![]() |
| Inovasi Pembagian Rapor di SDN 11 Rappang, Terapkan 3-Way Conference: Murid Jadi Pemimpin Percakapan, Orang Tua Jadi Mitra Belajar |
SIDRAP, NarasiRakyat.id – UPT SD Negeri 11 Rappang kembali menghadirkan terobosan dalam dunia pendidikan dengan menerapkan 3-Way Conference, sebuah model pembagian rapor yang menempatkan murid sebagai tokoh utama dalam menyampaikan perjalanan belajarnya kepada orang tua dan guru.
Inovasi yang masih jarang diterapkan di tingkat sekolah dasar ini menjadi langkah progresif dalam membangun budaya belajar yang berpihak kepada murid. Tidak lagi sekadar menerima rapor, setiap peserta didik diberi ruang untuk merefleksikan pencapaian, mengakui tantangan yang dihadapi, serta menyampaikan rencana perbaikan secara langsung di hadapan orang tua dan guru.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen UPT SDN 11 Rappang dalam mendukung program Pendidikan Unggul Kabupaten Sidenreng Rappang, yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga penguatan karakter, kepemimpinan, komunikasi, dan tanggung jawab peserta didik.
Murid Menjadi Pemimpin Percakapan
Berbeda dengan pembagian rapor konvensional yang umumnya didominasi penjelasan guru kepada orang tua, model 3-Way Conference menghadirkan tiga unsur utama dalam satu forum.
Dalam konsep ini:
- Murid menjadi pemimpin percakapan dengan mempresentasikan perjalanan belajarnya.
- Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan diskusi.
- Orang tua hadir sebagai pendukung sekaligus mitra dalam proses pendidikan anak.
Melalui pendekatan tersebut, rapor tidak lagi dipandang sebagai kumpulan angka semata, melainkan menjadi ruang refleksi yang membangun kesadaran belajar dan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap proses pendidikan.
Memanusiakan Pendidikan
Kepala UPT SDN 11 Rappang, Kartika Evalisa, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih humanis dan berpusat pada murid.
"Apakah sempurna? Tentu tidak, mulai saja dulu. Eksekusi, refleksi, perbaikan, lalu eksekusi kembali secara berulang untuk kemajuan yang lebih baik. Melalui ruang ini, anak-anak SD dilatih untuk berani merefleksikan diri dan bertanggung jawab atas proses belajarnya," ungkapnya.
Menurut Kartika, sekolah ingin mengubah cara pandang terhadap rapor.
"Rapor bukan lagi alat penghakiman berdasarkan angka, tetapi menjadi ruang apresiasi atas proses tumbuh kembang anak. Inilah esensi Merdeka Belajar, ketika murid diberi panggung untuk memimpin masa depannya sendiri," jelasnya.
Ia menambahkan, inovasi tersebut selaras dengan visi sekolah JUARA (Jujur, Unggul, Akhlak Mulia, Rajin, Adaptif, dan Berkompetensi dengan 8 Karakter Cerdas).
"Kami ingin memastikan setiap murid pulang dengan rasa bangga atas usaha yang telah mereka lakukan, sekaligus memiliki semangat untuk terus berkembang," katanya.
Membangun Kolaborasi Guru dan Orang Tua
Selain mengembangkan karakter murid, model 3-Way Conference juga memperkuat komunikasi antara sekolah dan keluarga.
Dalam forum tersebut, guru, orang tua, dan murid duduk dalam posisi yang sejajar sebagai mitra pendidikan.
Kartika menilai pola komunikasi seperti ini menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat.
"Tidak ada lagi pihak yang saling menyalahkan atau hanya menuntut hasil. Yang ada adalah saling mendukung demi perkembangan anak," ujarnya.
Ia mengakui penerapan perdana ini masih memiliki banyak ruang untuk disempurnakan.
"Sebagai langkah awal tentu masih jauh dari sempurna, tetapi kami akan terus belajar menjadi lebih baik. Ini adalah jembatan terbaik untuk menyelaraskan pendidikan di sekolah dan pola asuh di rumah dengan anak sebagai pusatnya."
Menanamkan Kepemimpinan Sejak Dini
Lebih dari sekadar kegiatan pembagian rapor, sekolah melihat 3-Way Conference sebagai media pembentukan karakter.
Ketika murid mampu mengidentifikasi kekuatan, mengakui kekurangan, serta menyusun target perbaikan, mereka sedang belajar mengambil tanggung jawab terhadap masa depannya sendiri.
"Kemampuan merefleksikan tantangan dan menyusun rencana ke depan adalah keterampilan hidup yang jauh lebih berharga daripada sekadar nilai ujian," tutur Kartika.
Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada murid untuk memimpin percakapan menjadi investasi karakter jangka panjang.
"Ketika kita memberikan kepercayaan kepada murid untuk memimpin percakapan, kita sedang menanamkan benih kepemimpinan dan tanggung jawab yang akan mereka bawa hingga dewasa."
Korwil Disdikbud Beri Apresiasi
Inovasi yang diterapkan SDN 11 Rappang mendapat apresiasi dari Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Panca Rijang, Muh. Syahib.
Ia menilai konsep tersebut sangat relevan dengan arah kebijakan Pendidikan Unggul Sidrap, yang menempatkan penguatan karakter sebagai fondasi utama pendidikan.
"Kami sangat mendukung penuh kegiatan dan inovasi seperti ini. Mendorong murid untuk mempresentasikan pencapaian dan tantangannya sendiri di hadapan orang tua dan guru adalah langkah nyata dalam membangun kepercayaan diri serta karakter kepemimpinan sejak dini," ujarnya.
Menurut Muh. Syahib, inovasi seperti ini layak menjadi inspirasi bagi sekolah lain karena mampu membangun hubungan yang lebih erat antara sekolah, keluarga, dan peserta didik.
Pendidikan yang Berpihak kepada Murid
Penerapan 3-Way Conference menunjukkan bahwa pendidikan masa kini tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kemampuan murid mengenali dirinya, berkomunikasi secara terbuka, serta menyusun langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Melalui pendekatan tersebut, UPT SDN 11 Rappang memperlihatkan bahwa perubahan besar dalam pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas yang sederhana, ketika guru memberi kepercayaan kepada murid untuk berbicara tentang proses belajarnya sendiri.
Model ini sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana inovasi pendidikan dapat memperkuat kolaborasi sekolah dan keluarga demi menciptakan generasi yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Lima Fakta Menarik
- SDN 11 Rappang menjadi salah satu sekolah dasar di Sidrap yang menerapkan model 3-Way Conference dalam pembagian rapor.
- Murid menjadi tokoh utama, mempresentasikan pencapaian, tantangan, dan target belajarnya langsung kepada orang tua.
- Guru bertransformasi menjadi fasilitator, bukan lagi satu-satunya pihak yang menyampaikan hasil belajar.
- Orang tua terlibat aktif sebagai mitra pendidikan melalui dialog terbuka bersama anak dan guru.
- Inovasi ini mendapat dukungan Korwil Disdikbud Kecamatan Panca Rijang karena dinilai sejalan dengan semangat Pendidikan Unggul Sidrap dalam membentuk generasi berkarakter, percaya diri, dan berjiwa pemimpin.
Perubahan besar dalam dunia pendidikan sering kali lahir dari keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Melalui 3-Way Conference, UPT SDN 11 Rappang membuktikan bahwa rapor bukan sekadar lembar penilaian, melainkan ruang dialog yang menumbuhkan keberanian, tanggung jawab, dan kepercayaan diri peserta didik. Ketika murid diberi kesempatan untuk berbicara tentang proses belajarnya sendiri, sesungguhnya sekolah sedang menanamkan fondasi kepemimpinan yang akan mereka bawa sepanjang kehidupan. Inovasi ini menjadi bukti bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memberi ruang bagi setiap anak untuk bertumbuh, didengar, dan dipercaya.















