-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Dr. H. Mansur, Rektor IAI DDI Sidrap Refleksi Idul Adha Belajar Ikhlas dari Pengorbanan

    Satry Polang
    Rabu, 27 Mei 2026, Mei 27, 2026 WIB Last Updated 2026-05-28T03:38:49Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Oleh: Dr. H. Mansur, Rektor IAI DDI Sidrap



    NARASIRAKYAT ---- Idul Adha baru saja berlalu, meninggalkan banyak cerita dan kenangan yang membekas di hati umat Islam. Salah satu yang paling terasa adalah banyaknya undangan makan bersama maupun kiriman daging kurban dari sahabat, keluarga, dan tetangga. Suasana kebersamaan dan kepedulian sosial begitu terasa di tengah masyarakat.


    Tahun ini, semangat berkurban juga tampak begitu besar. Bahkan Presiden Republik Indonesia turut berkurban sebanyak 1.098 ekor sapi yang disalurkan ke berbagai daerah. Fenomena ini tidak hanya dimaknai sebagai “banjir daging kurban”, tetapi lebih dari itu, menjadi simbol hidupnya nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.


    Hakikat Idul Adha sejatinya bukan sekadar menyembelih hewan kurban, melainkan meneladani kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah tentang dua manusia pilihan yang menunjukkan ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT, bahkan ketika nyawa dan perasaan menjadi taruhannya. Dari peristiwa itu, umat Islam diajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus berada di atas segala kepentingan duniawi.


    Dalam konteks kekinian, berkurban juga memiliki makna sosial yang sangat mendalam. Di dalam diri manusia sering kali tumbuh hegemoni sosial, rasa ingin memiliki lebih banyak, keinginan dipuji, hingga kecenderungan untuk hidup individualis. Melalui ibadah kurban, seorang muslim diajak melepaskan ego tersebut dan memilih jalan kedermawanan.


    Berkurban berarti belajar menjadi pribadi yang pemurah, peduli, dan mencintai sesama manusia. Daging kurban yang dibagikan bukan sekadar makanan, tetapi simbol kasih sayang dan solidaritas sosial. Ada kebahagiaan yang tercipta ketika masyarakat yang kurang mampu dapat merasakan nikmatnya berbagi di hari raya.


    Di sisi lain, Idul Adha juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa. Sebagian besar peternak sapi berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang hidup di pedesaan. Momentum hari raya kurban menjadi kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan melalui penjualan hewan ternak kepada masyarakat kota.


    Dengan demikian, ibadah kurban sesungguhnya menghadirkan perputaran ekonomi yang lebih merata dari kota ke desa. Ada nilai pemberdayaan ekonomi rakyat kecil yang tumbuh dari semangat beribadah dan berbagi.


    Saat ini, tulisan reflektif ini dibuat langsung oleh penulis di tengah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Di tempat yang menjadi pusat sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS, pesan Idul Adha terasa semakin kuat: bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dipenuhi keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama.


    Semoga semangat Idul Adha tidak berhenti pada perayaan tahunan semata, tetapi terus hidup dalam perilaku sehari-hari, menghadirkan masyarakat yang lebih peduli, dermawan, dan berkeadilan sosial.

    Komentar

    Tampilkan