-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Titip Amanah hingga Tanah Suci, Jamaah Raodhatul Jannah Travel Wakafkan Al-Qur’an di Masjidil Haram

    Satry Polang
    Jumat, 02 Oktober 2026, Oktober 02, 2026 WIB Last Updated 2026-10-03T05:58:23Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

     

    Titip Amanah hingga Tanah Suci, Jamaah Raodhatul Jannah Travel Wakafkan Al-Qur’an di Masjidil Haram

    MEKKAH, 2 Oktober 2026 — Ada doa yang tidak berhenti ketika kaki menginjak Tanah Suci. Ada pula amanah yang sengaja dititipkan agar menjadi amal yang terus mengalir, bahkan setelah perjalanan ibadah selesai.

    Hal itulah yang dilakukan jamaah Raodhatul Jannah Travel. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, amanah para jamaah untuk mewakafkan Al-Qur’an telah ditunaikan di Masjidil Haram, Mekkah.


    Kabar tersebut disampaikan melalui video yang dibagikan dalam grup WhatsApp (WAG) jamaah oleh tim Raodhatul Jannah Travel.

    “Alhamdulillah amanah bapak ibu sekalian telah kami laksanakan yaitu wakaf Al-Qur’an di Masjidil Haram. Mudah-mudahan kita semua mendapatkan amal jariah yang pahalanya tidak terputus sampai hari kiamat,” demikian pesan yang disampaikan melalui video tersebut.


    Doa itu kemudian ditutup dengan harapan agar seluruh amal yang diniatkan jamaah diterima Allah SWT.


    Amanah yang Ditunaikan di Tanah Suci

    Bagi para jamaah, wakaf Al-Qur’an bukan sekadar memberikan sebuah mushaf. Di baliknya terdapat niat untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain sekaligus menjadi bagian dari amal jariyah.

    Al-Qur’an yang diwakafkan di tempat suci diharapkan dapat terus dibaca, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh jamaah maupun masyarakat yang berada di Masjidil Haram.


    Dengan demikian, ibadah tersebut memiliki dimensi sosial. Kebahagiaan menjalankan ibadah di Tanah Suci tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berangkat, tetapi juga diwujudkan melalui pemberian yang dapat dimanfaatkan orang lain.

    Kegiatan wakaf Al-Qur’an tersebut juga bukan kegiatan yang baru dilakukan. Tim Raodhatul Jannah Travel menyampaikan bahwa kegiatan serupa rutin dilakukan oleh para jamaah sebagai bagian dari rangkaian amal selama berada di Tanah Suci.


    Pimpinan Travel Apresiasi Amanah Jamaah

    Pimpinan Raodhatul Jannah Travel, Ust. Dr. H. Azhar Burhanuddin, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya amanah tersebut.

    Menurutnya, wakaf Al-Qur’an merupakan salah satu bentuk amal yang diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan.


    Ia berharap niat baik para jamaah mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT dan menjadi amal jariyah bagi mereka yang ikut menitipkan wakaf.

    Apresiasi juga disampaikan Ust. H. Asyraf Burhanuddin, pimpinan travel yang saat ini turut mendampingi jamaah di Tanah Suci.


    Kehadiran langsung pendamping jamaah dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan amanah yang dititipkan jamaah dapat dilaksanakan dengan baik.


    Jamaah Merasakan Kebahagiaan

    Bagi jamaah, kegiatan tersebut menjadi pengalaman tersendiri.

    Selain menjalankan rangkaian ibadah, mereka mendapatkan kesempatan untuk menitipkan amal di tempat yang memiliki nilai spiritual sangat tinggi bagi umat Islam.


    Kepuasan jamaah terhadap kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perjalanan ke Tanah Suci tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan pribadi untuk beribadah, tetapi juga sebagai kesempatan berbagi dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

    Ada rasa bahagia ketika sebuah amanah yang dibawa dari kampung halaman akhirnya dapat ditunaikan di hadapan tempat suci.


    Lebih dari Sekadar Perjalanan Ibadah

    Perjalanan umrah sering kali dikenang melalui momen doa di depan Ka’bah, thawaf, sa’i, atau ibadah lainnya.

    Namun, pengalaman seperti wakaf Al-Qur’an menghadirkan cerita berbeda.


    Ia menunjukkan bahwa perjalanan ibadah juga dapat menjadi ruang untuk menanam kebaikan yang manfaatnya diharapkan terus berlanjut.

    Dalam perspektif wakaf, keberlanjutan manfaat menjadi salah satu nilai penting. Ketika sebuah Al-Qur’an terus dibaca oleh orang lain, setiap bacaan yang dilakukan atas izin Allah diharapkan menjadi bagian dari pahala bagi pihak yang mewakafkannya.


    Karena itu, amanah yang ditunaikan Raodhatul Jannah Travel di Masjidil Haram memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar sebuah kegiatan seremonial.

    Ia adalah simbol kepedulian, keikhlasan, dan keinginan jamaah untuk meninggalkan jejak kebaikan.


    Lima Fakta Menarik Wakaf Al-Qur’an Jamaah Raodhatul Jannah Travel

    1. Amanah jamaah ditunaikan di Masjidil Haram.
    Wakaf Al-Qur’an yang dititipkan jamaah dilaksanakan di Masjidil Haram, Mekkah, pada Jumat, 2 Oktober 2026.

    2. Kegiatan dilakukan secara rutin.
    Menurut tim Raodhatul Jannah Travel, wakaf Al-Qur’an menjadi salah satu kegiatan yang rutin dilakukan para jamaah.

    3. Amanah disampaikan langsung kepada jamaah melalui video.
    Informasi pelaksanaan wakaf disampaikan melalui video yang dibagikan tim Raodhatul Jannah Travel di grup WhatsApp jamaah.

    4. Pimpinan travel memberikan apresiasi.
    Ust. Dr. H. Azhar Burhanuddin dan Ust. H. Asyraf Burhanuddin mengapresiasi terlaksananya amanah tersebut dan berharap menjadi amal jariyah bagi para jamaah.

    5. Jamaah menyambut kegiatan dengan rasa puas dan bahagia.
    Kegiatan tersebut menjadi pengalaman tambahan yang memperkaya perjalanan spiritual jamaah selama berada di Tanah Suci.


    Menanam Kebaikan di Tanah Suci

    Setiap perjalanan memiliki cerita. Tetapi tidak semua perjalanan meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain.

    Jamaah Raodhatul Jannah Travel memilih menjadikan sebagian perjalanan mereka sebagai kesempatan untuk berbagi melalui wakaf Al-Qur’an.


    Dari sebuah amanah sederhana, lahir harapan yang besar: agar mushaf yang diwakafkan terus dibaca, dipelajari, dan memberikan manfaat bagi umat.

    Semoga setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari aliran pahala bagi para pewakaf.


    Sebab, perjalanan ke Tanah Suci pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa jauh kaki melangkah, tetapi tentang kebaikan apa yang ditinggalkan setelah perjalanan itu selesai.

    Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

    Komentar

    Tampilkan