aktivitas tersebut, peserta dapat berlatih mengatur bahan, membagi tugas, mengelola waktu, dan bekerja sama untuk menghasilkan hidangan.
Keterampilan sederhana seperti ini memiliki nilai pendidikan karena berkaitan langsung dengan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kegiatan seni Islami menyediakan ruang bagi santri untuk mengekspresikan kreativitas melalui kegiatan yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Rangkaian agenda tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat berlangsung melalui banyak pendekatan. Pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kerja sama dapat dikembangkan secara bersamaan melalui pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Dr. Wahidin Ar Rafany Dukung Kolaborasi Pendidikan Pesantren
Pimpinan kedua pondok pesantren, Dr. Wahidin Ar Rafany, memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Kemah Santri 2026 sebagai bagian dari upaya membangun kualitas pendidikan pesantren di Kabupaten Sidrap.
Kolaborasi antara Pesantren Sehati dan Pesantren Lapakolongi menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarsantri sekaligus membuka kesempatan belajar melalui berbagai aktivitas bersama.
Dalam keterangan nya, Dr. Wahidin Ar Rafany menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi dan perlombaan, melainkan bagian dari komitmen bersama untuk menghadirkan pendidikan yang mendorong santri menjadi pribadi berakhlak mulia, mandiri, dan berdaya saing.
Santri, menurut pesan yang disampaikan dalam draf tersebut, perlu dibekali ilmu agama yang kuat, kecintaan terhadap tradisi keilmuan lokal, serta keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Lima Fakta Menarik Kemah Santri Sehati dan Lapakolongi
1. Digelar selama dua hari
Kemah Santri dijadwalkan berlangsung pada 19–20 Oktober 2026, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Santri 2026.
2. Mempertemukan dua pesantren
Pondok Pesantren Sehati di Panreng, Kecamatan Baranti, dan Pondok Pesantren Lapakolongi berkolaborasi dalam kegiatan pendidikan berbasis pengalaman.
3. Menggabungkan ilmu agama dan keterampilan
Agenda kegiatan mencakup lomba kepramukaan, memahami hadis, baca tafsir Bugis, memasak, dan seni Islami.
4. Mengangkat tradisi keilmuan Bugis
Lomba baca tafsir Bugis menjadi salah satu agenda yang menonjol karena menghubungkan pembelajaran agama dengan pelestarian khazanah budaya lokal.
5. Mengusung visi Indonesia Emas
Tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” menempatkan pembentukan karakter, kemandirian, dan kecakapan generasi muda sebagai pesan utama kegiatan.
Menyiapkan Santri untuk Masa Depan
Kemah Santri Pesantren Sehati dan Lapakolongi membawa pesan bahwa pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. Pembentukan karakter juga membutuhkan ruang untuk berlatih, berinteraksi, mengambil tanggung jawab, dan belajar dari pengalaman.
Melalui perpaduan kegiatan keagamaan, kepramukaan, seni, keterampilan hidup, dan pelestarian budaya, perkemahan ini diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar para santri.
Bagi Sidrap, upaya memperkuat pendidikan pesantren juga menjadi bagian dari investasi sumber daya manusia. Generasi yang memahami nilai agama, menghargai budaya, mampu bekerja sama, dan memiliki keterampilan praktis akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Pada akhirnya, semangat menuju Indonesia Emas tidak hanya dibangun melalui kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Semangat tersebut juga tumbuh dari ruang-ruang pendidikan yang menanamkan ilmu, akhlak, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama.
Dari perkemahan sederhana, para santri belajar tentang arti kebersamaan. Dari tradisi keilmuan lokal, mereka mengenali akar budayanya. Dan melalui setiap pengalaman belajar, mereka dipersiapkan untuk menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.















