-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Bukan Sekadar Bisa Menulis! Mahasiswa LPM PANRITA IAI DDI Sidrap Dibekali Jurus Jurnalistik di Era Media Sosial

    Satry Polang
    Kamis, 08 Oktober 2026, Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T19:26:25Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Bukan Sekadar Bisa Menulis! Mahasiswa LPM PANRITA IAI DDI Sidrap Dibekali Jurus Jurnalistik di Era Media Sosial


    SIDRAP — Menjadi jurnalis di era digital bukan sekadar mampu menulis berita. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, seorang jurnalis dituntut mampu memilah fakta, melakukan verifikasi, memahami karakter audiens, sekaligus menyajikan informasi yang edukatif dan dapat dipercaya.

    Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam Training of Jurnalistik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) PANRITA IAI DDI Sidenreng Rappang yang digelar di Ruangan HTN IAI DDI Sidrap, Kamis (8/10/2026).


    Kegiatan yang mengusung tema “Dari Ruang Redaksi, Menyuarakan Realita; Menajamkan Pena, Menguatkan PANRITA” tersebut merupakan salah satu program kerja LPM PANRITA.

    Dalam kegiatan itu, Satri Polang, S.Pd.I., Gr., yang merupakan Pimpinan PT NarasiRakyat Multimedia, hadir sebagai pemateri dengan membawakan materi “Jurnalistik Digital & Media Sosial.”


    PT NarasiRakyat Multimedia menaungi NarasiRakyat.id, media yang menghadirkan informasi dengan karakter berita edukatif dan informatif melalui platform www.narasirakyat.id.

    Pengalaman praktis di dunia media menjadi salah satu kekuatan dalam penyampaian materi. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai teori jurnalistik, tetapi juga diajak melihat bagaimana proses produksi informasi berlangsung di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin bergantung pada media digital.


    Dari Ruang Redaksi ke Media Sosial

    Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

    Jika dahulu berita menunggu halaman koran atau siaran televisi, kini sebuah peristiwa dapat diketahui publik hanya beberapa menit setelah terjadi.

    Namun, kecepatan tersebut menghadirkan tantangan baru.


    Informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menjadi viral. Judul yang provokatif dapat mengalahkan substansi berita. Bahkan, potongan informasi di media sosial dapat membentuk opini publik sebelum fakta lengkap diketahui.

    Dalam konteks tersebut, mahasiswa yang bergabung dalam pers kampus perlu memiliki kemampuan jurnalistik digital yang memadai.


    Pelatihan yang berlangsung secara interaktif tersebut menjadi ruang diskusi antara pemateri dan peserta. Berbagai pengalaman dan persoalan yang ditemui dalam pengelolaan media digital menjadi bagian dari pembahasan.

    Suasana interaktif membuat materi tidak berhenti pada teori, tetapi berkembang menjadi diskusi mengenai praktik jurnalistik di lapangan.


    Jurnalistik Harus Berpihak pada Fakta

    Dalam penyampaian materinya, Satri Polang mengapresiasi pelaksanaan Training of Jurnalistik yang digagas LPM PANRITA.

    Menurutnya, kegiatan seperti ini penting karena pers mahasiswa dapat menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal dunia jurnalistik sekaligus membangun budaya literasi informasi di lingkungan kampus.


    Pers mahasiswa juga memiliki posisi strategis untuk menyuarakan berbagai realitas di lingkungan akademik dan masyarakat.

    Namun, kebebasan menyampaikan informasi harus berjalan bersama tanggung jawab.


    Berita harus dibangun berdasarkan fakta, informasi perlu diverifikasi, dan kepentingan publik harus menjadi salah satu pertimbangan utama dalam proses jurnalistik.

    Di media sosial, tantangan tersebut semakin besar karena ukuran keberhasilan sebuah konten sering kali dilihat dari jumlah tayangan, komentar, dan pembagian.


    Padahal, viral belum tentu benar, dan berita yang benar tidak selalu harus viral.

    Di sinilah kompetensi jurnalistik menjadi penting.


    Lima Fakta Menarik Training Jurnalistik LPM PANRITA

    1. Digelar sebagai program kerja LPM PANRITA
    Training of Jurnalistik merupakan salah satu program kerja Lembaga Pers Mahasiswa PANRITA IAI DDI Sidrap.

    2. Mengangkat tema yang relevan dengan era digital
    Tema kegiatan menekankan tiga hal penting: menyuarakan realita, menajamkan kemampuan jurnalistik, dan memperkuat organisasi pers mahasiswa.

    3. Materi fokus pada jurnalistik digital dan media sosial
    Peserta mendapatkan pembekalan mengenai tantangan jurnalistik di tengah perkembangan media digital dan media sosial.

    4. Pemateri berasal dari praktisi media
    Materi disampaikan Satri Polang, S.Pd.I., Gr., Pimpinan PT NarasiRakyat Multimedia yang menaungi NarasiRakyat.id.

    5. Pelatihan berlangsung interaktif
    Kegiatan tidak berlangsung satu arah. Peserta aktif mengikuti pembahasan dan berdiskusi sehingga materi lebih dekat dengan realitas kerja jurnalistik di lapangan.


    Pengalaman Praktisi, Bekal bagi Generasi Pers Kampus

    Kehadiran praktisi media dalam kegiatan mahasiswa memberikan perspektif yang berbeda.

    Mahasiswa dapat melihat bahwa dunia jurnalistik tidak berhenti pada kemampuan menulis 5W+1H. Di balik sebuah berita terdapat proses panjang mulai dari menemukan isu, menentukan nilai berita, melakukan peliputan, wawancara, verifikasi, menulis, menyunting hingga mendistribusikan berita kepada pembaca.


    Pada era digital, proses tersebut juga harus memperhitungkan bagaimana sebuah berita ditemukan dan dibaca masyarakat.

    Karena itu, kemampuan jurnalistik kini bersinggungan dengan media sosial, multimedia, visual storytelling, literasi digital hingga optimasi mesin pencari atau SEO.


    Namun, seluruh perkembangan tersebut tetap harus berpijak pada prinsip utama jurnalistik: akurasi, verifikasi, keberimbangan, etika, dan kepentingan publik.


    Menguatkan PANRITA, Menguatkan Literasi

    Training of Jurnalistik LPM PANRITA menjadi momentum penting untuk memperkuat tradisi pers mahasiswa di lingkungan IAI DDI Sidrap.

    Kegiatan semacam ini bukan hanya mencetak mahasiswa yang mampu menulis berita, tetapi juga membangun keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk memeriksa fakta, dan kecakapan untuk menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.


    Bagi pers mahasiswa, ruang redaksi adalah tempat belajar.

    Tempat mahasiswa menemukan isu, menguji fakta, berdiskusi, dan kemudian mengubah realitas menjadi informasi yang bermanfaat bagi pembaca.

    Dan dari proses itulah, kualitas sebuah media dibangun.


    Di tengah zaman ketika setiap orang bisa menjadi pembuat konten, kemampuan membedakan konten dan jurnalistik menjadi semakin penting.

    Jurnalistik bukan hanya tentang siapa yang paling cepat memberitakan.


    Jurnalistik adalah tentang siapa yang paling bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.

    Melalui Training of Jurnalistik, LPM PANRITA IAI DDI Sidrap menunjukkan bahwa semangat pers mahasiswa masih memiliki tempat penting di era digital.


    Sebab, pena yang tajam bukanlah pena yang paling keras bersuara, melainkan pena yang mampu menyampaikan kebenaran berdasarkan fakta, dengan etika dan tanggung jawab.


    Dari ruang redaksi, realita disuarakan.

    Dari tangan mahasiswa, pena ditajamkan.

    Dan dari PANRITA, semangat jurnalistik diharapkan terus tumbuh menjadi kekuatan literasi bagi kampus dan masyarakat.

    Komentar

    Tampilkan