![]() |
Komunitas Bangkit Dari Masjid Telusuri Perbatasan Sidrap–Soppeng, Keteguhan Para Guru Mengaji Kampung Mengajarkan Al-Qur’an |
NARASIRAKYAT — Di tengah keterbatasan fasilitas dan usia yang tak lagi muda, semangat mengajarkan Al-Qur’an tetap menyala di perbatasan Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Soppeng. Kisah inspiratif ini terungkap saat komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap kembali melakukan kunjungan silaturahmi kepada para guru mengaji kampung yang selama puluhan tahun mengabdikan diri untuk pendidikan Al-Qur’an masyarakat.
Kunjungan tersebut menjadi yang kedua kalinya bagi komunitas ini untuk bertemu dengan salah satu sosok yang sangat dihormati di wilayah tersebut, yakni Lamudappe (70). Selama kurang lebih dua dekade, ia telah mengabdikan dirinya mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an di kampungnya.
Salah satu anggota komunitas, Muhammad Amran Amkar, mengungkapkan bahwa pertemuan pertama dengan Guru Lamudappe terasa sangat berkesan.
“Dulu pertama kali kami datang ke sini, rasanya seperti pertemuan antara anak dan orang tua. Kami sampai lupa waktu untuk pulang,” ujarnya mengenang momen tersebut.
Namun kunjungan kali ini menghadirkan suasana berbeda. Guru Lamudappe menceritakan bahwa ia baru saja mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa beraktivitas seperti biasanya.
Di tengah percakapan itu, satu hal yang sangat menyentuh hati para relawan adalah kondisi rumah sang guru yang sudah sangat memprihatinkan.
“Ini nak, rumah sudah hampir roboh. Makanya sekarang banyak tiangnya. Sudah sering diajukan bantuan ke pemerintah, tapi sampai sekarang belum ada,” ungkap Guru Lamudappe dengan penuh harap.
Mendengar hal tersebut, salah satu penggerak komunitas yang akrab disapa Abuya Asong menyampaikan harapannya agar melalui gerakan sosial dan media sosial, ada pihak yang tergerak membantu memperbaiki rumah guru mengaji tersebut.
“Insya Allah pak, doakan kami supaya bisa mendapatkan sponsor untuk mewujudkan mimpi itu,” ucapnya dengan haru.
Guru Mengaji Tunanetra yang Tetap Mengajar
Perjalanan silaturahmi komunitas tersebut tidak berhenti di sana. Mereka juga mengunjungi seorang guru mengaji bernama Hadianti (37), yang telah lima tahun mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di Desa Teteaji.
Yang membuat kisahnya begitu menginspirasi adalah kondisi beliau yang tunanetra. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak pernah menghalangi semangatnya untuk terus mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi muda di sekitarnya.
Dengan penuh keikhlasan, ia justru memandang kondisi tersebut sebagai bentuk karunia dari Allah.
“Saya yakin Allah menjaga mata saya sehingga bisa dipakai di surga nanti,” ujarnya penuh keyakinan.
Dedikasi Puluhan Tahun Mengajar Al-Qur’an
Kisah inspiratif lainnya datang dari Halifah (90), salah satu warga tertua di Desa Teteaji. Ia telah hampir 70 tahun mengajar mengaji kepada masyarakat sekitar.
Atas dedikasinya yang panjang, beliau pernah mendapatkan hadiah logam mulia sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya dalam mendidik generasi Qur’ani.
Sementara itu, komunitas juga menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Abdul Hakim (75), yang telah 25 tahun mengajar mengaji kepada anak-anak di kampungnya.
Lima Fakta Menarik Guru Mengaji Kampung di Sidrap
1. Puluhan Tahun Mengajar Tanpa Pamrih
Beberapa guru mengaji yang dikunjungi telah mengajar Al-Qur’an selama 20 hingga 70 tahun.
2. Mengajar di Tengah Keterbatasan
Ada guru yang tetap mengajar meskipun rumahnya hampir roboh.
3. Semangat Mengaji Meski Tunanetra
Salah satu guru tetap aktif mengajar walaupun memiliki keterbatasan penglihatan.
4. Menjadi Penjaga Tradisi Pendidikan Al-Qur’an Kampung
Mereka menjaga tradisi pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat pedesaan.
5. Menginspirasi Gerakan Sosial
Kisah mereka menggerakkan komunitas sosial untuk membantu dan memberikan perhatian lebih.
Harapan untuk Para Guru Al-Qur’an Kampung
Kisah para guru mengaji kampung ini menjadi pengingat bahwa pendidikan Al-Qur’an sering kali berdiri di atas ketulusan dan pengabdian, bukan pada fasilitas yang mewah.
Di balik rumah sederhana dan keterbatasan fisik, ada semangat luar biasa untuk menjaga generasi tetap dekat dengan Al-Qur’an.
Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap berharap bantuan dari para dermawan dapat menjadi jalan kebaikan bagi para guru mengaji tersebut, khususnya untuk membantu memperbaiki rumah Guru Lamudappe yang hampir roboh.
Lebih dari itu, mereka juga memendam satu mimpi besar: suatu hari nanti dapat membawa para guru mengaji tersebut belajar Al-Qur’an di depan Ka’bah di Masjidil Haram dan di Masjid Nabawi.
Sebuah mimpi yang lahir dari rasa cinta kepada para guru yang selama puluhan tahun menanamkan cahaya Al-Qur’an di kampung-kampung sederhana.
Sebagaimana diungkapkan Abuya Asong:
“Melihat semangat para orang tua yang masih mengajar mengaji membuat kami yakin, suatu hari nanti kami bisa mewujudkan mimpi untuk memberi hadiah kepada mereka—belajar Al-Qur’an dengan latar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Aamiin.”







.jpeg)











