![]() |
| Dari Pasar Lasoani ke Hati Masyarakat, Nurhalis Nur: Blusukan Itu Hadir, Menyapa dan Mendengar |
PALU, NarasiRakyat.id — Aktivitas jual beli di Pasar Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, berlangsung seperti biasa. Pedagang menawarkan dagangan, pembeli memilih kebutuhan, dan lalu-lalang masyarakat menjadi bagian dari denyut kehidupan pasar.
Namun, di tengah keramaian itu, sebuah pertemuan sederhana meninggalkan kesan tersendiri.
Dalam agenda blusurannya, Nurhalis Nur, Anggota Komisi B DPRD Kota Palu sekaligus Wakil Ketua Fraksi PKS, berkesempatan berjumpa dengan seorang warga bernama Pak Sidik, yang mengaku berdomisili di Nunu, Kecamatan Tatanga.
Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni. Hanya pertemuan singkat di tengah aktivitas pasar.
Tetapi bagi Nurhalis, momen seperti itulah yang justru memiliki nilai penting.
“Setiap orang memiliki cerita dan perjuangan yang layak untuk didengar,” menjadi pesan yang tergambar dari pertemuan tersebut.
Pasar, Tempat Bertemunya Banyak Cerita
Pasar bukan hanya tempat transaksi ekonomi.
Di sana, masyarakat bertemu, berbincang, mencari nafkah, dan menjalani kehidupan dengan segala dinamikanya. Pedagang menggantungkan pendapatan dari barang yang dijual, sementara pembeli datang memenuhi kebutuhan keluarga.
Karena itu, kehadiran seorang wakil rakyat di ruang publik seperti pasar membuka kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.
Bukan melalui laporan di atas meja, melainkan dengan melihat langsung, menyapa dan berbicara dengan warga.
Bagi Nurhalis, blusukan memiliki makna lebih dari sekadar kunjungan.
“Blusukan bukan sekadar bertemu, tetapi hadir, menyapa, mendengar, dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat.”
Pak Sidik dan Cerita yang Sederhana
Di antara hiruk-pikuk Pasar Lasoani, pertemuan dengan Pak Sidik menjadi salah satu potret kecil dari kehidupan masyarakat Kota Palu.
Pak Sidik menyampaikan bahwa dirinya tinggal di Nunu, Kecamatan Tatanga.
Pertemuan itu mungkin berlangsung singkat. Namun, dari perjumpaan sederhana tersebut terselip pesan bahwa perhatian terhadap masyarakat tidak selalu harus dimulai dari forum resmi.
Kadang, kepedulian justru tumbuh dari percakapan singkat di tempat yang sederhana.
Seorang warga memiliki cerita.
Seorang pedagang memiliki perjuangan.
Sebuah keluarga memiliki harapan.
Dan tugas seorang wakil rakyat salah satunya adalah memastikan suara-suara masyarakat tetap memiliki ruang untuk didengar.
Blusukan dan Pengalaman Wakil Rakyat
Dalam kapasitasnya sebagai anggota DPRD Kota Palu, Nurhalis Nur memang memiliki ruang kerja yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. DPRD Kota Palu mencatat Nurhalis sebagai anggota Komisi B dan anggota Badan Pembentukan Perda.
Pengalaman turun langsung ke masyarakat menjadi bagian penting dalam memahami persoalan yang berkembang di lapangan.
Sebelumnya, dalam kegiatan reses, Nurhalis juga menegaskan bahwa masyarakat dapat menyampaikan keluhan dan aspirasi terkait pelayanan publik untuk kemudian menjadi bahan dalam menjalankan fungsi pengawasan DPRD.
Dengan demikian, pertemuan di Pasar Lasoani dapat dilihat sebagai bagian dari pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai sumber informasi utama mengenai kondisi kehidupan sehari-hari.
Lima Fakta Menarik dari Blusukan Nurhalis Nur
1. Berlangsung di Pasar Lasoani
Pertemuan berlangsung di tengah aktivitas masyarakat di Pasar Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu.
2. Bertemu warga dari wilayah berbeda
Nurhalis berjumpa dengan Pak Sidik yang mengaku tinggal di Nunu, Kecamatan Tatanga.
3. Tanpa seremoni
Pertemuan berlangsung secara sederhana di tengah aktivitas pasar, tanpa suasana formal.
4. Nurhalis merupakan anggota DPRD Kota Palu
Data resmi DPRD Kota Palu mencatat Nurhalis Nur sebagai anggota Komisi B dan Wakil Ketua Fraksi PKS periode 2024–2029.
5. Blusukan menjadi ruang mendengar masyarakat
Bagi Nurhalis, turun ke lapangan bukan hanya tentang bertemu warga, tetapi juga menyapa, mendengar dan memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
Mendoakan Pak Sidik
Setelah pertemuan itu, Nurhalis menyampaikan doa dan harapan untuk Pak Sidik.
Ia mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan, kelapangan rezeki serta perlindungan kepada Pak Sidik dan seluruh keluarganya.
Doa tersebut menjadi penutup dari sebuah pertemuan yang sederhana, tetapi sarat makna.
Sebab, di balik aktivitas pasar yang terlihat biasa, selalu ada manusia dengan kisahnya masing-masing.
Dari Pasar, Belajar Tentang Kehidupan
Blusukan ke pasar pada akhirnya bukan hanya tentang melihat aktivitas perdagangan.
Lebih jauh, pasar menjadi ruang belajar tentang kehidupan masyarakat.
Ada kerja keras. Ada perjuangan. Ada kebutuhan keluarga. Ada harapan yang mungkin tidak selalu terdengar di ruang-ruang formal.
Pertemuan Nurhalis Nur dengan Pak Sidik menjadi pengingat bahwa politik yang dekat dengan masyarakat dimulai dari kesediaan untuk hadir dan mendengarkan.
Bukan sekadar datang untuk dilihat, tetapi datang untuk melihat.
Bukan sekadar berbicara, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk berbicara.
Dan bukan sekadar bertemu, tetapi membawa pulang cerita, harapan dan persoalan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab seorang wakil rakyat.
Karena pada akhirnya, denyut kehidupan sebuah kota tidak hanya terdengar dari gedung pemerintahan, tetapi juga dari pasar, jalanan, rumah-rumah warga, dan percakapan sederhana di antara sesama manusia.















