-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Inovasi “Hama Jadi Cuan”! Mahasiswa UNISAN Sidrap Sulap Ikan Sapu-Sapu Jadi Pakan Ternak Bernilai Tinggi di KBMK 2026

    Satry Polang
    Kamis, 30 April 2026, April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-05-01T01:55:02Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Inovasi “Hama Jadi Cuan”! Mahasiswa UNISAN Sidrap Sulap Ikan Sapu-Sapu Jadi Pakan Ternak Bernilai Tinggi di KBMK 2026



    NARASIRAKYAT — Kreativitas mahasiswa kembali membuktikan bahwa masalah bisa diubah menjadi peluang. Kali ini, Tim “Hama To Cuan” dari Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap) tampil dalam ajang Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMK) 2026 kategori Perencanaan Bisnis dengan inovasi unik: mengolah ikan sapu-sapu—yang selama ini dianggap hama—menjadi pakan ternak berkualitas dan ekonomis.


    Dari Hama Menjadi Solusi Ekonomi

    Ikan sapu-sapu selama ini menjadi persoalan serius di perairan seperti Danau Sidenreng. Dominasi hingga sekitar 40% tangkapan nelayan menjadikannya beban karena tidak memiliki nilai jual.


    Namun di tangan mahasiswa kreatif, masalah ini diubah menjadi solusi berbasis circular economy—mengolah limbah biologis menjadi produk bernilai tambah tinggi.


    Tim Hama To Cuan melihat potensi besar dari kandungan nutrisi ikan ini yang kaya protein, asam amino esensial, serta mineral penting seperti kalsium dan fosfor, yang sangat dibutuhkan dalam pakan ternak.


    Inovasi yang Menjawab Tiga Masalah Sekaligus

    Inovasi ini tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga menjawab tiga persoalan utama sekaligus:

    1. Masalah lingkungan – mengurangi populasi ikan invasif

    2. Masalah ekonomi nelayan – memberikan nilai jual baru

    3. Masalah peternak – menyediakan pakan murah dan berkualitas


    Melalui pendekatan strategis berbasis SWOT dan PESTEL, tim ini menunjukkan pemahaman mendalam terhadap tantangan dan peluang industri.


    Kelemahan seperti persepsi negatif masyarakat dan keterbatasan alat produksi diimbangi dengan peluang besar dari tingginya permintaan pakan ternak serta dukungan kebijakan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku pakan.


    Proses Produksi: Sederhana, Efisien, dan Berkelanjutan

    Proses produksi dirancang dengan kombinasi metode tradisional dan teknologi sederhana:

    • Penangkapan dan pembersihan ikan

    • Perebusan dan penjemuran alami

    • Penggilingan menjadi tepung ikan

    • Pencampuran, pencetakan, dan pengemasan

    Pendekatan ini membuat produksi tetap efisien namun mudah diterapkan oleh masyarakat lokal.


    Analisis Bisnis: Murah, Kompetitif, dan Menguntungkan

    Dari sisi finansial, model bisnis ini sangat kompetitif:

    • Harga jual: Rp8.000/kg

    • Lebih murah 33% dari pasar (Rp12.000/kg)

    • Estimasi keuntungan: hingga Rp14.490/kg

    Dengan harga yang lebih terjangkau, produk ini berpotensi besar menarik minat peternak sekaligus menekan biaya produksi mereka.


    5 Fakta Menarik yang Jarang Diketahui

    1. Ikan sapu-sapu bisa mencapai 40% hasil tangkapan nelayan di Sidrap.

    2. Kandungan proteinnya sangat tinggi dan cocok untuk pakan ternak.

    3. Produk ini dijual 33% lebih murah dari harga pasar.

    4. Inovasi ini mendukung pengurangan impor bahan pakan.

    5. Mengusung konsep circular economy berbasis potensi lokal.


    Ajakan Dukungan untuk Mahasiswa Inovatif

    Perjuangan Tim Hama To Cuan di KBMK 2026 bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang membawa solusi nyata bagi masyarakat.


    Dukung mereka dengan like, comment, dan subscribe di YouTube!

    https://youtu.be/bgtVDSo-ToU?si=qA6Q0JHaQU3KlOyF


    Ketika banyak orang melihat hama sebagai masalah, mahasiswa UNISAN Sidrap justru melihat peluang. Dari Danau Sidenreng, lahir inovasi yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menyelamatkan lingkungan dan memberdayakan masyarakat. Inilah bukti bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi yang mampu berpikir berbeda.

    Komentar

    Tampilkan