![]() |
| Maulid Nabi di Pondok Tahfidz Al-Hasyimiyah Pajalele Momentum Perkuat Syiar Islam |
SIDRAP — Suasana religius menyelimuti pelataran Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Hasyimiyah Pajalele, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kamis, 1 Oktober 2026.
Masyarakat Kelurahan Pajalele bersama sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh agama berkumpul dalam Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, sebuah momentum untuk mengenang sejarah kelahiran Rasulullah sekaligus memperkuat syiar agama di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, unsur keamanan, lembaga keagamaan, pesantren, dan masyarakat.
Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten I yang mewakili Bupati Sidrap, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag), Camat Tellu Limpoe, jajaran Kantor Urusan Agama (KUA), Polsek, Danramil, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta masyarakat Kelurahan Pajalele.
Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa peringatan Maulid Nabi memiliki ruang yang luas dalam kehidupan sosial masyarakat, bukan hanya sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antarelemen masyarakat.
Mengenang Kelahiran Nabi, Menghidupkan Keteladanan
Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Hasyimiyah Pajalele, H. Lukman Hasyim, S.Pd.I., MA, menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurut semangat kegiatan, peringatan Maulid Nabi diarahkan untuk mengingat kembali sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengambil nilai-nilai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, mengenang Rasulullah bukan hanya tentang mengetahui sejarah kelahirannya. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana akhlak, kepedulian, kejujuran, kasih sayang, dan keteguhan Rasulullah dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan umat.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Masyarakat tidak hanya membutuhkan kemajuan secara material, tetapi juga membutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kuat.
Hikmah Maulid: Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan
Hikmah Maulid disampaikan oleh Ust. KM. H. Usman Pateha, S.Ag., MA.
Penyampaian hikmah menjadi salah satu bagian utama kegiatan. Melalui momentum tersebut, jamaah diajak melihat kembali perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW serta nilai-nilai yang dapat diambil dari perjuangan beliau dalam membangun masyarakat.
Maulid kemudian tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai terpentingnya adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah dapat diwujudkan dalam perilaku nyata.
Keteladanan Rasulullah dapat menjadi pijakan dalam membangun keluarga yang harmonis, lingkungan yang saling menghargai, serta kehidupan bermasyarakat yang mengedepankan persaudaraan dan kepedulian.
Pesan Syiar untuk Generasi Muda
Peringatan Maulid Nabi di lingkungan pondok pesantren juga memiliki makna tersendiri bagi generasi muda.
Pesantren merupakan salah satu ruang penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan keagamaan, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak.
Melalui kegiatan seperti Maulid Nabi, generasi muda dapat diperkenalkan kembali pada sejarah perjuangan Rasulullah dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi, penguatan nilai agama dan keteladanan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Lima Fakta Menarik Maulid Nabi di Pajalele
1. Digelar di lingkungan pesantren tahfidz.
Peringatan Maulid Nabi berlangsung di pelataran Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Hasyimiyah Pajalele yang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
2. Melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Kegiatan dihadiri unsur pemerintah, Kemenag, kecamatan, KUA, kepolisian, TNI, MUI, serta masyarakat Kelurahan Pajalele.
3. Asisten I hadir mewakili Bupati Sidrap.
Kehadiran perwakilan pemerintah daerah menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan silaturahmi masyarakat.
4. Hikmah Maulid disampaikan tokoh agama.
Ust. KM. H. Usman Pateha, S.Ag., MA dipercaya menyampaikan hikmah Maulid dalam kegiatan tersebut.
5. Menggabungkan sejarah dan syiar agama.
Tujuan utama kegiatan adalah mengenang sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat syiar agama dan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan masyarakat.
Maulid sebagai Ruang Mempererat Silaturahmi
Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Maulid Nabi dapat menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial.
Ketika pemerintah, tokoh agama, aparat keamanan, pesantren, dan masyarakat duduk bersama dalam satu kegiatan, terbangun ruang komunikasi yang memperkuat rasa kebersamaan.
Nilai tersebut menjadi penting karena kehidupan masyarakat tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan program pemerintah, tetapi juga melalui hubungan sosial, kepedulian, dan semangat gotong royong.
Dari pelataran pesantren di Pajalele, pesan Maulid kembali menemukan relevansinya: mengenang Rasulullah berarti berusaha menghadirkan keteladanannya dalam kehidupan.
Menjadikan Cinta kepada Rasul sebagai Amal Nyata
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Al-Hasyimiyah Pajalele menjadi momentum untuk kembali mengingat perjalanan Rasulullah sekaligus memperkuat kecintaan umat kepada beliau.
Namun, kecintaan tersebut tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu diwujudkan melalui akhlak, kepedulian terhadap sesama, kejujuran dalam kehidupan, serta kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Dari Pajalele, semangat itu kembali dihidupkan: sejarah Nabi dikenang, syiar agama ditegakkan, silaturahmi diperkuat, dan keteladanan Rasulullah diharapkan terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
Selamat memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Semoga kecintaan kepada Rasulullah menjadi jalan untuk memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.















