![]() |
| Isi Libur Akhir Pekan dengan Aktivitas Positif, Gaspar Team Gelar Turnamen Silaturahim di Rappang |
RAPPANG, NARASIRAKYAT.ID — Lapangan Andi Cammi Rappang pada Minggu (4/10/2026) tidak sekadar menjadi tempat pertandingan sepak bola. Sejak pagi, lapangan tersebut berubah menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak, pelatih, dan orang tua yang ingin mengisi libur akhir pekan dengan aktivitas yang sehat dan penuh kebersamaan.
Melalui Turnamen Silaturahim, Gaspar Team mempertemukan sejumlah sekolah sepak bola (SSB) di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Bagi para pemain muda, pertandingan menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan setelah menjalani latihan rutin. Namun bagi para orang tua dan pelatih, kegiatan ini memiliki makna yang lebih luas.
Sepak bola menjadi pintu masuk untuk menanamkan disiplin, kerja sama, sportivitas, sekaligus membangun keberanian anak menghadapi situasi kompetitif.
Turnamen tersebut diikuti sejumlah SSB, yakni DSBR, SSB Arateng, SSB Lanrang, SSB Campaniang, SSB Persipas, dan SSB Gaspar.
Bukan Sekadar Mengejar Kemenangan
Pelatih Gaspar Team, Muh Furqan, S.Pd., M.Pd., mengatakan turnamen tersebut dirancang sebagai kegiatan positif bagi anak-anak sekaligus menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan sepak bola.
Menurutnya, sepak bola tidak hanya membutuhkan kemampuan individu. Pemain harus mampu berkomunikasi, memahami peran, menjaga disiplin, dan bekerja sama dengan rekan satu tim.
“Kami kira dengan adanya turnamen silaturahim untuk anak-anak, ini bisa menjadi kegiatan positif. Apalagi permainan ini membutuhkan kekompakan tim dan disiplin tinggi,” jelas Muh Furqan saat ditemui di Lapangan Andi Cammi Rappang.
Bagi pemain usia dini, pengalaman bertanding menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Mereka tidak hanya belajar dari latihan, tetapi juga memahami bagaimana menghadapi tekanan pertandingan, menerima keputusan wasit, menghargai lawan, dan tetap bermain secara sportif.
Karena itu, nilai sebuah turnamen usia dini tidak semata-mata diukur dari siapa yang menjadi juara.
Ada pengalaman, keberanian, persahabatan, dan karakter yang ikut tumbuh di tengah pertandingan.
Orang Tua: Daripada Sibuk dengan Ponsel
Apresiasi juga datang dari orang tua pemain, Suriyani.
Ia menilai turnamen seperti ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan kemampuan secara langsung sekaligus mengurangi waktu yang hanya dihabiskan dengan gawai.
“Jadi anak-anak tidak hanya latihan teori saja, tapi ada uji kemampuan di lapangan meski dalam bentuk turnamen silaturahim. Ini tentu sangat kami apresiasi. Setidaknya di hari libur anak-anak tidak hanya tinggal di rumah main ponsel saja,” ungkapnya.
Menurut Suriyani, kegiatan olahraga juga membuka ruang interaksi yang lebih luas. Anak-anak dapat bertemu dengan teman dari sekolah sepak bola lain, belajar berkomunikasi, dan membangun rasa percaya diri.
Bagi orang tua, hal tersebut menjadi nilai tambah yang tidak selalu dapat diperoleh hanya melalui latihan rutin.
Lapangan Menjadi Ruang Belajar Karakter
Turnamen Silaturahim Gaspar Team memperlihatkan bahwa lapangan sepak bola dapat menjadi ruang pendidikan informal bagi anak-anak.
Di sana mereka belajar bahwa kemenangan membutuhkan proses. Mereka juga belajar bahwa kekalahan bukan akhir dari perjalanan.
Ada saat ketika seorang pemain harus memberi umpan kepada rekannya. Ada momen ketika mereka harus menerima keputusan. Ada pula kesempatan untuk membantu teman yang jatuh dan kembali berdiri bersama-sama.
Nilai-nilai sederhana tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang tumbuh melalui pengalaman.
Dalam konteks pembinaan usia dini, kegiatan kompetitif yang dikemas secara positif dapat menjadi pengalaman berharga untuk membentuk mental pemain sebelum mereka memasuki level pertandingan yang lebih tinggi.
Enam SSB Bertemu, Silaturahim Menjadi Tujuan Utama
Kehadiran enam SSB dalam kegiatan tersebut juga menunjukkan adanya ruang kolaborasi antarkomunitas sepak bola di Sidrap.
DSBR, SSB Arateng, SSB Lanrang, SSB Campaniang, SSB Persipas, dan SSB Gaspar tidak hanya datang membawa tim untuk bertanding.
Mereka juga membawa anak-anak yang sedang berada dalam proses belajar menjadi pemain sepak bola.
Pertemuan seperti ini membuka peluang bagi para pelatih untuk saling bertukar pengalaman, sementara pemain memperoleh kesempatan mengenal teman-teman baru dari lingkungan sepak bola yang berbeda.
Pada akhirnya, semangat yang dibangun bukan hanya tentang siapa yang mencetak gol paling banyak, tetapi bagaimana sepak bola mampu mempertemukan banyak orang dalam suasana yang positif.
Lima Fakta Menarik Turnamen Silaturahim Gaspar Team
1. Digelar saat libur akhir pekan
Turnamen berlangsung pada Minggu, 4 Oktober 2026, sehingga menjadi salah satu pilihan aktivitas positif bagi anak-anak untuk mengisi waktu libur.
2. Mempertemukan enam SSB
Turnamen diikuti DSBR, SSB Arateng, SSB Lanrang, SSB Campaniang, SSB Persipas, dan SSB Gaspar.
3. Tidak hanya mengejar prestasi
Konsep “Turnamen Silaturahim” menempatkan kebersamaan, pengalaman bertanding, dan hubungan antarpemain sebagai bagian penting dari kegiatan.
4. Menjadi ruang pembentukan karakter
Sepak bola memberikan pengalaman kepada anak untuk belajar disiplin, kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan mental menghadapi pertandingan.
5. Mendapat dukungan orang tua
Orang tua pemain melihat kegiatan tersebut sebagai alternatif positif agar anak dapat menghabiskan waktu libur dengan olahraga dan interaksi sosial, bukan hanya bermain gawai.
Dari Lapangan, Tumbuh Mimpi Anak-Anak
Setiap anak yang berlari mengejar bola di Lapangan Andi Cammi Rappang mungkin memiliki mimpi yang berbeda.
Ada yang ingin menjadi pesepak bola profesional. Ada yang sekadar ingin bermain bersama teman. Ada pula yang mungkin belum tahu ke mana perjalanan mereka akan membawa.
Namun satu hal yang pasti, pengalaman yang mereka dapatkan hari itu akan menjadi bagian dari proses tumbuh mereka.
Turnamen Silaturahim Gaspar Team membuktikan bahwa kegiatan olahraga anak tidak harus selalu dimulai dari kompetisi besar. Dari lapangan sederhana, dari pertandingan antarsekolah sepak bola, dan dari dukungan orang tua, sebuah kebiasaan positif dapat dibangun.
Sebab, sebelum menjadi pemain hebat, seorang anak terlebih dahulu perlu belajar menjadi bagian dari tim, menghargai lawan, menerima kemenangan dan kekalahan, serta menikmati proses.
Dari sepak bola, mereka belajar bermain. Dari kebersamaan, mereka belajar menjadi manusia yang lebih baik.















