-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Bangkit Dari Masjid Sidrap Berbagi Untuk Mengaji Kampung, Tersimpan Kisah Mengharukan

    Satry Polang
    Jumat, 02 Oktober 2026, Oktober 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T05:37:24Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Bangkit Dari Masjid Sidrap Berbagi Untuk Mengaji Kampung, Tersimpan Kisah Mengharukan 


    MAKASSAR, 3 Oktober 2026 — Sebuah bingkai sederhana di ruang tamu rumah seorang guru mengaji kampung ternyata menyimpan cerita yang baru terungkap bertahun-tahun kemudian.

    Cerita itu disampaikan Pj. Bangkit Dari Masjid (BDM) Sidrap, Munaing Naim, dalam diskusi yang digelar Ikatan Sarjana Asal Sidrap (ISA) di Mess Pemerintah Daerah Sidrap, Makassar.


    Diskusi tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman mengenai kegiatan sosial yang selama hampir empat tahun dijalankan komunitas BDM, khususnya perhatian kepada para guru mengaji kampung.


    Namun, di antara berbagai cerita tentang kegiatan sosial tersebut, ada satu kisah yang menurut Munaing Naim menjadi momen berkesan dan menyentuh secara pribadi.

    Kisah itu bermula dari sebuah pemberian sederhana berupa logam mulia.


    Hadiah untuk Guru Mengaji yang Telah Mengabdi

    Selama hampir empat tahun, BDM berupaya menghadirkan perhatian kepada guru-guru mengaji kampung.

    Kegiatan tersebut dilakukan melalui donasi dari masyarakat yang disebut sebagai “donasi cinta para orang baik”.


    Salah satu bentuk perhatian itu adalah memberikan hadiah logam mulia kepada guru mengaji yang dinilai telah lama mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di kampung.

    Bagi BDM, hadiah tersebut bukan sekadar benda bernilai ekonomi.


    Ada penghormatan terhadap pengabdian yang sering kali berlangsung dalam kesederhanaan, jauh dari sorotan dan penghargaan formal.

    Salah satu kegiatan tersebut kemudian membawa Munaing pada sebuah pertemuan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


    Seorang Senior Tiba-Tiba Berdiri

    Saat menceritakan kegiatan pemberian hadiah kepada salah seorang guru mengaji kampung yang telah lama mappangaji di wilayah Pangkajene beberapa tahun lalu, seorang senior yang hadir dalam diskusi tiba-tiba berdiri.


    Ia kemudian menyalami Munaing dan memperkenalkan dirinya.

    “Coba ingat saya, anaknya Pak Tahir,” ujar senior tersebut.


    Munaing kemudian mendengarkan cerita yang disampaikan sang senior tentang kedua orang tuanya di kampung.

    Di rumah orang tuanya, terdapat dua papan atau bingkai yang memiliki makna khusus.


    Salah satunya berkaitan dengan tempat pengajian Al-Qur’an atau TPA. Sementara satu bingkai lainnya justru menjadi benda yang selama ini membuat sang anak penasaran.

    Bingkai itu dipasang oleh orang tuanya di ruang tamu.


    “Kenapa Kita Pajang Ini?”

    Sang senior kemudian menceritakan percakapannya dengan orang tuanya.

    Ia pernah bertanya mengapa sebuah bingkai tersebut dipajang di ruang tamu.


    “Ma, kenapa kita pajang ini? Apa tidak takut nanti ada yang ambil?” tanyanya kepada sang ibu.

    Jawaban sang ibu ternyata sederhana.

    “Saya tidak tahu, Nak. Ini hadiah dari orang. Selama saya mappangaji, ada yang kasih hadiah logam mulia, Nak,” demikian cerita yang disampaikan sang senior.


    Jawaban tersebut justru membuat rasa penasaran semakin besar.

    Siapa orang yang memberikan hadiah tersebut?

    Mengapa hadiah itu diberikan?

    Dan apa maksud di balik pemberian tersebut?


    Pertanyaan itu tersimpan dalam ingatan sang anak selama bertahun-tahun.

    Hingga akhirnya, sebuah diskusi di Makassar mempertemukan potongan-potongan cerita tersebut.


    “Hari Ini Saya Menemukan Jawabannya”

    Setelah mendengarkan cerita Munaing tentang kegiatan BDM, sang senior akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini tersimpan.

    Pada bingkai tersebut, terdapat tulisan BDM.


    Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Munaing.

    “Hari ini, setelah mendengar cerita adinda, saya menemukan jawaban,” ungkapnya.


    Ia kemudian memperkenalkan dirinya sebagai anak dari guru mengaji yang pernah menerima hadiah tersebut.

    Menurutnya, orang tuanya bahkan sering bercerita tentang BDM ketika keluarga mereka berkumpul.


    Bahkan, menurut sang senior, orang tuanya terkadang menjadikan kegiatan BDM sebagai contoh ketika berbicara kepada anak-anaknya.

    “Terima kasih, Dinda, atas perhatian kepada guru mengaji kampung. Ini sangat bagus dan menginspirasi,” tuturnya.


    Bagi Munaing Naim, pertemuan tersebut menjadi lebih dari sekadar ucapan terima kasih.

    Ada perasaan haru karena sebuah kegiatan yang dilakukan dengan sederhana ternyata meninggalkan jejak dalam sebuah keluarga.


    Hadiah yang mungkin bagi pemberinya merupakan bagian kecil dari rangkaian kegiatan sosial, ternyata bagi penerimanya memiliki cerita yang bertahan hingga bertahun-tahun.


    BDM: Belajar Memperbaiki Diri Lewat Kepedulian

    Munaing mengatakan, BDM tidak pernah memosisikan kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang besar.

    Menurutnya, komunitas tersebut hanya berusaha memperbaiki diri melalui kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan secara konsisten.

    “Kami hanya berusaha memperbaiki diri lewat kegiatan ini. Alhamdulillah sudah memasuki tahun keempat.”


    Bagi BDM, perhatian kepada guru mengaji kampung juga memiliki tujuan spiritual.

    Selain memberikan penghargaan, mereka berharap mendapatkan doa dan barakka dari para guru mengaji yang telah mengabdikan hidupnya mengajarkan Al-Qur’an.


    Kegiatan itu juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda.

    Dalam sejumlah kegiatan, BDM menggandeng mahasiswa untuk terlibat sejak awal.


    Tujuannya sederhana: menumbuhkan kepedulian sosial sejak dini dan memperkenalkan bahwa berbuat baik tidak harus menunggu memiliki banyak hal.


    Menghargai Mereka yang Mengajarkan Al-Qur’an

    Guru mengaji kampung sering kali bekerja dalam kesunyian.

    Mereka mengajarkan huruf demi huruf Al-Qur’an kepada anak-anak, membimbing bacaan, memperkenalkan nilai-nilai agama, dan menjaga tradisi mengaji tetap hidup di tengah masyarakat.


    Tidak semuanya mendapatkan penghargaan formal.

    Tidak semuanya dikenal luas.

    Namun, pengabdian mereka tumbuh dari rumah-rumah sederhana, masjid, TPA, dan tempat-tempat pengajian di kampung.


    Karena itu, perhatian BDM kepada para guru mengaji menjadi bentuk penghormatan terhadap mereka yang ikut membangun fondasi keagamaan generasi muda.

    Dan kisah tentang bingkai bertuliskan BDM menunjukkan satu hal penting: kebaikan yang diberikan dengan tulus dapat meninggalkan jejak jauh lebih lama daripada yang dibayangkan pemberinya.


    Lima Fakta Menarik Kisah BDM dan Guru Mengaji Kampung

    1. BDM telah menjalankan kegiatan sosial hampir empat tahun.
    Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap secara konsisten memberikan perhatian kepada para guru mengaji kampung.

    2. Salah satu bentuk apresiasi berupa hadiah logam mulia.
    Pemberian tersebut berasal dari donasi masyarakat yang disebut sebagai “donasi cinta para orang baik untuk guru mengaji”.

    3. Ada keluarga penerima yang menyimpan hadiah tersebut.
    Hadiah logam mulia itu menjadi bagian dari sebuah bingkai yang dipasang orang tua penerima di ruang tamu rumah mereka.

    4. Identitas BDM baru diketahui sang anak bertahun-tahun kemudian.
    Pertemuan dalam diskusi ISA di Makassar membuat seorang anak guru mengaji akhirnya mengetahui siapa pihak yang memberikan hadiah kepada orang tuanya.

    5. BDM melibatkan mahasiswa dalam kegiatan sosial.
    Keterlibatan mahasiswa dimaksudkan untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan membangun kebiasaan berbagi sejak dini.


    Ketika Kebaikan Menemukan Jalannya Sendiri

    Tidak semua kebaikan langsung mendapatkan balasan.

    Kadang, sebuah bantuan diberikan lalu berlalu begitu saja.

    Kadang, nama pemberinya bahkan tidak lagi diingat.


    Tetapi kisah BDM dan keluarga guru mengaji tersebut memperlihatkan bahwa kebaikan dapat menemukan jalannya sendiri.

    Sebuah hadiah yang diberikan beberapa tahun lalu ternyata masih tersimpan. Sebuah nama yang mungkin hanya dikenal oleh sebagian orang ternyata melekat dalam ingatan sebuah keluarga.


    Dan yang paling indah, pertemuan itu terjadi secara tidak direncanakan.

    Munaing Naim menyebut kisah tersebut sebagai salah satu momen langkah dan berkesan secara pribadi.


    Dari sana, ia semakin melihat bahwa kegiatan sosial bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang nilai yang ditanamkan.

    Doa para guru mengaji, kepedulian para donatur, keterlibatan mahasiswa, dan konsistensi komunitas akhirnya bertemu dalam satu pesan sederhana: teruslah berbuat baik, meski tidak selalu diketahui siapa yang akan merasakan manfaatnya.


    Sebab, terkadang sebuah kebaikan tidak langsung kembali kepada kita.


    Ia bisa tumbuh diam-diam di hati seseorang, tersimpan dalam sebuah bingkai, diceritakan dalam sebuah keluarga, lalu bertahun-tahun kemudian kembali sebagai ucapan:

    “Terima kasih. Hari ini saya menemukan jawabannya.”

    Komentar

    Tampilkan